Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Hati-hati, Ya

"Hati-hati, ya!" Sepenggal kalimat yang kerap kita ucapkan kala berpisah dengan seseorang. Bisa teman, keluarga, atau siapa saja, bahkan orang yang baru kita kenal. Kata "hati-hati, ya!" sendiri memiliki makna keselamatan bagi orang yang kita tuju. Tentunya keselamatan perjalanan bagi orang yang baru saja berpisah dengan kita. Sepele, memang. Tapi ada makna yang sangat dalam di balik ucapan tersebut. Selain sebagai doa, ucapan tersebut bisa menjadi ekspresi akan adanya sebuah perhatian.

Seringkali kita mengucapkan kalimat tersebut secara otomatis. Kebiasaan itu seakan menjadi satu kewajiban ketika mengiringi kepergian seseorang, seperti apapun suasana hati yang sedang kita alami. Karena sudah menjadi kebiasaan, terkadang ucapan tersebut hanyalah basa-basi semata dan tidak terlalu memiliki makna yang dalam.

Meski terkesan hanya sebuah basa-basi, cara pengucapan yang berbeda terhadap orang yang berbeda memiliki kedalaman makna yang berbeda pula. Bisa saja kita menguc…

Al-Gomuk_Pinjam Penghapus

Gambar
Aksi PDKT berjalan runyam, karena jurus gombal yang diajari oleh Amet, si Mas Komikus kelewat lebay.

Hahahah...

Al-Gomuk_Pinjam Hati

Gambar
Ini dia si darbe, yang lagi PDKT sama seorang resepsionis di kantor tempat dia biasa dapet objekan. Cewek itu namanya Dani (Pramuwardani).

Ehem, kira2 Darbe berhasilkah PDKT dengan Dani?

Al-Gomuk-Kafein

Gambar
Nah, kan pas pertama udah sukses manasin air untuk ngopi, sekarang kopinya sudah jadi. Tapi kok, malah nolak?

Al-Gomuk_Biru Laut

Gambar
Setelah hampir setahun gak ketemu, Helen menyatakan perasaannya tiap kali ketemu Amet. Emang apa, sih, yang Helen rasain?

Al-Gomuk_Main Gitar

Gambar
Waktu itu Amet mencoba ngegombalin Helen dengan gitar. Tadinya pengen bikin lagu, tapi malah bingung bikin lagu apa.

Akhirnya, Amet teringat dengan Beethoven

Jakarta Dalam Ilustrasi dan Degradasi Budaya yang Melahirkan Budaya

Rabu malam kemarin (03/11) hampir jam tujuh malam, saya tiba di studio Maros, sebuah komunitas budaya rupa yang markasnya ada di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedatangan saya ke sana adalah sebagai peserta workshop 320C yang diadakan oleh Ruang Rupa, bekerja sama dengan sembilan komunitas yang tersebar di wilayah Jakarta. Workshop yang saya ikuti adalah ilustrasi, dan Maros ditunjuk sebagai fasilitator.

Di pertemuan pertama ini, Adikara selaku pemateri mempresentasikan sejarah drawing-ilustrasi dan kota Jakarta. Pertama-tama Adikara mempresentasikan tentang kota. Bagaimana kota itu dibangun, unsur-unsur di dalamnya, seperti masyarakat, infrastruktur, sampai teknologi. Meskipun bahasannya tidak sampai mendetil, tapi setidaknya sudah memberika gambaran yang sangat fundamental tetang konsep sebuah kota. Dan satu hal yang membuat saya nggak habis pikir, kenapa dalam materinya juga membahas tentang logika dan akal sehat?Lalu apa kaitannya kota dengan drawing-ilustrasi dan budaya bahk…