Hati-hati, Ya

"Hati-hati, ya!" Sepenggal kalimat yang kerap kita ucapkan kala berpisah dengan seseorang. Bisa teman, keluarga, atau siapa saja, bahkan orang yang baru kita kenal. Kata "hati-hati, ya!" sendiri memiliki makna keselamatan bagi orang yang kita tuju. Tentunya keselamatan perjalanan bagi orang yang baru saja berpisah dengan kita. Sepele, memang. Tapi ada makna yang sangat dalam di balik ucapan tersebut. Selain sebagai doa, ucapan tersebut bisa menjadi ekspresi akan adanya sebuah perhatian.

Seringkali kita mengucapkan kalimat tersebut secara otomatis. Kebiasaan itu seakan menjadi satu kewajiban ketika mengiringi kepergian seseorang, seperti apapun suasana hati yang sedang kita alami. Karena sudah menjadi kebiasaan, terkadang ucapan tersebut hanyalah basa-basi semata dan tidak terlalu memiliki makna yang dalam.

Meski terkesan hanya sebuah basa-basi, cara pengucapan yang berbeda terhadap orang yang berbeda memiliki kedalaman makna yang berbeda pula. Bisa saja kita mengucakpan "hati-hati, ya" dengan nada datar pada tetangga yang pamit untuk pergi arisan atau pada debt collector langganan sebagai basa-basi. Tapi tidak bagi orang yang, ehem-ehem, spesial untuk kita. Bisa jadi intonasi yang digunakan menjadi lebih lembut, halus, ataupun mengalun dengan sangat indah dan diiringi serpihan bunga yang turun dari langit (lebay). Atau diiringi dengan senyum yang kadang dipaksakan supaya kelihatan lebih ganteng atau cantik. Kalimat "hati-hati, ya"-nya pasti lah bukan basa-basi semata, melainkan ada harapan untuk bertemu lagi.

Selain dengan intonasi dan ekspresi, untuk menunjukan kedalaman makna juga bisa ditunjukan dengan kontak fisik. Seperti menyentuh pundak atau pun lengan sebelum berpisah (berlaku untuk orang yang sudah kenal dekat). Atau kalo nggak berani nyentuh tasnya aja, yang penting ada usaha untuk melakukan kontak. Nah, kontak fisik ini jangan diartikan sebagai pelecehan atau kesempatan untuk megang-megang, tapi sebagai ekspresi yang ditunjukan sebagai sinyal untuk kedekatan lebih lanjut. Kadang manusia ingin merasa intim dengan seseorang tapi tidak dengan lainnya. Tapi bila tidak berhasil melakukan kontak fisik tidak mengapa, karena perhatian itu tidak perlu dipaksakan.

Begitulah. Dari sepenggal kalimat yang awalnya berfungsi sebagai ucapan perpisahan dan menjadi sebuah kebiasaan, hingga mengalami pendalaman makna sebagai hasrat untuk menjalin keakraban. Perhatian kecil yang seakan hanya basa-basi, bisa menjadi nilai lebih dan memiliki efek positif, baik bagi yang mengucapkannya maupun orang yang dituju. Bagi yang orang yang dituju, ucapan tersebut bukan sekadar doa. Lebih dari itu, bisa menjadi sebuah penghargaan yang akhirnya memperkuat rasa saling menghormati. Bagi yang mengucapkan, selain membangun keakraban juga membiasakan diri untuk menghargai sesama dan mau untuk saling berbagi, meskipun dengan sepenggal kalimat sangat sederhana. "Hati-hati, ya!".

21 Nov 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli