Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

GAYA BAHASA dan BRAND AWARRENESS

Gambar
Ada hal menggelikan yang saya lihat ketika berada di Labrin Komik, salah satu rangkaian acara “Readalicious: When There's Not Just A Book for Us to Read”, acara tahunannya anak-anak FE Atma Jaya. Jadi begini ceritanya:

Di salah satu sudut labirin yang memajang Komik Ngeselin-nya Tomas Soejakto, ada seorang cewek (sama seorang cowok juga) ketawa-ketiwi gak keruan membaca salah satu dialog di Komik Ngeselin. Si cewek ketawa karena ngerasa bingung plus lucu dengan gaya bahasa pada komik tersebut. Perlu waktu beberapa saat bagi cewek itu untuk mencerna maksud dari dialog tersebut. Isi dialognya begini:

“Wah, sori, Jak! Nggak bisa! Ogut mau JALSKI SAMSKI NILAMSKI”, “Hei, Met! CABS yuk!”, “Ngomong-ngomong, Met...DOSKI UDSKI CABSKI, tuh!”

Coba, deh, perhatiin tulisan yang dicetak kapital. Entah itu bahasa apa? Terdengar aneh dan, jijay. Namun kata-kata itulah yang membuat si cewek ketawa cekikikan, bingung, hingga akhirnya ia paham maksudnya setelah dibaca beberapa kali.

Gaya bahasa sep…

Komik dan Bauran Pemasaran

Alkisah, ada dua orang komikus kawakan yang sudah puluhan tahun malang-melintanang di scene komik Indonesia, sama-sama mengeluhkan kalau komik mereka tidak bisa dinikmati oleh banyak orang (begitupun dengan pembaca yang merasa kesulitan mendapatkan komik dari komikus idamannya). Komikus pertama mengeluhkan komiknya tidak bisa dinikmati banyak orang karena harga jualnya terlalu tinggi, sedangkan komikus satunya lagi merasa kalau distribusi komiknya kurang bagus. Padahal mereka berdua adalah komikus ternama yang punya penggemar dan pasar sendiri dan kemampuan ngomiknya tidak diragukan lagi.

Meski kedua komikus tersebut punya pasar dan pembaca tersendiri, jangan lupa bahwa komik (dalam konteks tulisan ini) termasuk ke dalam barang industri. Dan dalam “siklus hidupnya” sebagai barang industri, kita tidak bisa lepas dari apa yang namanya bauran pemasaran atau marketing mix yang melingkupi 4P: product (produk), price (harga), place (tempat/distribusi), promotion (promosi). Nah, keempat “P” …

Aku Rindu Disaat Kau Pergi

'Drt, drttt... Drt, drtt... Sudah lima kali hape-ku bergetar sejak sejam yang lalu; dari orang yang sama. Keruan saja langsung kusilent hape-ku.Kalau Sekali lagi ia menghubungiku, akan kuangkat dan kuomeli dia untuk pertama dan terakhir kali dan aku berjanji nggak akan menerima panggilan lagi darinya. Akan langsung kuhapus SMS yang masuk darinya.

Kulanjutkan lagi pekerjaanku yang menumpuk. Sudah sejam lagi berlalu, dan ternyata ia tak menghubungiku. Syukurlah. Aku sudah bosan dengan semua perhatiannya yang menurutku berlebihan. Tiap pagi selalu mengirimi SMS “selamat bekerja”, “semangat selalu”, atau “keep smiling”. Belum lagi kalau waktunya lunch, sederet SMS yang isinya seperti susu nutrisi untuk anak balita yang susah makan. Dikiranya aku anak kecil, apa, yang tiap kali mesti dinasihati sebelum melakukan sesuatu. Memangnya siapa dia? Bapakku bukan, kakak juga bukan, apalagi pacar. Mau sok-sokan mengatur hidupku.

“Ver” panggil Mbak Tita. “Yuk, kita lunch. 'Udah jam setengah …

Main Layangan dan Tarik-Ulur

Sore itu di halaman Aksam saya memperhatikan kawan saya sedang bersusah payah menaikkan layangan. Saya perhatikan, dia nggak pernah sukses menaikkan layangan. Memang apa susahnya, sih, naikin layangan. Walau kelihatan gampang, ternyata nggak mudah menaikkan layangan. Setidaknya ada dua proses penting yang mesti dikuasai supaya bisa menaikkan layangan; 1). Pemetaan arah mata angin, dan 2). Tarik-ulur. Nah, tarik-ulur ini, nih, bagian paling sulit dalam bermain layangan.


Sejenak mengalihkan pandangan dari layangan yang tak berhasil dinaikkan oleh teman saya, iseng-iseng saya menganalogikan “bermain layangan” bagai sebuah “hubungan”. Plis, deh, kurang kerjaan banget, sih, nyangkut-pautin layangan sama begituan (f-,-).


Eh, bener, lo. Main layangan ‘tuh, kaya sedang menjalani sebuah hubungan. Dalam menjalin atau membangun sebuah hubungan, kadang seseorang harus melakukan berbagai cara dan usaha supaya hubungan bisa berjalan dengan mulus. Bisa dengan cara pedekate, curi-curi pandang, sampai …

Komik Bukan (Cuma) Bacaan Anak-anak

Beberapa minggu lalu ketika terlibat obrolan di kantin CCF bersama teman-teman komikus, salah satu dari mereka mengeluhkan dan tidak setuju kalau komik dipersepsikan sebagai bacaan untuk anak-anak saja. Ia pun menambahkan, orang yang bilangkalau komik itu hanyalah bacaan untuk anak-anak, peri saja ke neraka XD. bahkan dia menambahkan, kalau ia tuhan ia akan memerintahkan umat manusia untuk membaca komik.



Terlepasa dari guyonan tersbut, pikiran saya kembali terusik dengan pandangan orang dewasa yang (masih) menganggap komik bacaan untuk anak-anak. Tidak adil rasanya menjudge seperti itu. Karena bagaimanapun, komik adalah sebuah media, sama seperti media-medai lainnya seperti film, musik, drama, ataupun lukisan.



Pendapat bahwa komik (hanya) bacaan untuk anak-anak jelas-jelas salah. Bukankah banyak komik-komik dengan konten-konten "dewasa". Dan tak sedikit pula komik yang menampilkan adegan seks atau kekerasan (hal yang sangat jelas bukan untuk komsumsi an…