Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Si Mata Bulan Sabit

Sudah hampir jam 3 pagi, dan mataku masih terjaga. Kubuka surat elektronik dan kucari namanya, nama yang sembilan bulan lalu sering memenuhi kotak masuk pesan ponselku. Aku masih ingat, ia pernah mengirimkan sebuah cerita pendek padaku yang menceritakan tentang pasangan suami istri yang mengalami 'perang dingin'. Keegoisan salah satu pihak yang berujung penyesalan ketika salah satu dari mereka pergi untuk selamanya. Pergi untuk selamanya? Bukankah setiap manusia akan begitu. Namun yang tak kalah menyakitkan adalah kepergian seseorang untuk waktu yang sangat lama.

Kembali aku teringat ketika aku masih dekat dengannya, wanita sang pengirim cerpen. Bukan, aku bukan ingin membicarakan cerpen buatannya, tapi bagaimana dulu kami menjalin kedekatan yang setelah kupikir-pikir ternyata semu.

Pertama kulihat ia adalah di sebuah acara bazar komunitas yang diadakan di sebuah mal di kawasan Sudirman. Dari kejauhan aku melihatnya, dan adalah hal sepele yang membuat pikiranku tak beranjak sa…

Otak dan Rok Mini

Gambar
Belakangan ini, nama Foke sang Gubernur DKI Jakarta sedang “naik daun” karena kata-kata "rok mini" yang ia gelontorkan terkait kasus pemerkosaan yang menimpa seorang mahasiswi dan karyawati awal September lalu. Istilah "rok mini" yang merujuk sebagai pemicu utama tindak pemerkosaan, tentu menuai protes keras dari banyak pihak, terutama kaum perempuan yang menjadi korban. Rok mini bukanlah penyebab utama tindak pemerkosaan dan jangan dijadikan kambing hitam. Sebab masalah kekerasan seksual yang terjadi adalah masalah kontrol seseorang dalam dirinya terhadap orang lain (ini pernyataan seorang teman).
Bicara soal rok mini, baru-baru ini saya menghadiri sebuah pameran seni yang dikemas dengan berbagai hiburan maupun kuis. Satu dari dua pembawa acaranya, seorang perempuan yang tidak bisa ditolak kemolekan tubuhnya, dengan kaos cukup ketat dan membuat payudaranya agak menyembul keluar, serta dua lapis rok; bagian dalamnya rok mini dan luarnya rok transparan pendeknya beb…

Menangkap Pesan Tersembunyi

Pagi ini saya bangun jam setengah 4 (hebat!) karena malamnya saya sudah tidur sejak jam 12. Kemudian sambil ngetik-ngetik, saya mendenagrkan streaming Trijaya FM di http://www.trijayaradio.com/player/audio, sesi bincang-bincang bernama Mutiara Pagi; The Power of Life yang kebetulan sedang membahas tentang "Pesan Tersembunyi".

Fauzai Rahmanto, sebagai nara sumber, menceritakan kalau banyak kejadian kecil dalam hidup kita yang tak kita duga, bahkan tak pernah kita harapkan, justru menjadi cikal bakal terjadinya sesuatu yang lebih besar. Dan "kejadian-kejadian kecil" tersebut biasanya merupakan pertanda akan sesuatu yang tidak melulu kita sadari Contoh kecil pertanda seperti ketika badan kita merasa tidak demam atau flu, misalnya, merupakan pertanda ada yang tidak beres dengan tubuh kita. Ia juga menceritakan pengalamannya yang gagal menjadi dosen, namun sukses menjalani karirnya di dunia profesional. Keinginannya menjadi dosen selepas kuliah selalu gagal hingga akhir…

Horor Masa Remaja (bag.2)

Tahun 2001 aku tinggal di Cileungsi, sebuah kecamatan yang terletak ke arah timur laut dari kota Bogor. Disini aku tinggal bersama bapak, adik kandungku MJ, dan ibu tiriku beserta N. Selama di Cileungsi kami berpindah sebanyak 2 kali.Dan ada satu orang yang tinggal bersama kami, ia salah satu penjaga tokonya ibu. Dan kelakuannya, sedikitpun tidak 


Disini, N sudah kelas 6 SD dan MJ baru masuk TK. Meski tiga tahun berlalu sejak aku mondok, aku tidak melihat ada perubahan yang signifikan pada diri N. Ia masih berperilaku sebagai anak emas, walau kuakui, ia kini sudah agak mendingan ketimbang dulu. Dan seiring berjalannya waktu, entah mengapa aku bisa menyayangi N sebagai adik, karena sama seperti aku dan MJ, ternyata N juga menjadi "korban" kekerasan ibunya sendiri.


***

Seperti yang sudah diceritakan di bagian sebelumnya, masa itu saya hidup di dalam kecurigaan, ketakutan, rasa rendah diri, tidak betul-betul merasakan fungsi rumah sebagai tempat berlindung secara psikologis. Apapu…

Horor Masa Remaja

Setiap orang, siapapun dia, pasti memiliki masa lalu. Dan masa lalunya itu kerap diceritakan kepada orang lain, entah teman, saudara, atau bahkan membaginya di situs blog. Ya, bercerita adalah salah satu kebutuhan manusia, kebutuhan untuk didengar. Bukan hanya didengar, sebagain mengharapkan sanjungan manakala kisahnya patut dibanggakan. Tapi tidak semua kisah bisa dibanggakan. Ada kisah hidup yang sengaja dirahasiakan, bahkan dikubur dalam-dalam oleh seseorang; pengalaman buruk yang traumatik.

Tapi menceritakan pengalaman traumatik di sebuah blog dibutuhkan keberanian. Dan keberanian itu menjadi niat yang sangat mulia ketika kisahnya sengaja ditulis agar orang-orang tidak mengalaminya. Seperti yang dilakukan seorang teman yang menceritakan pengalaman masa kanaknya yang suram di blog pribadinya. Ia berharap kisahnya itu menjadi semacam pencegahan ataupun penyadaran agar apa yang pernah dialaminya tidak terjadi pada siapapun. Seperti teman saya, saya juga memiliki pengalaman yang bisa d…

3 Kabupaten 4 Kota 5 Kecamatan 1 Persahabatan

Gambar
Beberapa hari sebelum Lebaran, saya dan beberapa teman SMA janjian untuk ketemu. Selain silaturahmi karena tidak pernah bertemu sejak kami lulus SMA tahun 2004, ketemuan ini sekaligus reunian kecil-kecilan. Kami janji ketemuan hari Sabtu (3/9) jam sepuluh pagi di salah satu rumah teman nongkrong di desa Babakan Raden, kecamatan Cariu. Tapi karena masih ada sisa begadang, saya berangkat agak telat.

Sebagai orang yang pernah bersekolah di daerah Jonggol dan tinggal di Cielungsi, kedatangan saya ke Cariu bagai sebuah nostalgia semasa SMA. Dan nostalgia ini saya gunakan sebagai salah satu penyegaran dari rutinitas pekerjaan yang sebagian besar saya lakukan di Jakarta. Betapa tidak, perjalanan yang jaraknya kira-kira hampir 2 kali perjalanan ke Jakarta, setengah perjalanan saya lalui di atas jalanan beraspal yang dikedua sisinya dihampari oleh sawah dan perbukian sebagai latar belakang. Semakin ke Timur, ke arah Cariu, suasana persawahan makin terasa dengan kehadiran beberapa ekor ternak …

Aku dan Anak Kecil

Kamis sore kemarin (1/9), saya berkunjung ke rumah pak'lik saya di Citayam. Silaturahmi, sudah lama tidak bertemu dengan pak'lik dan keluarga. Asing. Itu salah satu perasaan yang kudapatkan. Bukan mereka asing dengan saya, melainkan saya merasa asing karena saya baru sadar, ada dua anggota keluarga baru disana. Seorang bayi, anak pertamanya sepupu saya yang perempuan, dan bocah perempuan berumur 3-4 tahun yang ternyata anak terakhirnya Pak'lik.

Sambil ngobrol dengan sepupu saya lainnya, (anak kedunya Pak'lik) kami ngobrol seru. Seputar literatur, sosial, hingga dunia kampus. Saya tidak menyangka bisa membuat obrolan yang menyenangkan dengannya, karena seingat saya sewaktu kami kecil, kami berdua lebih sering main berantem-beranteman dan saya selalu berada di pihak yang tertindas. 
Tak terasa sore makin padam dan adik terkecil sepupu saya, yang berumur 3 tahun itu dan dipangigl Fida, dari tadi mondar-mandir dan "mengganggu" percakapan kami. Sesekali ia kelua…