Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Pemerintah, Muhamadiyah dan Opini Publik; Beda Jangan Diusik

Sejak kemarin, (Senin 29 Agustus), di timeline twitter tak henti-hentinya saya mendengar kicauan para twips yang mempertanyakan hari apa Lebaran, Selasa atau Rabu? Bukan hanya pengguna akun pribadi, beberapa media massa juga memperbaharui beritanya mengenai kapan jatuhnya Lebaran yang diambil dari berbagai sumber. Dari screening yang saya lakukan, baik menyimak twit dari para pengguna pribadi maupun media, mereka memperdebatkan mengapa antara pemerintah dan Muhamadiyah memiliki perbedaan pandangan dalam menentukan jatuhnya Idul Fitri. Bukan itu saja, saya juga lihat selintingan ada yang mengaitkannya dengan Ahmadiyah. Yang terjadi selanjutnya (masih mengikuti timeline twitter serta membuka tautan-tautan yang diposting oleh media), pihak Muhamadiyah tetap dengan pilihannya, yaitu berlebaran pada hari Selasa (30/8), sedangkan pemrintah menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Rabu(31/8).

 Namun yang menarik bagi saya bukanlah soal perbedaan antara Muhamadiyah dengan pemerintah atau perd…

MANDI UJAN YA, BUN?

(Cerpen/Kisah ini fiktif belaka)

Sore itu hujan turun dengan derasnya, membasahi semua atap rumah, pohon, tiang listrik, dan jalan-jalan. Aku terdiam di balik jendela ruang tamu menyaksikan hujan pertama setelah hampir tiga minggu tidak turun hujan lagi. Akhirnya, aku bisa merasakan sedikit kesejukan di tengah cuaca yang panas dan membuat sekitarku berada terasa kering.

Sambil memandangi halaman rumah kami yang cukup luas, tiba-tiba aku teringat masa kecilku dulu. Aku, kakakku, dan beberapa teman se-gang sangat senang bila hujan deras datang. Itu artinya kami semua bisa mandi hujan! Aku dan kakakku selalu menjadi orang pertama yang nyamperin dan mengajak teman-teman untuk mandi hujan. Kalau sudah begitu, gerombolan geng mandi hujan bisa berjumlah 5-10 orang!

Biasanya kami mengelilingi gang-gang dalam satu RW, lanjut ke lapangan voli di dekat kantor RW, dan sesekali nyemplung ke selokan besar di sisi lapangan voli lalu bermain perosotan karena selokannya cukup landai. Hihihihi…

Anak Markir Orang Tua Mangkir; Anak Adalah Cerminan Orang Tua

Kamis malam (27/8), hampir jam 12 malam, saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Seperti biasanya, saya lewat jalan baru (Jl. Juanda) yang menghubungkan Jl. Raya Margonda (Depok) dengan Jl. Raya Jakarta-Bogor (Jakarta). Ketika memutar di putaran “resmi” di ujung jalan yang menanjak, saya melihat sekitar 3-4 anak laki-laki yang saya taksir masih SD. Keberadaan mereka di situ sebagai “Pak Ogah” (polisi cepe') yang biasa mengatur kendaraan-kendaraan yang hendak memutar sehingga lalu lintas tertib dan berjalan lancar. Namun yang terjadi sebaliknya. Salah satu anak yang sedang berdiri memarkirkan mobil tepat di sebelah depan saya, tampak diam mematung dan menghalangi jalannya sepeda motor saya. Kalau saya paksakan maju, keselamatan anak itu jadi taruhannya, tapi kalau saya tetap diam di tempat maka saya tidak akan dapat giliran jalan danmenghambat kendaraan di belakang saya. Akhirnya, setelah dengan sabar menunggu anak itu memarkirkan mobil di sebelah depan saya, saya pun lang…

Disetiapku

Setiap malam aku melewati jalan pulang yang sama,
sama seperti jalan menuju rumahmu
Setiap kulewati sisi jalan itu aku merasakan ada hadirmu
Saat itu juga aku sadar kalau kamu tak di belakangku

Setiap hari aku melewati jalan yang sama,
jalan dimana aku bisa menjemputmu
Setiap kulewati sisi jalan itu aku melihat bayangmu
Sedang berdiri menanti sambil memainkan ponsel

Setiap ada kesempatan, di setiapku seolah ada dirimu
Di sendok makan, cangkir kopi, atau sabun mandi, bahkan pada layar penunjuk waktu

Disetiapku ada kamu yang mengintili
Masih saja ada, seolah mengawasi
Seolah selalu menemani

Depok, 26 Agustus 2011
05:47

Setan Adalah Manusia itu Sendiri

Sejak saya kecil, persisnya di pengajian, saya sering mendengar dari guru ngaji bahwa ketika bulan Ramadhan, alias bulan puasa, setan-setan dikurung di neraka agar tidak menggoda manusia. Dan hingga kini ajaran seperti itu juga masih sering tersiar, melalui ceramah-ceramah, misalnya. Saat itu, ajaran bahwa setan dikurung selama bulan Ramadhan tentu saja saya terima bulat-bulat, setidaknya kata “setan” sewaktu saya kecil merujuk pada makhluk ghaib yang sering muncul di televisi, nongkrongnya di pohon-pohon atau pun tempat gelap dan suka mengganggu manusia. Saya pun merasa tenang ketika bulan Ramadhan tiba dan tidak perlu takut ada “setan” saat melintasi tempat gelap. Tapi sekarang, setelah saya sudah cukup besar untuk memikirkan hal-hal ghaib, muncul satu pertanyaan besar: “Benarkah setan dikurung di neraka selama bulan Ramadhan? Kalau iya, mengapa banyak orang tetap berbuat maksiat atau kejahatan?”

Akhirnya, saya tidak setuju (sepenuhnya) dengan ajaran yang saya terima sejak kecil d…