Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

DANGDUT ala RHOMA IRAMA ; MUSIK SASTRAWI YANG SARAT AKAN DAKWAH

Gambar
Sejak kecil saya sudah mendengar musik dangdut karena musik dangdut ada di mana-mana; pasar, terminal, warung-warung, atau di pinggir jalan. Meski begitu tidak serta merta saya menjadi penikmat musik dangdut karena (saat itu) bagi saya musik dangdut tak lebih dari musik ratapan orang yang putus bercinta sekaligus musik yang identik dengan goyangan erotis. Karena citra tersebut saya selalu menghindari musik dangdut hingga terkesan “anti dangdut”.

Meski begitu saya tidak benar-benar memusuhi musik dangdut karena ada jenis musik dangdut yang masih bisa saya nikmati seperti musik dangdut yang dibawakan oleh Rhoma Irama, alias sang Raja Dangdut. Buat saya musik dangdut yang dibawakan Rhoma Irama (bersama soneta) benar-benar memenuhi unsur artistik komposisi sebuah lagu, baik lirik maupun musik. Dari segi lirik lagu milik Rhoma Irama memiliki unsur sastra yang cukup kental, seperti penggunaan rima A-A-A-A maupun A-B-A-B layaknya pantun, juga menggunakan bahasa-bahasa yang indah dan terkad…

SURGA DI TELAPAK KAKIMU

Ada satu lagu dari Gita Gutawa yang ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis. Judul lagunya sama seperti judul tulisan ini; “surga ditelapak kakimu”. Sebuah lagu yang menggambarkan kemuliaan seorang ibu. Sosok yang selalu memaafkan, sabar dan tak pernah lelah menyayangi kita. Betapa mulia sosok ibu sampai-sampai di lagu itu disebutkan :
“hanya lewat restumu terbuka pintu ke surga”.

Ibu memang sosok yang layak mendapat berbagai kemuliaan, baik dari anak maupun suaminya. Ibu (perempuan), dengan keterbatasan fisiknya, ia malah dibebani kewajiban mengandung dan melahirkan. Dan dengan keterbatasan fisik jualah seorang ibu harus merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Mengapa demikian? Karena seorang ibu/perempuan dibekali kelembutan dan kepekaan melebihi laki-laki.

Perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang kemampuannya akan terus bertambah seiring berjalannya usia. Dijaman sekarang terutama di kota-kota besar dimana status “ibu pekerja” adalah hal …

MENGAPA SAYA MENULIS

Menulis. Kegiatan yang menyenangkan bagi beberapa orang dan tidak menyenangkan bagi sebagian lainnya. Ada keasikan tersendiri yang saya dapatkan ketika menulis, salah satunya saya bebas mengunkapkan pendapat tanpa ada yang mendengar (kecuali kalau ada ayng bisa mendengar huruf-huruf itu berteriak). Sejak remaja, tepatnya ketika SMA saya sudah terbiasa menulis diary. Layaknya remaja pada umumnya, dimana kepribadiannya masih labil dan masih dalam proses pencarian jari diri, saya juga memiliki banyak unek-unek dan aspirasi yang kadang tidak bisa dimengerti dan dipenuhi oleh orang dewasa serta gejolak yang sangat membara. Sayangnya saat itu saya tidak punya cukup keberanian untuk menungkapkan segala isi hati. Sementara kepala mau pecah karena banyak yang ingin disampaikan, sedangkan lidah ini terasa kelu untuk berujar. Menulislah salah satu cara terampuh untuk menanggulangi itu semua.

Kebiasaan menulis itu terbawa hingga sekarang dan sedikit-sedikit terselip keinginan untuk menjadi seoran…

KOMIK dan NOVEL GRAFIS

Gambar
Malam ini saya ikut bersama Errie dan Beng kumpul-kumpul di komunitas curipandang.com di bilangan Jl. Ahmad Dahlan, Jaksel, yang kebetulan membahas tentang novel grafis. Kami bertiga tiba sekitar pukul delapan.

Karena sedikit ketinggalan, saya belum terlalu mencerna apa yang sedang dibicarakan, sampai akhirnya timbul pertanyan dari para hadirin mengenai perbedaan antara novel grafis dengan komik, lalu batasan apa saja pada sebuah karya hingga layak/bisa disebut sebagai novel grafis, dan mengapa ada istilah novel grafis?

Saya sempat memberi komentar ke hadirin, yang mudah-mudahn dimengerti. Meminjam istilah yang saya dapat dari Beng, saya bilang kalau komik ataupun novel grafis sebenarnya sama, karena mereka berdua lahir dari dua orang tua berbeda yaitu gambar dan narasi (story telling) yang melahirkan satu kesatuan. Masalah penamaan “komik” ataupun”novel grafis” pun lebih bersifat kontekstual. Kembali mengutip apa yang sebelumnya diungkapkan Beng, beliau menjelaskan bahwa Will Eisner…

Sketching bareng Lanting

Gambar
Minggu, 11 april 2010, saya mengikuti kegiatan sketching bareng anak-anak Lanting yang kebetulan sekarang lokasinya di Taman Suropati. Baru sekitar jam 2 siang saya melaju dari mampang (Akademi Samali) karena ada pekerjana yang mesti diselesaikan.

Wow, ternyata ramai sekali suasana hari Minggu di Taman Suropati. Banyak orang-orang berlatih musik (biola paling banyak), beberapa jalan-jalan dan menikmati liburan. Sambil menunggu, saya memperhatikan burung-burung dara yang berkumpul disatu tempat dekat dua orang gadis yang berlatih flute, disambangi anak-anak yang menegajr burung-burung tersebut. Kemudian saya mengambil buku gambar dan pulpen, lalu dimulaialah. Saya menggambar suasana anak-anak yang sedang berlatih biola dengan seorang instruktur berambut gimbal dan kulit sawo matang.

Tanpa terasa saya larut dalam sketsa yang dibut langsung dengan drawing pen dan marker. Tanpa pensil dan penghapus! Saya perhatikan seorang gadis berwajah Cina memperhatikan saya menggambar. Ya, kira-kira SM…