Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

Kepada, yts

Gambar
Judul : Kepada, yts Media : Tinta dan spidol di atas kertas Ukuran : A4
Karya ini saya buat segera setelah tadi malam menonton berita mengenai protes oleh FPI akan dicabutnya UU mengenai minuman keras. Protes dilakukan di dua kota, cuma lupa euy kota apa, hahaha...

Menunggu yang Tak Pasti

Gambar
Apa kamu pernah menunggu? Menunggu datangnya benda favoritmu yang sudah jauh hari dipesan, menunggu kedatangan seorang tamu, menunggu hari H janjian dengan temanmu, atau, menunggu jawaban?
Tak ada yang sebenarnya suka menunggu, karena menunggu dapat mengalihkan pikiran kita sepanjang hari. Apalagi, menunggu sesuatu yang tak pasti. Menungu jawaban yang masih tergantung. Berapa lama perhatianmu teralihkan? Sehari? Dua hari? Tiga minggu? Dua bulan? Ah, menunggu beberapa jam saja sudah mengacaukan konsentrasi.
Apa yang kau tunggu? Biarlah itu berlalu. Usah kau gapai dengan terburu-buru. Ada kalanya entah penantian yang meresahkan menjadi biasa dan tak lagi menggundah di dalam benak. Ada saatnya “sang Penantian” tak lagi kau tunggu.
Menunggu. Setidaknya, kau menyimpan rasa percaya atas sesuatu yang kau tunggu. Kau yakin ia akan memenuhi nantianmu, dan kau yakin ia tak'kan menyiakan kepercayaanmu, karena itu kau menunggunya.
Tak peduli berapa besar guncangan di dasar ketenanganmu saat menu…
Di Facebook gue bertemu dengan beberapa teman SMA yang bisa dibilang sudah 'putus hubungan' sejak gue ke Jakarta dan kembali ke rumah di Depok. Beberapa teman ada (banyak) yang sudah menikah, bahkan telah memiliki anak. Dan, ketika gue baru bertemu dengan mereka, kadang mereka bertanya, "lo 'udah kawin?"

Hm, mendaratnya pertanyaan semacam itu bagai sebuah bom atom. Kadang gue ngerasa "kerdil". Kok temen-temen gue 'udah pada kawin dan punya anak, sedangkan gue? Jangankan nikah, pacar aja nggak ada (hehehe...). Tapi setelah dipikir-pikir, memang selayaknya gue belum menikah. Bukan tanpa alasan gue merasa begitu.Alasan paling mendasar menurut gue adalah satu, "kehidupan ekonomi yang mapan."

Perempuan, dimanapun, tentu tidak mau menikah dengan laki-laki yang belum mapan secara ekonomi, apalagi pekerjannya tidak tetap. Gue contohnya. Membiayai diri aja bisa dibilang dalam tahap survive, bagaimana bisa membiayai orang lain? Bukan itu aja, pekerj…

Aku diam, bukan tak peduli

Sering kudiam ketika kau bicara. Bukan tak memedulikan, tapi aku tahu tak perlu
Untuk mendebat atau menangkis pendapatmu
Selama ini kau benar, walau pernah kau salah tapi itu bukan masalah

Sesekali aku melawan, dan ada saatnya aku bicara tegas
Walau tak sering memang, sebab aku tak pernah menginginkannya

Dalam diamku aku mencoba mengenalmu
Dalam diamku aku mencoba mencerna segala polahmu
Dalam diamku aku belajar untuk lebih bijaksana

Kadang aku salah kata, tapi aku sengaja tek membela
Aku hanya ingin menjadi "hitam" atau "putih" sekalian, bukan abu-abu
Menurutku itu lebih baik ketimbang selalu menghindar dan mencari-cari alasan di depanmu
Aku juga ingin kau tahu kalau aku bisa bilang "ya" atau "tidak"

Aku selalu mencoba berdamai
Meski kadang harus bungkam

Aku selalu mencari suasana teduh
Biarpun sebenarnya ada yang bergemuruh

Ya, aku hanya tak ingin ada perselisihan
Karena kau kutakuti
Aku takut akan ketidaknyaman
Aku takut akan kau beralih

Aku …

Meng-Galaw di Akhir Tahun

Gambar
Ternyata “galau” nggak cuma monopoli para ababil (abege labil) di seantero nusantara atau band yang ingin terlihat keren, tapi juga milik para seniman “Galaw” yang Selasa malam (27/12) berpameran di ruangrupa. Pameran berjudul “Apocalypse 2012 Mixtape” adalah pameran ketiganya Galaw.
Senada dengan tema “apokaliptik”, sebagian besar karya berbicara tentang Hari Akhir (Kiamat). Namun, meski istilah “Hari Akhir” terdengar suram, tidak semua karyanya menampilkan kesuraman. Beberapa karya bahkan nampak 'optimis', ceria bahkan beberapa tampil bak kartun editorial khas surat kabar dengan gaya humor-satir, sehingga pameran ini menayangkan karya-karya yang multitafsir . Disamping itu, beragamnya medium yang digunakan, teknik serta penataan karya yang tidak “itu-itu saja” –dibingkai dengan rapi–, menjadikan pameran Galaw ini menjadi menarik. Ya, selain dibingkai, beberapa karya ada yang ditempel secara penuh ditembok, dijepit pada benang dengan penjepit kertas bahkan ada yang hanya dite…