Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Televisi Sebagai Alat Kontrol Sosial dan Edukasi?

Melihat sinetron-sinetron di televisi makin lama makin aneh dan gak jelas. Akting yang dipaksakan, miskin ekspresi, setting membosankan, serta keragaman tema dalam cerita menjadikan sinetron tak layak tonton, setidaknya untuk orang-orang seperti saya.

Dulu, tahun 90-an, saya lihat sinetron-sinetron di televisi kualitasnya bagus dan layak tonton. Aktingnya pun lebih matang ketimbang sinetron-sinetron jaman sekarang.Dulu, sinetron hanya ditayangkan seminggu sekali sehingga dan sangat ditunggu oleh penonton. Frekuensi jam tayang yang lebih singkat memungkinkan aktris dan aktornya berakting dengan baik dan tidak kejar tayang. Penulis naskah pun dapat menyusun naskah dengan baik dan hasilnya enak ditonton. Tapi sekarang? Semua sinetron stripping. Jam tayangnya bukan hanya di prime time, dan kadang satu pemain sinteron melakukan stripping pada beberapa judul sinetron. Hasilnya? Ya, seperti yang disebut di atas : akting yang dipaksakan, miskin ekspresi, setting membosankan, serta tema yang s…

Positioning, Diferensiasi dan Value Dalam Komunitas

Komunitas dapat dipersepsikan sebagai wadah, tempat bernaung, sekumpulan orang-orang dengan visi-misi yang sama, atau juga geng penghobi dengan jenis hobi dan kegiatan yang sama, bukanlah hal yang asing di telinga anak muda. Apalagi mahasiswa yang tergolong aktif di kampusnya, besar kemungkinan punya komunitas juga di kampusnya.

Komunitas (baik di kampus atau di luar kampus) sangat beragam dan banyak jumlahnya. Mulai dari komunitas seni visual, hobi dan mainan, pemilik kendaraan dari merek tertentu, atau juga komunitas bisnis. Keberagaman ini bukan hanya muncul dari basis komunita yang berbeda. Ada juga komunitas yang, meskipun memilii basis yang sama, punya visi-misi berbeda. Sebut saja ada dua, bahkan tiga komunitas komik yang memiliki visi-misi berbeda. Perbedaan-perbedaan visi-misi ini bisa menjadi "nilai jual" komunitas tersebut.

Dalam hal "jual-menjual" --bukan jualan secara materi/transaksi keuangan-- bagi masing-masing komunitas, ada t…

Seni Adalah

Masih hangat dengan worskhop Jakarta 320C yang memajang karya-karya dari mahasiswa di Jakarta sebagai pesertanya. Berbagai macam karya yang dieksekusi pada beragam media, mengingatkan saya bahwa seni itu tidak terbatas pada media apa yang digunakan. Ditambah, karya-karya yang tematik (Bongkar Jakarta) menjadikan satu karya dengan karya lainnya saling memperkuat isi dari karya masing-masing sehingga tetap berjalan pada konteksnya. Tapi di luar konteks, media maupun tema, sebenarnya apa definisi dari "seni"?



Definisi seni bagi masing-masing orang bisa berbeda sartu sama lain, tergantung bagaimana pemahaman dan sejauh mana pengalaman masing-masing individu terhadap seni. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal estetika, teknik, media, makna, ataupun pesan yang ingin disampaikan. Dan, tanpa bermaksud mempersempit makna seni, saya mencoba melihat seni sebagai tiga hal. Yaitu seni sebagai : ekspresi, imajinasi dan refleksi.



Layaknya manusia yang memiliki gaya …