Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

GALAU TIDAK MELULU SOAL SOMEONE

Sudah hampir pukul 2 dini hari saat saya mulai mengetik ini. Mata masih enggan untuk terpejam.Bukan karena tidak mengantuk atau sulit terpejam akibat kafein. Seperti ada yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran; sejauh ini sudah sampai mana pencapaianku?
Hampir sebulan sejak usiaku genap 28 tahun. Laiknya lelaki kebanyakan di mata masyarakat, umur segitu masih terbilang “muda” dan masih banyak waktu untuk bersantai dan senang-senang. Bukan hanya pikiran lelaki saja, bahkan para perempuan pun mengamini paradigma seperti itu. Ya memang, tidak seperti perempuan yang secara alami akan mengalami fase menopause, dimana bertambahnya usia bisa menjadi hal yang sangat krusial –mengingat masa subur perempuan yang terbatas--, lelaki yang akan selalu ‘subur’ kadang mengabaikan bertambahnya usia. Saya pun mengalaminya, masa dimana hidup begitu santai dengan prinsip “serahkan pada hari esok” hingga tak sadar kalau hari esok telah terlampaui.
Seorang sahabat, perempuan, darinya saya selalu teringat a…

Siapa PHP Dia PHP

Beberapa teman perempuan curhat kepada saya soal teman-teman lelakinya yang suka sama mereka. Inti ceritanya sih sama, teman laki-laki teman perempuan saya suka sama mereka tapi teman perempuan saya tidak suka dengan para lelaki yang menyukainya, namun merasa bersalah karena dianggap PHP kepada teman-teman lelakinya karena teman perempuan saya memang baik dan ramah terhadap teman-teman lelakinya.

Sebagai salah satu 'korban' PHP saya pun mengerti, bukan perempuan yang PHP, namun laki-laki lah yang terlalu ge-er dan salah menafsirkan kebaikan perempuan sebagai rasa suka terhadap laki-laki. Kalau ada perempuan yang baik, ramah, supel, terbuka, perhatian dan peduli, itu memang sifat alami mereka sebagai (calon) ibu. Dimana dibutuhkan kepekaan dan sifat kasing sayang dan ngemong untuk bakal anaknya nanti. Sementara sifat lelaki sebagai makhluk "keras" cenderung melihat kasih sayang dan perhatian sebagai bentuk "imbal balik" atas kerasnya hidup yang mereka jalani…

Regenerasi Hati

Beberapa hari belakangan kulit di tangan kiri bagian dalam saya sedang bermasalah. Tanpa diketahui penyebab pastinya, tiba-tiba memerah, mengering dan gatal. Kata teman saya sih kemungkinan penyebabnya adalah gigitan serangga. Apapun, yang pasti gatal-gatal ini sangat menganggu sampai saya harus mengobatinya dengan Betadine secara rutin dan syukurlah, sekarang sebagian besar lukanya sudah mengering.
Sama sekali tak ada yang istimewa pada paparan saya di atas mengenai penyakit kulit yang kerap saya alami. “Sesuatu” justru saya dapatkan saat memperhatikan bagaimana kulit tubuh kita merespon dengan sangat baik dan meregenerasi dirinya sendiri pasca luka. Meski ada campur tangan pihak ketiga (Betadine), kemampuan kulit menyembuhkan dirinya sendiri tetaplah menakjubkan.
Dengan cerdasnya sang kulit melakukan pertahanan dengan mengeringkan dirinya sendiri, kemudian perlahan-lahan membuat dirinya kering, mati dan segera berganti dengan yang baru. Sakit memang selama proses penyembuhan dengan …

STOP MENYUMBANG!!!

Gambar
Yang menganggap saya “kikir”, “pelit”, “serakah”, atau tidak “punya hati” karena judul di atas, sebaiknya berhenti membaca sampai di sini saja. Namun sebaliknya bila Anda memiliki pendapat lain, silakan diteruskan membacanya.
Kemarin pagi saya berbelanja di mini market dekat tempat saya bekerja, dan saya memisahkan belanjaan saya dengan dua kali pembayaran, alias membuat dua bon terpisah. Pada belanjaan pertama sang kasir tidak memiliki kembalian seratus rupiah yang menjadi HAK saya dan menanyakan apakah mau saya sumbangkan? Tanpa mengiyakan tawaran sang kasir saya merogoh dompet khusus uang receh di tas saya dan memberikan uang receh dengan nilai tertentu sehingga saya tidak kehilangan uang kembalian saya. Lalu pada belanjaan kedua si kasir (masih) menawarkan saya untuk menyumbangkan sisa uang receh. Dan saya kembali merogoh dompet khusus uang receh di tas saya dan memberikan uang receh dengan nilai tertentu sehingga saya tidak kehilangan uang kembalian saya.
Saya MENOLAK UNTUK MENYUM…

Satu Setengah Tahun

Sud ah cukup lama sejak terakhir aku melukiskan perasaanku tentangnya, sepertinya satu setengah tahun telah berlalu. Namun mimpi-mimpi akan dia sering muncul kala kuterjaga di bawah malam, bahkan beberapa hari lalu ia masih mampir ke dalam mimpiku, meski, yaaa... dia tetap bersama pria itu.
Hari-hari terus berjalan, perlahan aku mulai membiasakan diri tanpanya: tanpa kehadiran, suara, bahkan pesan singkat. Kami telah putus hubungan dan dengan berbagai cara ia menolak untuk kembali berhubungan. Biarlah terjadi, nothing to lose kalau kata orang bule, dan aku selalu mencoba untuk tulus kehilangannya.
Hingga kini belum ada penggantinya, bahkan orang yang mirip dengannya. Hanya saja sering kutemui laku orang lain yang mengingatkanku padanya; sifatnya yang keras kepala dan tak mau mengalah ditambah sedikit pengertian seorang kakak dan ibu. Dan yang paling sering mengingatkanku padanya adalah perempuan-perempuan dengan rambut menggulung bak mi instan yang belum dimasak.
Tak ada lagi pelukan …