Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Pernikahan dan Mental

Sabtu lalu (15/9) saya menghadiri pernikahan paklik saya yang seumuran dengan saya. Dan seminggu sebelumya saya baru ingat kalau teman saya yang kira-kira nggak jauh umurnya juga melangsungkan pernikahannya. Tiba-tiba saya kepikiran, kapan saya nikah?

Pernikahan. Satu kata itu sekali-kali muncul dalam benak saya. Sebuah kata yang menyenangkan bila didengar, tapi bisa jadi "mengerikan" ketika membayangkannya. Berbeda dengan pacaran, menikah berarti melakukan kesepakatan "hidup-mati" dengan seseorang dan bukan saja menikahkan 2 kepala, namun juga 2 keluarga! Menikah juga tidak serta merta suka sama suka dan punya penghasilan lalu "grabag-grubug" ijab kabul dan resmi menjadi suami-istri.

Menikah berarti mempersatukan perbedaan yang ada dan menyelaraskan persamaan yang dimiliki masing-masing pasangan. Menikah berarti regenerasi, melanjutkan keturunan dan menjadikan keturunan yang lebih baik demi masa depan dan peradaban (beuuuhhh, berat). Menikah berarti tumb…

Jamaah Pengajian Sebagai Kontributor Kemudharatan

Kemarin malam (Senin, 17 Oktober) sepulang dari kantor, seperti biasa saya lewat Kemang  jalan pintas hingga Pejaten (arah saya ke Pasar Minggu). Ketika memasuki Kemang, saya melihat beberapa pemuda berpeci-sarung dan stik menyala yang biasa dipakai pemarkir, sedang memblokir jalan dan menutupnya dengan barikade setinggi pinggang. Terpaksa saya tidak bisa lewat karena mereka memberi kode dengan tangan bahwa jalur tersebut ditutup dan tidak bisa dilewati. Berbekal kemarahan dan kebencian yang mendadak datang, saya pun bersikukuh tetap melalui jalur tersebut meski harus memutar balik dan menempuh jarak agak jauh. Ternyata ada bekas pengajian dan saya lihat sederetan lapak baru saja dibereskan. Entah seberapa panjang barisan lapak itu berderet, yang pasti sepanjang jalan itu (masih) banyak orang-orang berpeci yang sesekali menghalangi jalan. Ya, pemandangan yang lumrah di Jakarta: sekelompok jamaah pengajian yang mengotori jalanan tempat bekas mereka mengaji.

Saya tak habis pikir, mengap…

Cinta Menahun Padanya

Kenapa gue ngasih judul yang roman-romannya cinta padahal sebenarnya gue mau nulis tentang kopi? Ya, kopi sudah menjadi bagian dari cinta gue, setidaknya 2 tahun belakangan ini walau gue udah suka ngopi sejak jaman SMA, kira-kira 10 tahun lalu. Saat itu, layaknya remaja yang suka nongkrong, kopi tuh cuma jadi minuman untuk nongkrong, dan kopi yang dipilih apalagi kalau bukan jenis kopi instant ala warung seperti Kapal Api, ABC Susu atau Indocafe Coffeemix. Selain murah-meriah, dapetinnya gampang dan cara penyajiannya cukup diseduh dengan air panas.

Tapi gaya ngopi seperti itu mulai berubah sejak gue gabung sama komunitas komik Akademi Samali. Anak-anak Aksam (Akademi Samali) adalah "kopikus" --minjem instilahnya Beng Rahadian di salah satu jurnalnya--, dan kebiasaan ngopi mereka jelas lebih berpengalaman dari gue. Dari mereka gue kenal terminologi dalam dunia perkopian: arabika, robusta, roasting, vietnam drip, dll. Intinya, pengetahun kopi gue nambah! (Kayaknya kebanyakan b…