Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Audimoslem: La dana & Kerbau

"Berteman dengan penjual minyak wangi, akan terciprat wangi; berteman dengan tukang pandai besi, akan terpercik api". Begitu kata orang dulu, yang menggambarkan pentingnya memutuskan untuk bergaul dengan siapa. Bergaul di sini bukan membatasi pergaulan hanya dengan satu kelompok tertentu, tapi lebih kepada kelompok dimana kita akan berjuang (ta'elah, bahasanya perjuangan banget).

Saya baru ngeh, kalau ternyata saya telat bergaul. Kenapa baru sekarang saya kenal dengan para pejuang di dunia komik padahal sudah beberapa tahun lalu saya sudah bermimpi pengin jadi komikus. Pengin jadi komikus tapi gak punya temen komikus? Wah, ribet banget dah, ibarat mau jadi pemain bola tapi gak pernah ikut main bola. Makanya saya sangat bersyukur jadi banyak kenalan dengan para pejuang komik. Bukan itu saja, saya juga kenal dengan beberapa rekan dari animasi (sodara deketnya komik) dan dunia seni visual lainnya. Intinya, relasi saya di dunia komik bertambah drastis!

Dari kenal satu-dua …
Gambar
Apakah salah pendangan Julia? Kalau salah tolong diberi tahu

Mahasiswa berfungsi sebagai pasukan garda depan dalams etiap gerakan menuju perubahan. Namun, pergerakan-pergerakan perubahan itu cenderung brutal dan kehilangan esensi.

Mahasiswa, sebagai perangkat perubahan yang terididk dan terpelajar, tidak emnunjukan keanggunannya sebagai masyarakat terpelajar. Ya, gak semuanya sih, hanya sebagian.

Lagian, apakah para pendemo tahu dan paham akan sesuatu yang (sebenarnya) sedang mereka bela?

Darbe;Sepak Hantam

Gambar
Terinpirasi dari insiden para bonek yang rusuh.

Nilai sportifitas dalam dunia persepakboaan (dan dunia lainnya) meluntur. Tak ada lagi akal sehat. MEreka menjadi brutal atas nama cinta terhadap tim pujaan, dengan harapan tim mereka menjadi besar dan tak terkalahkan, trapi justru merekalah yang menghancurkan tim pujaan mereka sendiri.

Selamat menunggu kehancuran, bila kalian tidak bisa mengubah sikap yang kalian banggakan
Gambar

Curhat Komik

Sekitar enam tahun yang lalu (2004) setelah lulus SMA dan kerja serta tinggal di jakarta, saya belum tahu mau jadi apa. Yang saya tahu hanyalah; saya suka menggambar dan nulis. Waktu terus berjalan, dan saya menemukan jawaban atas kebingungan ketika lulus. Ya, jawabannya adalah saya ingin menajdi komikus!

Gak semudah yang dibayangkan. Selain harus bisa menggambar dan bercerita, dibutuhkan pergaulan yang luas dan jaringan untuk mendukung terwujudnya mimpi jadi komikus. Jadilah, selama 5 tahun saya nggak tahu mesti ngapain. Rasanya males banget nulis cerita dan bikin komik karena gak tau mau diapain lagi 'tuh komik; gak ada motivasi. Namun rasa malas itu berubah setelah ikut workshop bersama Clement Baloup (Prancis) di CCF, bekerjasama dengan Akademi Samali. Segala rasa malas mulai dilawan dengan gairah dan amarah sama diri sendiri. Gairah untuk terus berkarya, dan rasa marah kenapa selama ini malas berkarya.

Mata saya dibukakan, bahkan dicolok! Saya melihat kreatifitas dari para ko…
Gambar

KOPI ADALAH SUGESTI

Sebagain besar dari kita mungkin mengkonsumsi kopi sebagai obat penghilang kantuk. Kopi emngandung kafein, yang sifatnya memacu jantung supaya berdetak lebih cepat, dan efeknya orang jadi lebih semangat buat kerja lagi (maksa, sih, soalnya jantung dipaksa kerja lebih dan hasilnya badan kita mesti kerja lagi)

Tapi pengkonsumsian kopi kian berkembang. Dari awalnya sebagai obat penghilang kantuk, teman saat santai, dan bahkan menjadi suatu ritual harian. Seperti yang saya alami, awalnaymengkonsumsi kopi sebagai penghilang kantuk. Tapi lama-kelamaan minum kopi tidak menghilangkan rasa kantuk, karena pada akhirnya rasa kantuk itu bisa dikendalikan dan tidak butuh kopi sebagai penghilang rasa kantuk. Namun ada masalah baru, yaitu kopi menajdi sebuah candu!

Ya, jadi pecandu kopi. Rasanya hari gak bisa disebut hari kalo gak ngopi. Apalagi kalo sedang kerja, tanpa kopi serasa badan tanpa arwah. Dan anehnya, kopi lama-lama menajdi satu sugesti untuk melakukan sesuatu. POkoknya kalo mau kerja, har…

SUSAHNYA BIKIN KOMIK

Komik? Hm, “bacaan anak-anak?”, “bacaan ringan nggak bermutu/tanpa isi?”, ”bacaan nggak penting?”, ”bacaan untuk para pemalas?” Mungkin itulah yang terpikir pada sebagian orang dewasa ketika mendengar kata komik. Sadarkah mereka kalau mereka telah dibutakan stigma? Ya, berbagai stigma negatif tentang komik.



Komik memang disukai anak-anak karena bergambar (tapi ngaku aja, deh, orang dewasa juga seneng kan sama buku yang ada gambarnya). Komik memang bacaan ringan karena pembacanya tak perlu berpikir dua kali untuk membayangkan sosok tokoh dan setting/latarnya. Komik memang bacaan nggak penting soalnya baca komik nggak bikin kaya (sama seperti nonton sinetron, nggak bakal bikin kaya). Dan benar sekali komik bacaan untuk para pemalas sebab komik paling enak dibaca sambil bermalas-malasan. Berbagai kemudahan telah komik sediakan demi pembacanya, dan saking ”mudahnya” sampai-sampai komik sering dianggap ”sebelah mata”, baik oleh orang dewasa, orang yang merasa dewasa atau orang …