Postingan

Menampilkan postingan dari 2011

Lolipop Christmas

Gambar
Sebenarnya ilustrasi ini dibuat Desember 2010. Cuma karena rasa malas saya untuk meneruskan, saya simpan di lemari dan ketika diunggah nggak ada banyak perubahan, kecuali langitnya yang diberi warna jingga tipis-tipis dengan pensil warna (dasar pemalas!)

Mengapa saya sosok "anak kecil" dan "monster"? Sederhana. Mereka adalah gambaran dari dua sifat dan karakter yang berbeda, namun mereka tetap bisa berbagi dengan segala yang bisa dilakukannya.

Meski ilustrasi ini temanya Natal, namun saya berharap pesan di dalam gambar ini bukan hanya untuk Natal saja, tapi sepanjang hari karena kita semua butuh untuk saling berbagi. Demi dunia yang damai. Pasti :)
Gambar
Ink on paper Size A3 China ink on Canson paper

Ink on paper. No sketch. Langsung dibikin dengan tinta di atas kertas karton yang dipakai untuk alas komik. Ukurannya lebih besar dari A5 dan lebih kecil dari A4. Orang yang saya lihat di acara Speak Festival 2011, di Lapangan Bola Blok-S. Seorang reporter













Aku dan Anak Allah

Pacaran Sama Kamoo 1

Gambar
Seri terbaru Gombal Mukiyo. Kali ini seri Pacaran Sama Kamoo. Ada tiga judul, dan ini yang pertama. Dibuat untuk kompilasi Komikaget.

Unfinished Artworks

Gambar
1. A Woman
Ink on paper China ink  No skecth
Made in my limitless time, in between or when i'm getting stuck by whatever. No concept. 


2. Bagaimana Memahami Perempuan
Ink on paper Drawing pen No skecth
Just a joke about relationship between a man & a woman. :D 
***
These two artworks made on a vellum paper, Tomsoe sketchbook by Tomas Soejakto 

Ia Tak Juga Memelukku

Ia tak juga memelukku
Padahal tubuh kami sudah sangat dekat
Dan bisa kurasakan lembut suaranya mengalun bagai angin yang tengah membelai kami

Ia tak juga memelukku
Padahal aku menantinya
Sekali saja karena ini saat-saat terakhir kami

Ia tak juga memelukku
Walau ia menyandarkan dagunya di pundakku
Saling senda gurau dalam canda
Sesekali tawa dan suka

Ia tak juga memelukku
Sampai akhirnya kuraih tangan kirinya saat menggoda tubuhku
Kugenggam pergelangan tangannya
Beberapa detik... Sesaat hening

Ia tak juga memelukku
Tapi aku bisa merasakan hangatnya
Perbincangan di sela perjalanan
Yang mengisi jalur menuju ia pulang

Ia tak juga memelukku
Ah, sudahlah. Memang tak sepatutnya
Kami bukanlah sepasang kekasih

22 November 2011






Pernikahan dan Mental

Sabtu lalu (15/9) saya menghadiri pernikahan paklik saya yang seumuran dengan saya. Dan seminggu sebelumya saya baru ingat kalau teman saya yang kira-kira nggak jauh umurnya juga melangsungkan pernikahannya. Tiba-tiba saya kepikiran, kapan saya nikah?

Pernikahan. Satu kata itu sekali-kali muncul dalam benak saya. Sebuah kata yang menyenangkan bila didengar, tapi bisa jadi "mengerikan" ketika membayangkannya. Berbeda dengan pacaran, menikah berarti melakukan kesepakatan "hidup-mati" dengan seseorang dan bukan saja menikahkan 2 kepala, namun juga 2 keluarga! Menikah juga tidak serta merta suka sama suka dan punya penghasilan lalu "grabag-grubug" ijab kabul dan resmi menjadi suami-istri.

Menikah berarti mempersatukan perbedaan yang ada dan menyelaraskan persamaan yang dimiliki masing-masing pasangan. Menikah berarti regenerasi, melanjutkan keturunan dan menjadikan keturunan yang lebih baik demi masa depan dan peradaban (beuuuhhh, berat). Menikah berarti tumb…

Jamaah Pengajian Sebagai Kontributor Kemudharatan

Kemarin malam (Senin, 17 Oktober) sepulang dari kantor, seperti biasa saya lewat Kemang  jalan pintas hingga Pejaten (arah saya ke Pasar Minggu). Ketika memasuki Kemang, saya melihat beberapa pemuda berpeci-sarung dan stik menyala yang biasa dipakai pemarkir, sedang memblokir jalan dan menutupnya dengan barikade setinggi pinggang. Terpaksa saya tidak bisa lewat karena mereka memberi kode dengan tangan bahwa jalur tersebut ditutup dan tidak bisa dilewati. Berbekal kemarahan dan kebencian yang mendadak datang, saya pun bersikukuh tetap melalui jalur tersebut meski harus memutar balik dan menempuh jarak agak jauh. Ternyata ada bekas pengajian dan saya lihat sederetan lapak baru saja dibereskan. Entah seberapa panjang barisan lapak itu berderet, yang pasti sepanjang jalan itu (masih) banyak orang-orang berpeci yang sesekali menghalangi jalan. Ya, pemandangan yang lumrah di Jakarta: sekelompok jamaah pengajian yang mengotori jalanan tempat bekas mereka mengaji.

Saya tak habis pikir, mengap…

Cinta Menahun Padanya

Kenapa gue ngasih judul yang roman-romannya cinta padahal sebenarnya gue mau nulis tentang kopi? Ya, kopi sudah menjadi bagian dari cinta gue, setidaknya 2 tahun belakangan ini walau gue udah suka ngopi sejak jaman SMA, kira-kira 10 tahun lalu. Saat itu, layaknya remaja yang suka nongkrong, kopi tuh cuma jadi minuman untuk nongkrong, dan kopi yang dipilih apalagi kalau bukan jenis kopi instant ala warung seperti Kapal Api, ABC Susu atau Indocafe Coffeemix. Selain murah-meriah, dapetinnya gampang dan cara penyajiannya cukup diseduh dengan air panas.

Tapi gaya ngopi seperti itu mulai berubah sejak gue gabung sama komunitas komik Akademi Samali. Anak-anak Aksam (Akademi Samali) adalah "kopikus" --minjem instilahnya Beng Rahadian di salah satu jurnalnya--, dan kebiasaan ngopi mereka jelas lebih berpengalaman dari gue. Dari mereka gue kenal terminologi dalam dunia perkopian: arabika, robusta, roasting, vietnam drip, dll. Intinya, pengetahun kopi gue nambah! (Kayaknya kebanyakan b…

Si Mata Bulan Sabit

Sudah hampir jam 3 pagi, dan mataku masih terjaga. Kubuka surat elektronik dan kucari namanya, nama yang sembilan bulan lalu sering memenuhi kotak masuk pesan ponselku. Aku masih ingat, ia pernah mengirimkan sebuah cerita pendek padaku yang menceritakan tentang pasangan suami istri yang mengalami 'perang dingin'. Keegoisan salah satu pihak yang berujung penyesalan ketika salah satu dari mereka pergi untuk selamanya. Pergi untuk selamanya? Bukankah setiap manusia akan begitu. Namun yang tak kalah menyakitkan adalah kepergian seseorang untuk waktu yang sangat lama.

Kembali aku teringat ketika aku masih dekat dengannya, wanita sang pengirim cerpen. Bukan, aku bukan ingin membicarakan cerpen buatannya, tapi bagaimana dulu kami menjalin kedekatan yang setelah kupikir-pikir ternyata semu.

Pertama kulihat ia adalah di sebuah acara bazar komunitas yang diadakan di sebuah mal di kawasan Sudirman. Dari kejauhan aku melihatnya, dan adalah hal sepele yang membuat pikiranku tak beranjak sa…

Otak dan Rok Mini

Gambar
Belakangan ini, nama Foke sang Gubernur DKI Jakarta sedang “naik daun” karena kata-kata "rok mini" yang ia gelontorkan terkait kasus pemerkosaan yang menimpa seorang mahasiswi dan karyawati awal September lalu. Istilah "rok mini" yang merujuk sebagai pemicu utama tindak pemerkosaan, tentu menuai protes keras dari banyak pihak, terutama kaum perempuan yang menjadi korban. Rok mini bukanlah penyebab utama tindak pemerkosaan dan jangan dijadikan kambing hitam. Sebab masalah kekerasan seksual yang terjadi adalah masalah kontrol seseorang dalam dirinya terhadap orang lain (ini pernyataan seorang teman).
Bicara soal rok mini, baru-baru ini saya menghadiri sebuah pameran seni yang dikemas dengan berbagai hiburan maupun kuis. Satu dari dua pembawa acaranya, seorang perempuan yang tidak bisa ditolak kemolekan tubuhnya, dengan kaos cukup ketat dan membuat payudaranya agak menyembul keluar, serta dua lapis rok; bagian dalamnya rok mini dan luarnya rok transparan pendeknya beb…

Menangkap Pesan Tersembunyi

Pagi ini saya bangun jam setengah 4 (hebat!) karena malamnya saya sudah tidur sejak jam 12. Kemudian sambil ngetik-ngetik, saya mendenagrkan streaming Trijaya FM di http://www.trijayaradio.com/player/audio, sesi bincang-bincang bernama Mutiara Pagi; The Power of Life yang kebetulan sedang membahas tentang "Pesan Tersembunyi".

Fauzai Rahmanto, sebagai nara sumber, menceritakan kalau banyak kejadian kecil dalam hidup kita yang tak kita duga, bahkan tak pernah kita harapkan, justru menjadi cikal bakal terjadinya sesuatu yang lebih besar. Dan "kejadian-kejadian kecil" tersebut biasanya merupakan pertanda akan sesuatu yang tidak melulu kita sadari Contoh kecil pertanda seperti ketika badan kita merasa tidak demam atau flu, misalnya, merupakan pertanda ada yang tidak beres dengan tubuh kita. Ia juga menceritakan pengalamannya yang gagal menjadi dosen, namun sukses menjalani karirnya di dunia profesional. Keinginannya menjadi dosen selepas kuliah selalu gagal hingga akhir…

Horor Masa Remaja (bag.2)

Tahun 2001 aku tinggal di Cileungsi, sebuah kecamatan yang terletak ke arah timur laut dari kota Bogor. Disini aku tinggal bersama bapak, adik kandungku MJ, dan ibu tiriku beserta N. Selama di Cileungsi kami berpindah sebanyak 2 kali.Dan ada satu orang yang tinggal bersama kami, ia salah satu penjaga tokonya ibu. Dan kelakuannya, sedikitpun tidak 


Disini, N sudah kelas 6 SD dan MJ baru masuk TK. Meski tiga tahun berlalu sejak aku mondok, aku tidak melihat ada perubahan yang signifikan pada diri N. Ia masih berperilaku sebagai anak emas, walau kuakui, ia kini sudah agak mendingan ketimbang dulu. Dan seiring berjalannya waktu, entah mengapa aku bisa menyayangi N sebagai adik, karena sama seperti aku dan MJ, ternyata N juga menjadi "korban" kekerasan ibunya sendiri.


***

Seperti yang sudah diceritakan di bagian sebelumnya, masa itu saya hidup di dalam kecurigaan, ketakutan, rasa rendah diri, tidak betul-betul merasakan fungsi rumah sebagai tempat berlindung secara psikologis. Apapu…

Horor Masa Remaja

Setiap orang, siapapun dia, pasti memiliki masa lalu. Dan masa lalunya itu kerap diceritakan kepada orang lain, entah teman, saudara, atau bahkan membaginya di situs blog. Ya, bercerita adalah salah satu kebutuhan manusia, kebutuhan untuk didengar. Bukan hanya didengar, sebagain mengharapkan sanjungan manakala kisahnya patut dibanggakan. Tapi tidak semua kisah bisa dibanggakan. Ada kisah hidup yang sengaja dirahasiakan, bahkan dikubur dalam-dalam oleh seseorang; pengalaman buruk yang traumatik.

Tapi menceritakan pengalaman traumatik di sebuah blog dibutuhkan keberanian. Dan keberanian itu menjadi niat yang sangat mulia ketika kisahnya sengaja ditulis agar orang-orang tidak mengalaminya. Seperti yang dilakukan seorang teman yang menceritakan pengalaman masa kanaknya yang suram di blog pribadinya. Ia berharap kisahnya itu menjadi semacam pencegahan ataupun penyadaran agar apa yang pernah dialaminya tidak terjadi pada siapapun. Seperti teman saya, saya juga memiliki pengalaman yang bisa d…

3 Kabupaten 4 Kota 5 Kecamatan 1 Persahabatan

Gambar
Beberapa hari sebelum Lebaran, saya dan beberapa teman SMA janjian untuk ketemu. Selain silaturahmi karena tidak pernah bertemu sejak kami lulus SMA tahun 2004, ketemuan ini sekaligus reunian kecil-kecilan. Kami janji ketemuan hari Sabtu (3/9) jam sepuluh pagi di salah satu rumah teman nongkrong di desa Babakan Raden, kecamatan Cariu. Tapi karena masih ada sisa begadang, saya berangkat agak telat.

Sebagai orang yang pernah bersekolah di daerah Jonggol dan tinggal di Cielungsi, kedatangan saya ke Cariu bagai sebuah nostalgia semasa SMA. Dan nostalgia ini saya gunakan sebagai salah satu penyegaran dari rutinitas pekerjaan yang sebagian besar saya lakukan di Jakarta. Betapa tidak, perjalanan yang jaraknya kira-kira hampir 2 kali perjalanan ke Jakarta, setengah perjalanan saya lalui di atas jalanan beraspal yang dikedua sisinya dihampari oleh sawah dan perbukian sebagai latar belakang. Semakin ke Timur, ke arah Cariu, suasana persawahan makin terasa dengan kehadiran beberapa ekor ternak …

Aku dan Anak Kecil

Kamis sore kemarin (1/9), saya berkunjung ke rumah pak'lik saya di Citayam. Silaturahmi, sudah lama tidak bertemu dengan pak'lik dan keluarga. Asing. Itu salah satu perasaan yang kudapatkan. Bukan mereka asing dengan saya, melainkan saya merasa asing karena saya baru sadar, ada dua anggota keluarga baru disana. Seorang bayi, anak pertamanya sepupu saya yang perempuan, dan bocah perempuan berumur 3-4 tahun yang ternyata anak terakhirnya Pak'lik.

Sambil ngobrol dengan sepupu saya lainnya, (anak kedunya Pak'lik) kami ngobrol seru. Seputar literatur, sosial, hingga dunia kampus. Saya tidak menyangka bisa membuat obrolan yang menyenangkan dengannya, karena seingat saya sewaktu kami kecil, kami berdua lebih sering main berantem-beranteman dan saya selalu berada di pihak yang tertindas. 
Tak terasa sore makin padam dan adik terkecil sepupu saya, yang berumur 3 tahun itu dan dipangigl Fida, dari tadi mondar-mandir dan "mengganggu" percakapan kami. Sesekali ia kelua…

Pemerintah, Muhamadiyah dan Opini Publik; Beda Jangan Diusik

Sejak kemarin, (Senin 29 Agustus), di timeline twitter tak henti-hentinya saya mendengar kicauan para twips yang mempertanyakan hari apa Lebaran, Selasa atau Rabu? Bukan hanya pengguna akun pribadi, beberapa media massa juga memperbaharui beritanya mengenai kapan jatuhnya Lebaran yang diambil dari berbagai sumber. Dari screening yang saya lakukan, baik menyimak twit dari para pengguna pribadi maupun media, mereka memperdebatkan mengapa antara pemerintah dan Muhamadiyah memiliki perbedaan pandangan dalam menentukan jatuhnya Idul Fitri. Bukan itu saja, saya juga lihat selintingan ada yang mengaitkannya dengan Ahmadiyah. Yang terjadi selanjutnya (masih mengikuti timeline twitter serta membuka tautan-tautan yang diposting oleh media), pihak Muhamadiyah tetap dengan pilihannya, yaitu berlebaran pada hari Selasa (30/8), sedangkan pemrintah menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari Rabu(31/8).

 Namun yang menarik bagi saya bukanlah soal perbedaan antara Muhamadiyah dengan pemerintah atau perd…

MANDI UJAN YA, BUN?

(Cerpen/Kisah ini fiktif belaka)

Sore itu hujan turun dengan derasnya, membasahi semua atap rumah, pohon, tiang listrik, dan jalan-jalan. Aku terdiam di balik jendela ruang tamu menyaksikan hujan pertama setelah hampir tiga minggu tidak turun hujan lagi. Akhirnya, aku bisa merasakan sedikit kesejukan di tengah cuaca yang panas dan membuat sekitarku berada terasa kering.

Sambil memandangi halaman rumah kami yang cukup luas, tiba-tiba aku teringat masa kecilku dulu. Aku, kakakku, dan beberapa teman se-gang sangat senang bila hujan deras datang. Itu artinya kami semua bisa mandi hujan! Aku dan kakakku selalu menjadi orang pertama yang nyamperin dan mengajak teman-teman untuk mandi hujan. Kalau sudah begitu, gerombolan geng mandi hujan bisa berjumlah 5-10 orang!

Biasanya kami mengelilingi gang-gang dalam satu RW, lanjut ke lapangan voli di dekat kantor RW, dan sesekali nyemplung ke selokan besar di sisi lapangan voli lalu bermain perosotan karena selokannya cukup landai. Hihihihi…

Anak Markir Orang Tua Mangkir; Anak Adalah Cerminan Orang Tua

Kamis malam (27/8), hampir jam 12 malam, saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Seperti biasanya, saya lewat jalan baru (Jl. Juanda) yang menghubungkan Jl. Raya Margonda (Depok) dengan Jl. Raya Jakarta-Bogor (Jakarta). Ketika memutar di putaran “resmi” di ujung jalan yang menanjak, saya melihat sekitar 3-4 anak laki-laki yang saya taksir masih SD. Keberadaan mereka di situ sebagai “Pak Ogah” (polisi cepe') yang biasa mengatur kendaraan-kendaraan yang hendak memutar sehingga lalu lintas tertib dan berjalan lancar. Namun yang terjadi sebaliknya. Salah satu anak yang sedang berdiri memarkirkan mobil tepat di sebelah depan saya, tampak diam mematung dan menghalangi jalannya sepeda motor saya. Kalau saya paksakan maju, keselamatan anak itu jadi taruhannya, tapi kalau saya tetap diam di tempat maka saya tidak akan dapat giliran jalan danmenghambat kendaraan di belakang saya. Akhirnya, setelah dengan sabar menunggu anak itu memarkirkan mobil di sebelah depan saya, saya pun lang…

Disetiapku

Setiap malam aku melewati jalan pulang yang sama,
sama seperti jalan menuju rumahmu
Setiap kulewati sisi jalan itu aku merasakan ada hadirmu
Saat itu juga aku sadar kalau kamu tak di belakangku

Setiap hari aku melewati jalan yang sama,
jalan dimana aku bisa menjemputmu
Setiap kulewati sisi jalan itu aku melihat bayangmu
Sedang berdiri menanti sambil memainkan ponsel

Setiap ada kesempatan, di setiapku seolah ada dirimu
Di sendok makan, cangkir kopi, atau sabun mandi, bahkan pada layar penunjuk waktu

Disetiapku ada kamu yang mengintili
Masih saja ada, seolah mengawasi
Seolah selalu menemani

Depok, 26 Agustus 2011
05:47

Setan Adalah Manusia itu Sendiri

Sejak saya kecil, persisnya di pengajian, saya sering mendengar dari guru ngaji bahwa ketika bulan Ramadhan, alias bulan puasa, setan-setan dikurung di neraka agar tidak menggoda manusia. Dan hingga kini ajaran seperti itu juga masih sering tersiar, melalui ceramah-ceramah, misalnya. Saat itu, ajaran bahwa setan dikurung selama bulan Ramadhan tentu saja saya terima bulat-bulat, setidaknya kata “setan” sewaktu saya kecil merujuk pada makhluk ghaib yang sering muncul di televisi, nongkrongnya di pohon-pohon atau pun tempat gelap dan suka mengganggu manusia. Saya pun merasa tenang ketika bulan Ramadhan tiba dan tidak perlu takut ada “setan” saat melintasi tempat gelap. Tapi sekarang, setelah saya sudah cukup besar untuk memikirkan hal-hal ghaib, muncul satu pertanyaan besar: “Benarkah setan dikurung di neraka selama bulan Ramadhan? Kalau iya, mengapa banyak orang tetap berbuat maksiat atau kejahatan?”

Akhirnya, saya tidak setuju (sepenuhnya) dengan ajaran yang saya terima sejak kecil d…