ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)



Serupa tapi tak sama. Itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan keadaan keempat jenis profesi yang disebutkan pada judul di atas. Tapi pada kenyatannya, Istilah yang kerap menempel di benak orang-orang adalah “serupa dan sama”. Misalnya saja, banyak orang yang menganggap komik sama dengan kartun, dan kartun sering diartikan sama dengan ilustrasi, atau storibor yang dianggap sama dengan komik.

Kalau dilihat sekilas, profesi ilustrator, kartunis, storibordis, maupun komikus adalah profesi yang sama, karena pekerjaan mereka semua sama-sama membuat gambar. Sekalipun terlihat sama, sebenarnya masing-masing pekerjaan itu berbeda. Perbedaan itu muncul karena memang ada hal yang membedakannya, yang mana pembeda-pembeda itu menjadi ciri khas masing-masing jenis pekerjaan. Ciri-ciri yang membedakannya ada karena kebutuhan aplikasi untuk masing-masing pekerjaan memang berbeda. Baiklah, saya kupas satu-satu perbedaan-perbedaan tersebut, atau lebih enaknya spesifikasi.

Ilustrator

Adalah pembuat ilustrasi. Ilustrasi sendiri diartikan sebagai "gambar yang menceritakan/menjelaskan sebuah kejadian, ataupun mendeskripsikan narasi melalui bahasa gambar". Maka, penguasaan teknik menggambar dan pemahaman tentang struktur gambar wajib dimiliki oleh seorang ilustrator. Ilutrasi biasanya dibutuhkan sebagai gambar pelengkap pada buku cerita anak-anak, (biasanya ,menggambarkan satu adegan yang sedang diceritakan), gambar peraga untuk buku-buku kursus atau hobi (buku merajut, membuat kerajinan tangan, dll), atau gambar yang sengaja dibuat untuk dipakai pada iklan cetak dan keperluan promosi lainnya.

Nilai sebuah ilustrasi bisa ditemukan pada seberapa "jelas" gambar tersebut menerangkan naskah atau narasi yang menyertakan atau menjadi landasannya. Ambil saja contoh gambar yang menjelaskan cara memasukan benang ke dalam jarum dalam buku merajut. Ilutrasi yang menyertai naskah tersebut haruslah bisa menjelaskan bagaimana cara "memasukan benang ke dalam jarum rajutan". Ilutrasi tersebut haruslah bisa menjelaskan dan membuat orang paham akan penjelasan yang ditemukan di buku. Atau misalnya, dalam buku pelajaran anak-anak diceritakan tentang pelajaran "gotong-royong". Akan tidak bernilai bila ilustrasi yang dibuat adalah gambar sebuah peperangan, atau orang sedang bermain sepak bola. Setidaknya gambar yang dibuat menunjukan sebuah adegan kebersamaan, tolong menolong, atau kerja bakti misalnya yang bisa menjelaskan tentang apa itu gotong royong. Nilai sebuah ilustrasi akan hilang manakala ilustrasi tersebut tidak mampu menjelaskan narasi yang menyertainya.

Lain kebutuhan, lain pula kualitas. Fungsi ilustrasi sebagai gambar bantu untuk peragaan atau penjelas cerita pada buku, tidak terlalu menitik beratkan pada kualitas artistik, alias dibuat secukupnya namun tetap menjelaskan(sekalipun banyak yang ilustrator yang menggambarnya dengan sangat bagus). Kalau harus menggambar tangan yang memegang jarum, cukup menggambar tangan yang memegang jarum, tanpa perlu menggambar tangan yang sangat realis dan penuh detail atau pun menggunakan kombnasi warna yang hanya bisa dibuat oleh seorang pelukis handal.

Tapi dalam ilutrasi untuk buku cerita banyak juga yang gambarnya dibikin cukup detil dan menarik (mempertimbangkan nilai artistik). Sedangkan dalam ilustrasi iklan, sampul buku, sampul CD/kaset, atau artwork, nilai artistik cukup diperhatikan. Selain tidak dijelaskan lebih lanjut dengan narasi, ilustrasi untuk keperluan-keperluan di atas dibuat dengan pertimbangan artistik yang cukup mendalam karena erat hubungannya dengan proses branding (oya, pertimbangan konsep juga menjadi perhatian utama dalam pembuatan ilustrasi iklan. Contoh, : Ilustrasi untuk sampul CD band dengan aliran musik metal/cadas dominan menggunakan warna hitam dan nuansa gelap, atau banyak yang memakai unsur tengkorak atau ornamen-ornamen berbau "satanik". Hal ini bukan untuk keren-kerenan belaka, melainkan untuk kesesuaian dengan konsep musik metal yang terkesan "gelap". Jadi dalam ilustrasi (yang dibicarakan dalam paragraf ini), sang ilustrator bukan hanya dituntut untuk bisa menggambar, sedikitnya sang ilustrator paham soal branding dan brand yang akan dibuatkan ilustrasinya. Singkatnya begini, "satu gambar yang dibuat mampu merepresentasikan isi dari produk". Berseberangan memang, antara dunia artistik dengan pemasaran, namun mereka erat berhubungan dan saling bersinergi. Selain untuk iklan, ilustrasi juga sangat banyak dipakai untuk desain kemasan produk/packaging.

Kartunis

Tidak jauh beda dengan ilustrator, tugas seorang kartunis adalah membuat sebuah gambar yang menceritakan suatu kondisi. Hanya saja, kartun lebih bersifat ekspresif, bebas dan terkadang visualnya mempeleseti kaidah dalam struktur gambar, anatomi misalnya. Kartun yang kita kenal sering kita dapati pada film animasi atau karikatur. Tapi kartun yang kita bahas disini lebih ke arah karikatur, jadi kita lupakan sejenak tentang animasi.

Gambar kartun adalah gambar yang sifatnnya menyederhanakan kompleksitas dari objek nyata yang ada. Struktur gambar pada kartun selalu meyederhanakan rumitnya struktur tubuh atau anatomi dari objek yang dikartunkan. Sedangkan dalam karikatur, gambar yang sudah sederhana malah "dilebih-lebihkan", hingga akhirnya gambar kartun yang sederhana menjadi terdistorsi --distorsi adalah ciri khas karikatur. Kartun atau karikatur biasanya dibuat sebagai cerminan atau kritik sosial akan isu yang sedang berkembang. Kerap kali kita dapati gambar-gambar kartun pada surat kabar atau tabloid-tabloid bersifat simbolis. Karena sebenarnya pesan-pesan yang disampaikan pada kartun dan karikatur isinya “berat”, maka dibutuhkan gambar yang sifatnya simbolis untuk mewakili pesan yang terbatas akibat keterbatsan ruang pada panel, namun dibuat lucu dan menghibur sehingga orang tertarik untuk melihatnya.

Tapi kartun dan karikatur tidak mutlak dibuat untuk menyampaikan pesan yang berat-berat saja, sebab adakalanya kartun dan karikatur dibuat untuk “lucu-lucuan” dan tidak ada pesan tersembunyi didalamnya. Kembali lagi, semua gambar yang dibuat tergantung kebutuhan.

Selain berdasarkan kebutuhan yang berbeda, ada lagi satu hal yang jadi fokus utama dalam menggambar kartun/karikatur. Meskipun gambar yang dibuat sudah lebih sederhana dari objek gambar sebenarnya, karakter dalam gambar kartun setidaknya memiliki satu titik atau poin yang membuat satu karakter berbeda dengan karakter lainnya dan masing-masing karakter punya ciri khas yang ditonjolkan.


Storibordis


Storibor adalah gambar yang dipakai untuk panduan dalam produksi film, baik film pendek, layar lebar, maupun iklan. Sekilas stodibor menyerupai komik, dan orang awam sering bingung membedakan komik dengan storibor.

Secara visual komik dan storibor sama-sama dibatasi oleh panel. Namun ada beberapa faktor yang perlu dan tidak perlu untuk digunakan dalam menggambar storibor maupun komik. Oke, kita bahas storibor dulu.

Sejauh yang saya tahu, konsep visual pada storibor iklan tidak jauh beda dengan gaya visual ilustrasi buku hobi, yang sifatnya menjelaskan sebuah adegan atau situasi. Gambar storibor juga mesti digambar cukup jelas karena menjadi panduan untuk sutradara, kamerawan, ataupun aktor dan aktris ketika syuting.

Storibor kerap kali dibuat sedemikian indah dan dapat dinikmati sebagai artwork, layaknya gambar ilustrasi. Dan tak jarang pula storibor dibuat dengan sangat detil. Namun yang perlu diingat, hakikatnya fungsi storibor adalah sebagai panduan ketika syuting. Untuk urusan artistik menjadi pertimbangan kesekian –bisa jadi dibuat bagus untuk keperluan presentasi--, karena yang paling utama dalam storibor adalah “seberapa jelas storibor itu memvisualkan adegan yang akan direkam”. Tapi nggak salah juga kok, bikin storibor yang keren, berwarna dan punya nilai artistik yang tinggi, sejauh storibor itu berfungsi secara optimal.

Komikus

Diantara ketiga jenis media di atas (ilustrasi, kartun, storibor) dengan kegunaan dan spesifikasi yang membedakannya, komik dapat merangkum spesifikasi dari tiga jenis media yang di atas, bahkan lebih. Namun begitu komik tidak bisa dibilang lebih baik atau lebih buruk, karena komik sendiri berbeda dengan ilustrasi, kartun, atau pun storibor. Dan komik memiliki kebutuhan serta fungsi yang memang berbeda. Biar nggak bingung, mari kita bahas ketiga media yang sudah dibahas sebelumnya ketika masuk ke dalam komik.

Komentar

  1. ada yang saya tanyakan tetntang gambar ilustrasi. gambar ilustrasi itu apakah hanya terikat erat dengan desain komunikasi visual spt ilustrasi iklan, ilustrasi sampul buku atau sampul dvd? untuk gambar ilustrasi saja, sebenarya lebih menonjolkan ketertarikan thd warna, atau menonjolkan cerita gambar tsb??

    BalasHapus
  2. kalau menjadi sebuah profesi yang merupakan mutitalenta bagaimana ya?

    BalasHapus
  3. link untuk part 2 nya mana?
    apa belum di posting?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli