Seni Adalah

Masih hangat dengan worskhop Jakarta 320C yang memajang karya-karya dari mahasiswa di Jakarta sebagai pesertanya. Berbagai macam karya yang dieksekusi pada beragam media, mengingatkan saya bahwa seni itu tidak terbatas pada media apa yang digunakan. Ditambah, karya-karya yang tematik (Bongkar Jakarta) menjadikan satu karya dengan karya lainnya saling memperkuat isi dari karya masing-masing sehingga tetap berjalan pada konteksnya. Tapi di luar konteks, media maupun tema, sebenarnya apa definisi dari "seni"?



Definisi seni bagi masing-masing orang bisa berbeda sartu sama lain, tergantung bagaimana pemahaman dan sejauh mana pengalaman masing-masing individu terhadap seni. Bicara soal seni bisa jadi bicara soal estetika, teknik, media, makna, ataupun pesan yang ingin disampaikan. Dan, tanpa bermaksud mempersempit makna seni, saya mencoba melihat seni sebagai tiga hal. Yaitu seni sebagai : ekspresi, imajinasi dan refleksi.



Layaknya manusia yang memiliki gaya atau ciri sendiri-sendiri dalam berekspresi (ungkapan emosi, pikiran), ekspresi dalam karya seni antara satu seniman dengan seniman lainnya sudah pasti berbeda. Perbedaan-perbedaan cara berekspresi timbul karena banyak hal, seperti perbedaan latar belakang, wawasan pengetahuan maupun teknis, watak (kepribadian) ataupun perbedaan cara berpikir, misalnya. Perbedaan-perbedaan inilah yang menciptakan signature bagi seorang seniman sehingga karyanya mudah dikenali.

Cara berekspresi juga erat kaitannya dengan imajinasi seorang seniman saat berkarya. Bagaimana ia mengolah bentuk, media, maupun teknik yang diaplikasikan dalam karyanya. Lukisan, misalnya. Tidak melulu harus menggunakan media konvensional (kanvas, kuas, cat minyak, dll ). Bisa saja sebuah karya lukis dibuat menggunakan drawing pen, marker, atau ampas kopi (sehingga ada lukisan kopi). Seperti halnya menggambar orang, tidak mesti memakai ukuran yang proporsional, kelengkapan anggota tubuh, atau harus berpijak pada tanah. Seniman bebas berimajinasi seliar-liarnya dalam berkarya. Tidak ada batasan, baik dalam bentuk ataupun makna. Penyimpangan, distorsi, maupun pe-nyeleneh-an sah-sah saja. Selama karyanya tetap kontekstual.



Selain menampilkan ekspresi dan imajinasi, karya seni sekaligus sebagai refleksi. Refleksi atas situasi yang sedang berkembang, refleksi diri secara personal maupun inter personal atau bahkan refleksi akan masa depan. Karena bersifat reflektif, karya-karya seni yang dihasilkan bisa menjadi tanda sebuah era atau gaya yang sedang populer pada jaman yang sedang berlangsung. Misalnya lahirnya musik blues, jazz, yang lahir sebagai bentuk pemberontakan (ekspresi), juga merefleksikan keadaan yang memang sedang terjadi. Atau ketika jaman kemerdekaan, banyak karya-karya seni seperti poster yang isinya mengobarkan semangat juang, selain sebagai refleksi atas keinginan untuk merdeka dan situasi yang memang sedang memanas. Atau tidak perlu jauh-jauh. Simak saja komik strip-komik strip yang hadir minguan di surat kabar. Isinya aktual dan merefleksikan isu atau situasi yang sedang berkembag.



Nah, dari tinjauan mengenai seni di atas, tentunya masih (akan) ada banyak lagi hal-hal yang bisa digali mengenai seni, karena tiap orang pastinya punya persepsi dan perspektif sendiri mengenai seni. Yang pasti jangan terjebak dengan definisi-definisi yang ada, karena definisi muncul dari logika. Sedangkan tiap orang punya cara sendiri-sendiri dalam menggunakan logikanya. Jangan sampai perbedaan definisi justru menghambat kreatifitas dan kepekaan dalam berkesenian. Karena seni adalah ekspresi. Seni adalah imajinasi. Seni adalah refleksi. Dan seni adalah milik siapa saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli