Televisi Sebagai Alat Kontrol Sosial dan Edukasi?

Melihat sinetron-sinetron di televisi makin lama makin aneh dan gak jelas. Akting yang dipaksakan, miskin ekspresi, setting membosankan, serta keragaman tema dalam cerita menjadikan sinetron tak layak tonton, setidaknya untuk orang-orang seperti saya.

Dulu, tahun 90-an, saya lihat sinetron-sinetron di televisi kualitasnya bagus dan layak tonton. Aktingnya pun lebih matang ketimbang sinetron-sinetron jaman sekarang.Dulu, sinetron hanya ditayangkan seminggu sekali sehingga dan sangat ditunggu oleh penonton. Frekuensi jam tayang yang lebih singkat memungkinkan aktris dan aktornya berakting dengan baik dan tidak kejar tayang. Penulis naskah pun dapat menyusun naskah dengan baik dan hasilnya enak ditonton. Tapi sekarang? Semua sinetron stripping. Jam tayangnya bukan hanya di prime time, dan kadang satu pemain sinteron melakukan stripping pada beberapa judul sinetron. Hasilnya? Ya, seperti yang disebut di atas : akting yang dipaksakan, miskin ekspresi, setting membosankan, serta tema yang seragam. Industri sinetron mengalami degradasi.

Degradasi ini, selain terlihat mencolok pada akting, juga tercermin dalam dialog-dialog maupun kasus-kasus yang terjadi. Di sinetron kita akan diberi tahu kalau marah itu caranya harus teriak-teriak dan memaki. Tidak setuju caranya membentak. Menentang caranya dengan argumen secara kasar dan frontal. Hal-hal tersebut menjadikan sinetron miskin ekspresi --seakan-akan aktor dan aktrisnya tidak pandai berakting namun tetap menjadi pujaan para penggemarnya.

Parahnya, selain segudang ekspresi yang disampaikan dengan cara tidak elegan, sinetron kerap kali memaparkan tindakan-tindakan bodoh dan jalan pintas. Tengok saja sinetron-sinetron komedi yang tidak pernah memecahkan masalah dengan bijak. Semua orang terlihat tolol. Memang, film komedi bermaksud membuat orang tertawa, tapi tidak semua cara untuk membuat orang tertawa ditunjukan dengan cara yang tolol.

Atau banyak sinetron yang niatnya berdakwah dan mencoba tampil Islami, tapi mereka terlihat seperti orang-orang arogan denga baju agama. Dalam sinetron keberagaman ajaran dan budaya beragama seakan disejajarakan. Beberapa hari lalu saya mendengar satu dialog di sinetron yang isinya mengingatkan umat Islam supaya tidak larut dengan budaya luar Islam. Maksud baik dalam dialog itu terdengar bodoh dan bar-bar manakala si tokoh memberi citra buruk terhadap budaya lain, sesuatu yang menjadikan saya antipati. Sudah gitu, fenomena kesenjangan sosial yang diperlihatkan pada sinetron tersebut sering kali menyebutkan bahwa yang miskin itu rendah dan buruk, serta kekayaan adalah jaminan kebahagiaan.

Secara garis besar, sinetron sekarang kosong melompong tanpa isi. Hanya menghibur tapi tidak mendidik. Tak memperkaya akal, malah memiskinkan pikiran. Logika yang dipakai di sinetron hanyalah logika instan yang melenakan dan tidak masuk akal. Sinetron sekarang tak lebih adalah racun yang disuntikkan perlahan-lahan kepada penontonnya. Karena lebih banyak informasi negatif yang diterima orak ketimbang informasi positif. Pada tahap berkelanjutan, informasi yang bermuatan negatif dan terakumulasi di alam bawah sadar seseorang, akan menentukan prilaku seseorang. Kalau yang ditonton adalah tontonan buruk, maka penontonnya bisa ikutan buruk. Tapi herannya, sinetron-sinetron yang banyak mengandung keburukan malah digemari? Pantas saja orang memakai akalnya cuma sedikit di negeri ini.

Buruknya konten di dalam sinetron dan minimnya unsur edukasi, membuat resah orang-orang yang punya kepedulian terhadap pola pikir masyarakat. Padahal media, apalagi televisi yang jangkauannya sangat luas bisa menjadi sebuah alat kontrol sosial dan edukasi. Ditambah orang-orang kita sangat menggemari budaya tonton. Tapi mengapa televisi, entah itu sinetron, infotainment, bahkan berita isinya banyak yang negatif. Dan disukai? Tidakkah tercetus ide untuk membuat sebuah program lebih berisi dan edukatif bagi penonton?

Ide saja tidak cukup, karena bicara soal media (televisi) berarti bicara soal rating. Rating sama dengan biaya. Biaya bicara soal siapa yang punya uang dia yang menang. Pemilik modal tidak mungkin membuat program yang tidak disukai dan ratingnya rendah. Sedangkan di sini, program yang ratingnya tinggi adalah sinetron (yang gak keruan mutunya). dan untu membuat sinetron yang bermutu, dibuthkan biaya yang lebih besar lagi, karena segenap kru harus bekerja denga sungguh-sungguh sehingga menghasilkan karya yang bermutu. Jaman sekarang lupakan saja soal mutu (value), karena mereka yang punya uang tidak lagi value oriented. Sekarang jamannya money oriented. Segala sesuatunya diukur dari uang. Pantas saja, negeri ini nggak beres.

Tapi di luar ketidakberesan dan degradasi media, bukan berarti kita ikut-ikutan terpuruk. Bukan berarti tak ada masa depan. Banyak tindakan preventif yang dapat dilakukan. Dengan lebih selektif terhadap program televisi misalnya, menjadi filter dan pendamping bagi anak-anak dalam menonton, dan yang terpenting tidak ketergantungan dengan televisi dan mejadian televisi sebagai satu-satunya hiburan dan sumber informasi. Televisi hanyalah sebuah media untuk memperoleh informasi, sedangkan masih banyak media lain yang bisa memberikan informasi.
So, jadilah pintar dan lebih selektif dalam memperoleh informasi.

7 Januari 2011
-AMET-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli