Jamaah Pengajian Sebagai Kontributor Kemudharatan

Kemarin malam (Senin, 17 Oktober) sepulang dari kantor, seperti biasa saya lewat Kemang  jalan pintas hingga Pejaten (arah saya ke Pasar Minggu). Ketika memasuki Kemang, saya melihat beberapa pemuda berpeci-sarung dan stik menyala yang biasa dipakai pemarkir, sedang memblokir jalan dan menutupnya dengan barikade setinggi pinggang. Terpaksa saya tidak bisa lewat karena mereka memberi kode dengan tangan bahwa jalur tersebut ditutup dan tidak bisa dilewati. Berbekal kemarahan dan kebencian yang mendadak datang, saya pun bersikukuh tetap melalui jalur tersebut meski harus memutar balik dan menempuh jarak agak jauh. Ternyata ada bekas pengajian dan saya lihat sederetan lapak baru saja dibereskan. Entah seberapa panjang barisan lapak itu berderet, yang pasti sepanjang jalan itu (masih) banyak orang-orang berpeci yang sesekali menghalangi jalan. Ya, pemandangan yang lumrah di Jakarta: sekelompok jamaah pengajian yang mengotori jalanan tempat bekas mereka mengaji.

Saya tak habis pikir, mengapa kegiatan mengaji yang berkonotasi positif justru mendatangkan banyak mudharat ketimbang manfaatnya? (setidaknya bagi pengguna jalan raya non-jamaah seperti saya). Walau tanpa hitungan matematis, saya bisa memperkirakan kerugian apa saja yang mereka kontribusikan dengan pengajian dan pemblokiran jalanan. Kerugian yang mereka hasilkan berupa: "kerugian materi", "kerugian imateri", "kerugian jangka pendek" dan "kerugian jangka panjang".

Kerugian materi terjadi akibat kendaraan mengkonsumsi bahan bakar ekstra akibat perjalanan memutar. Ditambah kalau terjadi kemacetan, konsumsi bahan bakar akan bertambah, sebab meski kendaraan tidak bergerak tetap mengkonsumsi bahan bakar karena mesin tetap menyala.

Kerugian imateri berupa hilangnya waktu. Bayangkan Anda sedang dalam perjalanan bisnis dan hendak melakukan deal sebuah proyek , namun Anda gagal mendapatkannya karena Anda terlambat datang dikarenakan jalanan diblokir oleh jamaah pengajian. Bisa jadi ada sebuah atau beberapa keluarga yang kekurangan nafkah karena gagal mendapatkan proyek tersebut (kerugian materi juga).

Kerugian jangka pendek dan jangka panjang bisa berupa materi maupun imateri. Kerugian jangka pendek misalnya energi negatif yang timbul akibat kemarahan Anda yang hak berlalu-lintasnya telah diperkosa jamaah pengajian. Kalau energi negatif dan kemarahan tersebut terbawa sampai rumah dan dilamiaskan kepada keluarga Anda, bayangkan betapa banyak hati yang tersakiti akibat kemarahan Anda dan menyakiti adalah dosa. Energi negatif dan kemarahan ini kalau tertimbun akibat seringnya rasa kesal karena jamaah pengajian yang memblokir jalan, juga berisiko terhadap kesehatan dan akan mendatangkan kerugian jangka panjang. Karena menurut penelitian --tanya saja dokter kalau tidak percaya--, orang yang menyimpan kemarahan dan dendam lebih rentan terjangkit berbagai penyakit, seperti struk, misalnya. Dan ujung-ujungnya akan mendatangkan kerugian materi akibat biaya pengobatan.

Apakah hanya kerugian saja yang dihasilkan jamaah pengajian pemblokir jalanan? Tentu tidak, karena ada beberapa keuntungan yang dihasilkan. Banyak pedagang yang membuka lapaknya ketika pengajian berlangsung dan meraup untung. Sebut saja pedagang parfum, aksesori beribadah seperti peci, sajadah dan tasbih, buku-buku Islami, hingga produk fesyen seperti pakaian. Secara ekonomis memang ada keuntungan disitu, tapi coba lihatlah, apakah keuntungan yang mereka (pedagang) berikan lebih banyak manfaatnya bagi orang-orang, terutama non-jamaah? Bukankah hanya "golongan mereka" saja yang bisa berbelanja karena mereka tidak mengijinkan orang lain masuk?

Dari contoh kecil di atas, saya bisa melihat bahwa melakukan kebaikan pun harus dilakukan dengan cara yang baik. Kebaikan tidaklah merugikan orang-orang (macet, kemarahan). Kebaikan tidaklah eksklusif (menutup akses bagi orang di luar golongan). Dan kebaikan tidak bisa dipaksakan. Untuk apa menyelenggarakan pengajian dengan tujuan syiar tapi membuat kemarahan orang lain? Apakah berkah? Kalau kebaikan itu sendiri tidak berkah, berarti sia-sia saja apa yang telah dilakukan. Bukankah kebaikan tidak menghasilkan keburukan?

Saya pun merasa absurd dengan pengajian-pengajian yang suka memblokir jalanan. Sudah pahamkah mereka dengan konsep toleransi dan bertetangga, sesuatu yang juga diajarkan dan dimuliakan oleh Rasul Muhammad S.A.W.? Kalau begitu, adalah suatu pelecehan terhadap Rasul bila mereka menyebut-nyebut nama Rasul ketika melakukan pengajian tapi tidak mengindahkan ajarannya dengan mengambil hak orang lain dan mementingkan kepentingan golongannya sendiri? Ibarat membilas pakaian dengan air kencing, tidak ada faedahnya.

Tabik
06:36
18 Oktober 2011

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli