Menyelamatkan Hidup Burung Kecil



Sore itu aku melaju dengan sepeda motorku menuju Stasiun Cikini dari rumahku di Depok. Begitu melintasi kolong jembatan dekat pintu air Manggarai, tepat di atas kali yang berisi ongokan sampah dan kucuran air mengalir karena baru saja hujan. Sekelebatan aku melihat sosok burung kecil yang lemah terbaring di sisi jembatan, bersebelahan dengan ongokan sampah. Entah mengapa sepertinya si burung kecil 'memaggilku' dengan lirih lemahnya.

Bak komandan perang yang tengah terdesak dan dituntut mengambil keputusan dengan cepat, aku buru-buru memberhentikan sepeda motorku dan meminggirkannya. Masih dengan setelan jas hujan lengkap aku berlari menghampiri si burung kecil yang nampak lemah. Ya, saking lemahnya ia bahkan tak sanggup mengepakkan sayap maupun melangkahkan kakinya untuk pindah ke tepian.

Kuangkat si burug kecil dan mencarikannya tempat aman, paling tidak agar ia jauh dari tumpukan sampah maupun genangan air yang langsung mengalir ke kali, tapi yang terpenting ia tidak terlalu dekat dengan jalanan supaya tidak tergilas kendaraan yang belum tentu melihatnya.

Aku bisa merasakan si burung kecil memohon sesuatu. Mungkin dia bilang, "tolong selamatkan aku", atau "tolong jangan tinggalkan aku, atau bahkan "tolong bawa aku jauh dari sini agar aku bisa tetap hidup". Permohonan burung kecil yang tak terdengar itu bisa kurasakan lewat cengkeraman kedua jaru kaki mungilnya pada jemariki. Begitu kuat ia mengcengkeram, dan kalau tubuhnya seukuran burung elang atau ayam jago, jari tanganku mungkin sudah terluka dengan cakarnya yang tajam.

Setelah kuletakkan ke tampat yang ‘lumayan’ aman malah keresahan menghampiriku. Meski si burung kecil sudah kupindahkan ke tampat yang lebih aman dan jauh dari gilasan roda-roda yang mungkin menggilingnya, aku kepikiran akan nasib si burung kecil ini selanjutnya. Kalau saja ia kubawa pergi aku tak yakin bisa merawatnya dengan baik dan menjaganya tetap hidup. Tapi kalau kutinggalkan ia di sini sendirian, apa ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri? Keputusan berat kuambil: aku meninggalkannya. 

Sepanjang sisa perjalananku hingga tempat tujuan aku merasakan penyesalan mendalam. Aku akan merasa bersalah bila si burung itu akhirnya mati justru setelah kuselamatkan. Aku tak sanggup bila ia harus mati di tanganku. Namun bila ternyata ia tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri, semoga ada kawanannya yang membantunya tetap hidup atau ada orang lain yang peduli menyelamatkan hidupnya.

Burung kecil, maafkan aku yang hanya bisa memindahkanmu dari bahaya terjangan kendaraan, tumpukan sampah dan aliran air yang bisa saja menenggelamkanmu ke kali. Semoga kau masih hidup dan sehat hingga sekarang. Atau sekalipun kau mati, setidaknya kau mati di tengah kumpulanmu, bukan karena tangan manusia yang tak bisa berbuat banyak. Jangan lupa menyapaku bila suatu hari kita bertemu kembali

Komentar

  1. Turut mendoakan si burung kecil semakin baik dan mampu mengepakkan sayap. InsyaAllah...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli