Curhat Komik

Sekitar enam tahun yang lalu (2004) setelah lulus SMA dan kerja serta tinggal di jakarta, saya belum tahu mau jadi apa. Yang saya tahu hanyalah; saya suka menggambar dan nulis. Waktu terus berjalan, dan saya menemukan jawaban atas kebingungan ketika lulus. Ya, jawabannya adalah saya ingin menajdi komikus!

Gak semudah yang dibayangkan. Selain harus bisa menggambar dan bercerita, dibutuhkan pergaulan yang luas dan jaringan untuk mendukung terwujudnya mimpi jadi komikus. Jadilah, selama 5 tahun saya nggak tahu mesti ngapain. Rasanya males banget nulis cerita dan bikin komik karena gak tau mau diapain lagi 'tuh komik; gak ada motivasi. Namun rasa malas itu berubah setelah ikut workshop bersama Clement Baloup (Prancis) di CCF, bekerjasama dengan Akademi Samali. Segala rasa malas mulai dilawan dengan gairah dan amarah sama diri sendiri. Gairah untuk terus berkarya, dan rasa marah kenapa selama ini malas berkarya.

Mata saya dibukakan, bahkan dicolok! Saya melihat kreatifitas dari para komikus berbagai lintasan (ada yang profesional, pemula, bahkan ada yang gak pernah ngomik) dan berbagai aliran. Paradigma saya yang mennggampangkan membuat komik dengan bantuan komputer, jadi terkikis karena semua peserta workshop "dipaksa" bikn komik tanpa bantuan komputer, dan, banya, kok, karya2 komik yang sudah layak konsumsi meski tanpa sentuhan komputer.

Tapu buat saya ada yang lebih berharga selain mempelajari komik itu sendiri, yaitu jaringan. Ya, jadi kenal dengan para penggiat komi yang terus eksis. Suatu hal yang baru saya dapatkan di workshop ini.

Ya, sehebat atau sebagus apapun karya yang kita buat, tak'kan ada artinya kalau tidak ada yang melihat. Dan jaringan itulah yang membantu supaya karya kita dilihat. Mereka punya akses ke penerbit, komunitas2 komik, dan mereka punya "power" untuk mengadakan kegiatan2 yang berhubungan dengan komik. Dan, karena mereka ahlinya, mereka juga menjadi mentor bagi saya untuk berkarya. "Kalau mau jahit baju jangan nanya sama pedagang cabe, tapi tanyalah penjahitnya", sepert itulah.

Dan, sekarang saya sedang-akan menggarap sebuah naskah komik pendek untuk kompilasi, juga akan segera mempersiapkan cerita petualangan anak-anak dan beberapa cerita lainnya. Kali ini saya tidak takut melangkah. Saya gak kahwatir lagi bakal diapain nih komik. Kalaupun komik yang saya buat nanti tidak laku di pasaran, toh saya sudah memiliki teman2 seperjuangan yang akan saling bantu dan bahu-membahu. Lagipula dunia komik juga luas, gak terbatas pada cerita di atas kertas semata. Komik juga bersahabat dengan animasi, periklanan, bahkan dunia pendidikan. Pokoknya ada banyak jalan deh untuk komik.

Gak lupa saya ucapkan makasih banyak buat CCF yang mendatangkan komikus hebat Clement Baloup (masih muda dan ganteng, lho, ehehhe) dan Akademi Samali; saya jadi sering main kesana untuk menimba ilmu dan ngobrol2 euy, sekaligus membuka banyak peluang untuk saya tetap berkarya.

Satu tambahan dari saya, komersil atau tidak cerita yang kita buat, atau ada tanggapan miring tentang karya yang kita buat, maju aja. Komersialisme masalah belakangan. Kita akan mencapai itu dengan giat berkarya. Maju komik Indonesia

Salam Komik Indonesia
(11-Maret-2010)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli