"Berteman dengan penjual minyak wangi, akan terciprat wangi; berteman dengan tukang pandai besi, akan terpercik api". Begitu kata orang dulu, yang menggambarkan pentingnya memutuskan untuk bergaul dengan siapa. Bergaul di sini bukan membatasi pergaulan hanya dengan satu kelompok tertentu, tapi lebih kepada kelompok dimana kita akan berjuang (ta'elah, bahasanya perjuangan banget).

Saya baru ngeh, kalau ternyata saya telat bergaul. Kenapa baru sekarang saya kenal dengan para pejuang di dunia komik padahal sudah beberapa tahun lalu saya sudah bermimpi pengin jadi komikus. Pengin jadi komikus tapi gak punya temen komikus? Wah, ribet banget dah, ibarat mau jadi pemain bola tapi gak pernah ikut main bola. Makanya saya sangat bersyukur jadi banyak kenalan dengan para pejuang komik. Bukan itu saja, saya juga kenal dengan beberapa rekan dari animasi (sodara deketnya komik) dan dunia seni visual lainnya. Intinya, relasi saya di dunia komik bertambah drastis!

Dari kenal satu-dua orang, bisa kenal dengan satu grup yang masing-masing memiliki relasi lagi (ni gara-gara ikut workshop di CCF kemaren pasti, dah). Dan kesempatan ini sangat disayangkan kalu tidak dimanfaatkan. Sayang sekali kalau saya masih malas membuat komik. Sayang sekali kalau saya masih malas menulis cerita. Sekalipun komik dan cerita yang saya tulis tidak komersil, setidaknya itu mengasah kemampuan saya membuat komik. Dan saya tidak takut membuat kesalahan, karena "perfection comes from failures".

Yang saya suka bergaul dengan anak-anak komik, kami bisa saling berbagi masukan dan membuka pintu, saling tukar pikiran, dan yang paling menyenangkan kalau bisa saling berkolaborasi dalam membuat karya. Meski ujung-ujungnya masuk ke dunia bisnis, tapi tidak terasa aroma persaingan dan itu yang membuat saya betah. Saya seperti sedang bermain saja, yang ada hanya kesenangan dan tak pernah terpikirkan hal-hal yang tidak enak dan seru. Meski begitu, bukan berarti tak berisiko. Tapi saya tidak akan menceritakan risiko-risiko terjun di komik, (gak mau nanem afirmasi jelek ke orang-orang).

Akhirnya, saya akan terus manempel dengan para pejuang komik, dengan waktu yang tak terbatas. Karena Tuhan telah membukakan pintu menuju mimpi liar saya, dan akan menjadi keputusan yang tidak baik kalau tidak saya masuki. Nongkrong bareng dan gabung sama komunitas, dateng ke acara-acara pameran, beli komik, ikut workshop yang ada. Sekalipun semuanya butuh uang, tenaga dan waktu , tapi semuanya seakan tiada arti. Karena tidak semua orang punya kesempatan seperti saya mendapatkan hal-hal di atas, sesuatu yang sulit didapatkan kalau tak punya relasi. Saya akan terus berkarya dan berbagi karya. Peduli malaikat karyanya jelek, bagus, komersil, idealis, atau apa lah, saya yakin tak ada karya yang tercipta sia-sia. Cepat atau lambat semua akan mendatangkan hasil, hasil dari perjuangan menggapai mimpi.

Salam Komik Indonesia. Terus berkarya!
18 Maret 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli