SAYA ORANG YANG PUNYA BANYAK KEKURANGAN (DAN KELEBIHAN JUGA, TENTUNYA)

Tiap orang dilahirkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tiap orang unik. Oleh sebab itu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi seperti sesuatu yang kita inginkan. Kalau dianalogikan, manusia ibaratkan jenis-jenis hewan yang unik dengan kemampuan masing-masing. Misalnya saja monyet pandai memanjat, kuda larinya cepat, unta tahan cuaca panas, singa bisa mengaum dengan keras, atau kanguru bisa melompat jauh. Kita tidak bisa memaksa monyet berlari secepat singa, atau menyuruh singa balapan lari dengan kuda. Masing-masing punya talenta tersendiri.

Begitu halnya manusia. Dibalik kelebihannya, manusia juga banyak kekurangan antara satu dan yang lainnya. Ada orang yang berbakat di bidang sales, musik, politik, organisasi, atau seni. Sangat jarang saya temui orang yang punya bakat jualan, bermusik, jadi pimpinan, jago gambar dan ngutak-ngatik mesin sekaligus. Kalau ada orang yang begitu, saya rela jadia muridnya!

Memang tidak adil rasanya bila manusia dianalogikan seperti binatang, karena bagaimanapun manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia adalah makhluk pembelajar dan bisa mempelajari apapun. Manusia bahkan bisa melakukan apa yang hanya bisa dialukan oleh bintang, meskipun manusia menggunakan bantuan alat. Cuma, yang ingin saya tekankan disini adalah kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mempelajari/melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Sekalipun manusia makhluk pembelajar yang bisa mempelajari apapun, semua itu hanya bisa dilakukan dengan adanya minat dan keinginan dari manusia itu sendiri, dan yang mesti diperhatikan, semua itu butuh proses. Ini bukan pembelaan, lho. (maaf kalau terkesan arogan dan egois, tolong betulkan kalau saya salah).

Contoh kecil. Selain menggambar dan musik, saya sangat suka dengan hal-hal yang berbau marketing, dan marketing erat kaitannya dengan penjualan. Sedangkan saya paling nggak bisa menjual. Menjual dalam artian menawarkan kepada orang satu-satu produk yang saya jual dan berusaha meyakinkan mereka kalau produk saya bagus. Makanya saya gak pernah berminat dengan pekerjaan sales, baik jasa atau barang. Karena pada dasarnya saya tidak pandai mengambil hatim seseorang.

Dulu, sekitar 2-3 tahun lalu, saya pernah ikut bisnis network marketing, atau yang lebih populer dengan sebutan MLM (Multi Level Marketing). Ada buanyak sekali pelajaran tentang marketing yang behubungan dengan MLM saya dapatkan disini. Mulai dari marketing plan, support system, cara-cara presentasi, prospekting orang, sampai pelajaran yang behubungan dengan kepemimpinan. Dari situ saya makin tertarik baca buku tentang marketing dan kepemimpinan, juga makin tertarik baca buku-buku psikologi, karena semuanya sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang networker sejati. Tapi apa yang saya dapat? Tidak satupun orang yang berhasil saya rekrut jadi downline, sekalipun saya rajin ikut seminar dan datang ke OPP (Open Plan Presentation), bahkan saya ikut seminar akbar mereka! Ikut MLM tidak mengubah saya. Tapi ikut MLM sangat-sangat menambah ilmu yang saat ini baru terasa manfaatnya.

Saya salut melihat para networker yang bisa merekrut banyak orang dan meyakinkan mereka. Saya, jangankan banyak orang yang bisa direkrut. Untuk mulai prospekting aja malu. Mau ngomong sama orang yang dikenal aja 'udah deg-degan dan salting. Ternyata memang itu sifat saya. Saya tidak bisa bicara basa-basi, apalagi menawarkan sesuatu dengan tujuan penjualan. Menemui orang untuk menawarkan barang atau jasa, bagi saya adalah pekerjaan paling menakutkan. Tapi saya tidak pernah takut disuruh maju ke depan dan membicarakan sesuatu.

Saya menyadari, kalau keahlian saya bukanlah di bidang interkomunikasi. Pekerjaan yang memaksa saya untuk bicara pada banyak orang, baik kenal ataupun tidak. Pekerjaan yang memaksa saya berbasa-basi. Pekerjaan marketing yang kalau kata banyak orang ngecap. Beneranm deh, saya paling nggak bisa ngecap. Saya terlalu jujur dan sulit untuk bicara tidak sesuai. Saya nggak bisa bilang “bisa” kalo kenyataannya saya nggak sanggup. Saya nggak berani ngaku “punya banyak” kalau kenyataannya saya cuma punya sedikit. Makanya, saya lebih suka pekerjaan yang sifatnya “menghasilkan” sesuatu, seperti berkarya misalnya.

Intinya, kita ini bukan manusia super. Kita bukan manusia luar biasa (walau pada kenyatannya kita sudah luar biasa).Kita manusia yang punya kelebihan dan kekurangan masaing-masing. Kita saling membutuhkan satu sama lain. Tiap-tiap orang punya pekerjaan berdasarkan kemampuan dan minat masing-masing. Dalam pekerjaan apapun, hal itu selalu berlaku, termasuk pekerjaan komik. Terkadang dalam proses pembuatan komik dibutuhkan penulis dan penggambar yang berbeda. Tak jarang untuk pembuatan sampulnya saja memakai jasa orang lain. Komik juga butuh editor, penerbit, distributor, toko, pembeli, kritikus, pecinta dan pembenci, dan banyak lainnya.

Dan sekarang, saya akui saya benar-benar beruntung karena saya dikasih kesempatan melakukan pekerjaan yang bisa saya kerjakan. Pekerjaan menggambar. Saya tahu sejauh mana kemampuan saya, maka Tuhan memberi beban sebatas yang saya sanggup. Saya tahu ketidaksanggupan saya seberapa, maka Tuhan mengurangi beban itu. Saya hanya tidak mau menjadi sombong dengan bilang “bisa semuanya”. Saya tidak mau membuat siapapun kecewa dengan berani melangkah di atas jalan yang saya tidak bisa lalui. Saya hanya ingin berbuat yang terbaik, sesuai batas kemampuan saya. Karena saya, tidak diciptakan hanya dengan kelebihan, melainkan dengan kekurangan. Kekurangan yang menjadikan manusia tak pernah sempurna. Tapi karena kelebihan dan kekurangan itulah, manusia menjadi makhluk yang paling sempurna.

(Kalau kemampuan saya di bidang kreasi bisa ditukar, mungkin saya ingin menukarnya dengan dengan kemampuan di bidang penjualan, setelah itu saya akan minta kemampuan saya di bidang kreasi dikembalikan, supaya saya bisa meraup banyak uang).


05 Juni 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli