FEMINISME DALAM KELELAKIAN

Sore tadi saya chatting dengan Eri. Dia bilang kalau kado yang saya kasih buat ulang tahunnya dia mencerminkan kalau selera saya sangat feminim, dan kefiminiman itu juga tercermin dari tas pensil warna pink yang saya punya. Saya ngasih tas kecil yang mungkin cuma muat diisi beberapa buku buat hadiah ulang tahun Eri, dan itu dibilang feminim. Lalu saya tambahin ke Eri kalau saya nggak peduli dengan sesuatu yang namanya "machoisme".

Ngomongin soal tas pink yang saya pakai, beberapa teman juga sering ngeledekin saya, baik teman laki-laki ataupun perempuan. Ohya, saya juga punya tas plastik warna pink bergambar muka babi yang saya pakai untuk menyimpan perlengkapan mandi. Dari komentar-komentar "heran" teman-teman kenapa saya pakai warna pink, saya jadi berpikir, apa salahnya laki-laki suka dengan sesuatu yang berbau feminim? Terus, warna pink yang diasosiasikan dengan perempuan dan warna biru diasosasikan dengan laki-laki menjadi hal mutlak? Itu hanya persepsi umum ciptaan manusia yang muncul karena satu dan lain hal. Sedangkan saya juga punya persepsi sendiri.

Mengenai feminitas, atau sifat yang berhubungan dengan perempuan, saya rasa tiap orang memilikinya. Karena manusia terlahir dari gen laki-laki (XY) dan perempuan (XX). Dari faktor genetis malah sudah terlihat bahwa gen perempuan yang mengandung unsur "X" lebih dominan pada tubuh makhluk hidup. Jadi apa yang salah dengan feminitas?

Feminim kerap dikaitkan denagn sifat lemah lembut, penyayang, momong, sensitif, ataupun cengeng. Sifat-sifat itu biasanya didominasi oleh perempuan. Meski begitu, bukan suatu aib bila seorang laki-laki punya sifat penyayang dan lemah lembut. Atau sangat sensitif dan gampang nangis. Hal-hal seperti itu kadang dibutuhkan bagi seroang laki-laki. Sesekali laki-laki boleh menangis. Sesekali laki-laki juga boleh momong anak. Dan buat saya, laki-laki yang melakuakn pekerjaan dapur dan bersih-bersih itu keren. Sedangkan perempuan yang melakukan perkerjaan kasar yang didominasi oleh laki-laki juga seksi banget! Memang bertentangan dengan persepsi umum masyarakat, tapi itulah saya. Saya punya persepsi-prsepsi yang kerap berbeda dengan persepsi orang kebanyakan.

Sebagai orang yang bekerja di bidang kreasi dan desain, kadang sisi feminim dibutuhkan dalam menciptakan sebuah karya. Sisi feminim yang meliputi keanggunan, keharmonisan, ataupun ketelitian. Lihat betapa banyak pelukis, pematung, ataupun ilsutrator dan komikus yang menggambarkan sosok perempuan seanggun mungkin. Dengan lekuk-lekuk tubuh yang hanya dimiliki seorang perempuan. Atau bagaimana sebuah maha karya yang banyak terinpirasi oleh perempuan dan berbau feminim. Buat saya sendiri, feminitas, perempuan, dan segala macam lainnya yang berbau kewanitaan, adalah inspirasi terbesar yang Tuhan telah berikan. Banyak sekali barang-barang cewek yang bisa menjadi inspirasi. Dan karena sifat keperempuanan juga, banyak inovasi-inovasi yang dilakukan pada suatu produk. Misalnya bagaimana sebuah merek pembalut selalu menciptakan inovasi dengan membuat pembalut yang semakin nyaman dan praktis. Atau beberapa merek handphone yang sengaja membuat desain handphone khusus prempuan. Malah ada juga produsen gitar yag membuat gitar dengan desain yang cewek banget.


Karena sifatnya yang inspiratif saya senang sekali dengan berbgai produk yang berbau perempuan. Kalau jalan ke pusat perbelanjaan mata saya selalu terpesona ketika melihat sepatu-sepatu ataupun sandal prempuan. Dan mata saya terpaku melihat perhiasan yang berkilau. Bahkan saya sangat tertarik dengan desain-deasin pakaian dalam yang makin menarik dan eye catching. (padahal dipakai bukan untuk dilihat, lho). Serta berbagai aksesori dan pernak-pernik yang banyak dijajakan, juga boneka-boneka lucu yang membuat mata saya berbinar dan nggak habis terpesona. Padahal kalau dipikir, saya nggak make' barang-brang itu. Tapi entah kenapa saya sangat menyukainya. Dulu pernah, waktu saya SD saya minta dibelikan boneka sampai saya nangis-nangis. Dan sekarang kalau saya pulang ke rumah, saya tidur selalu mengajak boneka beruang yang agak besar untuk teman tidur (pengennya sih ditemenin sama perempuan, ehehehehe).

Itu hanya sedikit mengenai sisi feminim yang ada dalam diri saya. Sisi feminim lainnya bisa terlihat dengan betapa saya menyukai anak kecil, dan saya sangat senang ketika berkesempatan menggendong bayi, juga betapa berharganya saya ketika bercengkerama dengan anak-anak. Ketika menggendong bayi saya merasakan jiwa laki-laki dan perempaun yang sesungguhnya dalam waktu bersamaan; jiwa kebapa'an yang terbalut kelembutan karena dibutuhkan kehati-hatian ketika menggendong bayi. Di rumah, saya juga sering ngobrol sama keponakan saya yang kelas 2 SD dan yang berumur 4 tahun. Mereka, anak-anak, selalu jujur dan butuh perlakuan yang tepat. Disatu sisi butuh kelembutan tapi disisi lain butuh ketegasan dalam memperlakukan mereka. Saya memang tidak ahli menangani anak-anak, tapi saya suka melakukannya.

Ohya, sisi feminim juga muncul ketika saya membuat komik. Misalnya saja karakter Julia Yang saya ciptakan. Karakter itu muncul ketika sisi feminim saya kelaur, yaitu waktu saya mimpi menggendong bayi. Dan setelah itu saya juga menciptakan karakter-karakter yang menjadi adiknya Julia yang juga perempuan-- karakter ini belum ada yang saya publish ke umum. Bukan itu saja, ditiap karakter-karakter baru yang saya ciptakan, saya selalu membuat karakter perempuan. Entah sebagai anak kecil atau orang dewasa.

Buat saya, feminism atau macho, nggak terlalu masalah selama tetap bertanggung jawab.Karena feminism atau macoisme tidak menjamin apa-apa. Karena masalah tersebut ada dalam diri tiap-tiap pribadi manusia yang bebas mereka jalani dan pertanggungjawabkan.

01 Juni 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli