PENSIL WARNA ATAU KOMPUTER?

Dulu pernah ketika saya dan teman saya sedang berada di toko buku dan saya memilih beberapa perlengkapan mengggambar, salah satunya tinta hitam dan pensil warna. Ketika saya melihat-lihat pada sebuah rak pensil warna teman saya bertanya, “buat apaan, Met, pensil warna? Lo kan ngewarnain pake komputer”. Sejenak saya tertegun mendengar pertanyaannya dan berpikir-pikir lagi, sampai akhirnya saya tidak jadi membeli pensil warna itu. Kemudian dia juga memberi saran untuk memlih tinta warna hitam yang akan saya gunakan untuk membuat blok warna hitam pada bidang gambar yang cukup luas. Untuk kali ini saya coba ikuti lagi sarannya memilih tinta. Bukanlah tinta yang teman saya sarankan melainkan cat poster.

Sesampainya di rumah dan saya gunakan cat poster itu untuk membuat blok hitam, dan, waw, saya sangat kecewa! Cat poster tidak seencer tinta sehingga saya kesulitan untuk membuat blok warna hitam dalam jangkauan bidang yang lebih luas. Dan karena kepekatannya itu, cat poster tidak selumer tinta sehingga sangat sulit untuk membuat sapuan warna dengan tarikan garis yang cukup panjang dan tahan lama. Intinya, hasil yang diharapkan sangat mengecewakan. Dan saya tidak pernah menggunakan cat posetr itu lagi, malah saya nggak tahu sekarang cat poster itu saya simpan dimana. Tapi tak apalah, setidaknya saya tahu bedanya tinta dengan cat poster. Lain kali saya akan pikir-pikir lagi sebelum memilih barang.

Bukan hanya cat poster yang membuat saya berpikir-pikir lagi. Keputusan saya sejalan pikiran dengan teman saya di toko buku juga membuat saya berpikir ulang. Alangkah bodohnya saya menjadi tergantung untuk mewarnai dengan komputer. Saya tak tahu pasti apa maksud pertanyaan-pernyataan teman saya yang bilang, “buat apaan, Met, pensil warna? Lo kan ngewarnain pake komputer”. Entah ia menganggap “mewarnai dengan pensil warna” adalah kesia-siaan, atau “mewarnai dengan komputer” adalah pilihan utama, atau bahkan sebenarnya dia mau bilang “emangnya lo bisa ngewarnain manual?”. Berbulan-bulan saya terjebak dalam mindset komputerisme. Saya hanya mewarnai gambar dengan komputer, yang artinya saya harus melakukan proses scanning pada gambar saya, menyempatkan diri di depan komputer, dan sejujurnya, saya lebih nyaman mewarnai secara manual (walau sebenarnya memakan waktu lebih banyak).

Setelah dipikir-pikir, ternyata saya telah membatasi diri saya untuk berkembang. Saya telah mematok diri saya supaya “ketergantungan” terhadap komputer. Tidak ada yang salah menggunakan komputer, karena sejatinya komputer adalah alat bantu yang akan memudahkan pekerjaan kita. Tapi yang menjadi masalah adalah, saya membatasi diri saya untuk berkembang dan berkreasi. Saya benar-benar ketergantungan dengan komputer. Saya membuat banyak gambar hitam-putih (karena hanya akan saya warnai di komputer), dan pada kenyatannya saya tidak punya scanner. Untuk pergi ke warnet dan men-scan gambar saya menjadi pertimbangan yang mesti dipikirkan karena jarak dari rumah ke warnet yang lumayan bikin berkeringat, mesti mengeluarkan uang, banyak membuang waktu, dan yang menjadi masalah juga adalah saya tidak terlalu betah berlama-lama mewarnai di depan komputer. Ada banyak alasan seperti : posisi harus duduk dan berada di depan meja, mata terkena radiasi monitor, juga ukuran layar yang membatasi bidang gambar. Kemudian apa yang saya dapat? Kemampuan mewarnai saya tidak banyak berkembang. Dan banyak gambar-gambar hitam-putih saya hanya menjadi dokumen di dalam map.

Banyak memang gambar-gambar yang sangat bagus adalah hasil pewarnaan dengan komputer, tapi bagaimanapun, hasil dari teknik mewarnai manual sangat berkarakter dan tak tergantikan. Hal ini saya sadari ketika saya melihat ilustrasi-ilustrasi dengan teknik pewarnaan manual, terutama teknik pewarnaan ketika pewarnaan digital belum populer. Setiap gambar, hasil pekerjaan dari colorist yang berbeda punya ciri khas masing-masing. Dan saya sendiri adalah pengagum warna manual. Karena buat saya warna manual sangat manusiawi -- makanya ada istilah freehand, bukan freemouse (*apaan, sih, nggak nyambung =p).

Akhirnya saya belajar untuk mewarnai secara manual. Kalau boleh saya bandingkan, mewarnai manual lebih sulit dibandingkan mewarnai dengan komputer dan memiliki beberapa tantangan. Pertama, karena tidak ada pilihan “ctrl+Z” atau “undo”, setiap kesalahan yang dilakukan harus diakal-akali karena nggak bisa diulang. Kedua, dan yang paling penting, “butuh pengrobanan dan biaya yang lebih banyak”. Betapa tidak, untuk membeli kertas gambar yang layak pakai saja harganya lebih mahal dibandingkan buku gambar biasa. Jenisnyapun beragam dan akan memusingkan kita untuk memilih yang mana. Lalu soal warna. Jenis pewarna apa yang akan kita pakai? Cat air, cat poster, car minyak, cat akrilik, pensil warna, krayon, atau spidol/marker? Dan itu semua membutuhkan uang!

Bukan hanya mengorbankan uang, tapi juga harus mengorbankan waktu untuk belajar (termasuk saya yang baru belajar). Pasti akan banyak ditemukan “kesalahan-kesalahan” kecil. Dan semakin banyak kesalahan yang kita lakukan, semakin banyak pula ilmu yang kita dapatkan. Kadang saya harus rela tidur sampai larut hanya untuk mewarnai dengan cat air dan saya jadi bangun lebih telat. Tapi saya anggap itu adalah investasi; investasi waktu. Saya bukan anti komputer atau pembenci komputer. Saya sangat butuh komputer dan saya tidak bisa hidup tanpa komputer. Yang tidak saya inginkan adalah saya membatasi diri dalam berkreasi karena segala kemudahan dan fasilitas ada di dalam komputer.

Kini, setelah entah berapa bulan lamanya sejak teman saya bilang, “buat apaan, Met, pensil warna? Lo kan ngewarnain pake komputer”, saya merasa beruntung karena akhirnya saya menentang omongannya. Sekarang saya belajar untuk mewarnai manual, dan setelah saya perdalam lagi, saya tidak pernah menemukan pengaruh yang buruk terhadap kemampuan mewarnai digital saya. Tidak ada penurunan kemampuan. Yang ada malah saya punya alternatif teknik mewarnai sesuai keinginan.

Buat siapa aja yang sempet membaca tulisan ini, saya cuma pesen. Siapapun yang bilang, entah itu temen, sahabat, sodara, atau bahkan keluarga, kalau omongan mereka membuat diri kamu merasa dibatasi, silahkan pikir ulang untuk menurutinya. Karena bagaimanapun kamu dan orang lain berbeda. Yang baik untuk mereka belum tentu bagus untuk kamu. Selamat berkreasi!

19 Juli 2010

Komentar

  1. baca tulisan diatas jadi lebih mantab untuk bikin gambar sendiri...pake komputer lebih lama, pegel, dan mata cepat ngantuk. trimakasih O.mm...

    BalasHapus
  2. Hehehhe...udah lama banget gak buka blogspot, ternyata ada yang komen ^^

    Yah, betul, dan gak sabaran kalo make komputer dan berisik karena ada suara kipasnya, ehehe. Ya, tergantung kebutuhan juga sh ^^

    Thx untuk komennya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli