MENCARI PASAR YANG KECIL DALAM KOMIK

Ketika membahas soal market share, sering kalo kita berpikir untuk meraih “kue” sebanyak-banyaknya dari seluruh kue yang tersedia. Maksudnya begini, diantara seribu orang konsumen, kita berusaha meraih seribu-seribunya. Padahal belum tentu keseribu orang itu membutuhkan produk yang kita tawarkan. Alih-alih dapat untung, bisa-bisa kerugian yang kita dapatkan karena tidak ada pasar yang secara khusus kita targetkan. Dalam hal ini, “segmentasi pasar” diperlukan. Sebagai sebuah produk, komik juga membutuhkan segmentasi pasar, yaitu segmentasi pembaca.

Misalnya saja kita hendak membuat komik bergenre petualangan. Lalu beberapa poin berkenaan dengan segmentasi yang bisa menjadi pertimbangan, seperti : siapa pembaca yang kita targetkan, umurnya berapa, tinggal di kawasan seperti apa, bagaimana latar belakangnya, bagaimana kondisi ekonominya, dan lain-lain. Setelah semua kita analisa, kita akan mendapat kemudahan dalam menggali cerita lebih dalam, terlebih membantu proses pemasaran lebih lanjut.

Analisa di atas dibuat bukan untuk menyulitkan komikus, melainkan membantu komikus untuk mendapatkan pasarnya sendiri. Karena bisa jadi komik yang kita buat ternyata kurang sesuai dengan keadaan si pembaca yang sudah ditargetkan. Misalnya saja kita menargetkan pasar remaja, tapi ada adegan-adegan yang belum pantas dikonsumsi oleh remaja. Atau misalnya komik anak-anak dengan cerita yang lucu namun lucunya terkesan “berat” dan lebih pas untuk orang dewasa. Bagaimanapun pembaca juga berhak mendapatkan bacaan yang sesuai dengan porsinya.

Setelah kita melakukan analisa untuk mendapatkan segmentasi pasar, adakalanya jangkauan pembaca yang kita dapatkan menjadi semakin spesifik dan mempersempit market share. Hal ini bisa menjadi kerugian dan juga keuntungan. Kerugian karena dengan segmentasi kita mempersempit jangkauan pasar yang berpengaruh juga pada banyaknya penjualan. Namun menjadi keuntungan manakala pasar yang tersegmentasi itu benar-benar tepat dan termasuk dalam golongan potential buyer. Semakin sempit, tapi semakin potensial. Artinya kita bisa mengurangi biaya promosi dan distribusi karena pasara kita sudah tersegmentasi dengan jelas.

Kalau ditengah jalan terpikir untuk melakukan perluasan pasar namun mengorbankan isi dari komik tersebut, saya rasa bisa menjadi hal yang riskan, karena pasar yang kita tuju belum tentu potensial dan sesuai dengan pembaharuan isi yang dilakukan. Akibatnya biaya produksi bertambah (seiring bertambahnya jangakauan pasar), biaya promosi dan distribusi mesti dikeluarkan lebih, tapi pasar-nya menjadi rancu. Contoh, ketika ada sebuah komik dengan sasaran pembaca anak-anak, tahu-tahu ingin meraih pembaca dari kalangan remaja. Mau tak mau ada isi yang berubah karena mesti disesuaikan dengan keadaan calon pembaca yang baru saja ditarget. Yang jadi masalah adalah apabila perubahan isi tersebut kurang sesuai dengan pasar yang sudah lama terbentuk, namun masih kurang pas juga untuk pasar yang baru ditarget. Kalau kata Hermawan Kartajaya, ibarat Rambo yang menembakan banya peluru tapi tidak ada yang kena dan hanya buang-buang peluru. Lebih baik menjadi seperti sniper yang menembakan satu peluru saja dan tepat sasaran.

Tapi segmentasi sendiri tidak bisa berjalan sendirian. Segmentasi harus bersinergi dengan jalur distribusi, promosi, dan yang terpenting dengan produk itu sendiri. Karena salah satu keuntungan yang didapatkan dari segmentasi pasar yang jelas antara lain meraih pembeli potensial tanpa harus membuang banyak biaya.

18 Juli 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli