TAKE IT OUT INDONESIA; SO WHERE'S THE LOVE IS?




Sebenarnya saya mau membuat judul dengan tulisan “TAKE ME OUT”, atau “TAKE HIM OUT”, ataupun “TAKE A CELEBRITY OUT”. Yap, ketia judul di atas adalah nama sebuah program cari jodoh yang diputar di sebiah stasiun TV swasta yang mengadopsi program dari TV luar negeri.

Beberapa kali saya nonton acara ini. Bukan karena acaranya bagus atau keren, , tapi saya senang lihat acara itu karena ceweknya banyak yang cantik, seksi, dan tak jarang mereka semua tampil dengan dandanan yang all out, bahkan berle (berlebihan). Tapi yang menarik dari acara ini bukan karena cewek-cewek cantik nan seksi itu, melainkan bagaimana “CINTA” dan “JODOH” dilihat dari sudut pandang berbeda. Menarik, memaknai cinta dengan cara instan, padahal cinta itu sendiri bukanlah “produk” yang lahir secara instan, melainkan melalui serangkaian proses yang rumit.

Kalau saya perhatikan, semua kontestan mensyaratkan sesuatu atas calon pasangan yang mereka pilih. Misalnya saja, “saya suka cowok yang atletis”, atau “kalau kamu sibuk ngemsi( jadi MC), main sinetron, terus model, kapan pacarannya”, atau “saya kurang suka karena kelihatannya dia masih kekanakan”, dan berbagai macam persyaratan lainnya. Memang, setiap orang punya ekspektasi tersendiri terhadap pasangan (dan calon pasangannya). Pengen bisa inilah, itulah, sehingga tanpa disadari kita menuntut pasangan kita untuk jadi sempurna. Jadi seperti apa yang kita mau. Dengan begitu secara tak langsung kita hendak mengubah “seorang” menjadi “orang lain”. Sesuatu yang menurut saya menyalahi fitrah manusia sebagai makhluk yang unik dan punya banyak kekurangan.

Selain “syarat”, yang menambah menarik acara ini adalah membiasnya makna cinta dari sesuatu yang suci dan agung menjadi sesuatu yang murah dan main-main. Bagiamana tidak, orang-orang digilir dan dilelang, dipajang dan tinggal pilih, persis seperti barang dagangan di etalase. Sudah itu, setelah menjadi pasangan terpilih, serta merta mereka gandengan tangan dengan mesra dan melanjutkan hubungan di romantic room.

Kalau beruntung mereka akan mendapatkan pasangan yang ganteng atau cantik, atau setidaknya “mengakhiri” status jomblo mereka malam itu juga di atas panggung. Hal tersebut lebih baik ketimbang tidak mendapat pasangan dan terkesan menjadi orang yang nggak laku.

Tapi begitulah show biz. Ya, show biz. Acara ini semata adalah sebuah hiburan! Jadi jangan terlalu serius menanggapinya karena saya yakin, ini semua sudah diatur sebelum para jomblo naik ke atas panggung. Dari segi bisnis acara seperti ini sangatlah menjual karena mengumbar kehidupan pribadi seseorang, yang baik maupun yang buruk. Pokoknya urusan dan privasi kita sudah dijual sebagai produk yang bisa dinikmati siapa saja. Seperti kita tahu, sebagai manusia kita sangatlah senang untuk mengetahui (bahkan ikut campur) urusan orang lain, makanya program seperti saya sebut di atas sangatlah menjual.

Terlepas dari masalah show biz, sebenarnya yang menjadi perhatian saya ya itu tadi, bagaimana makna cinta yang sebenarnya suci dan agung membias menjadi murah dan main-main. Buat saya cinta tidak ditemukan hanya dalam satu malam. Dan buat saya cinta tidaklah seperti makanan ayam yang diumbar ke tanah sambil lalu dipatuki oleh ayam-ayam yang lapar. “Cinta” menurut saya dan menurut Anda pastilah punya perbedaan dan tidak akan sama.

Cinta itu universal namun personal. Maksudnya begini. Kita bisa merasakan rasa cinta dari siapa saja, baik teman, sahabat, orang tua, guru, atau bahkan orang yang tak dikenal (universal). Namun rasa cinta bisa menjadi sangat spesial manakala rasa cinta itu datang dari seseorang yang benar-benar berarti dan kita tidak merasakannya pada orang lain (personal). Karena sifatnya yang personal ini, saya memplesetkan judul yang seharusnya “Take Him Out” (dan ”take-take” lainnya) menjadi “take it out”. Karena yang saya lihat mereka tidak membawa pergi seseorang yang memberikan cintanya secara personal, melainkan mereka membawa pergi orang yang cintanya didasari pada konsep acara.

Tapi balik lagi, semua adalah show biz semata. Jangan dipikirin apalagi diambil pusing. Yang pasti cinta itu akan datang entah kapan dan dari siapa. Cinta itu ada dimana saja, kok, jangan takut. Nggak perlu menyerahkan urusan cinta dan jodoh kepada televisi. ^,^

12 Agustus 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli