Merry Christmas, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kamis lalu (9/12) ada kiriman satu paket kartu Natal ditujukan kepada saya dari teman blogspot, namanya Cecilia Hidayat. Dikirimkannya sepaket kartu Natal tersebut karena di blognya, Cecil memposting desain-desain kartu Natal dan akan mengirimkannya kepada lima orang pertama yang memberi komen. Kebetulan saya adalah orang ketiga, dan, dapat kartu Natal!

Sebelumnya sempet surat-suratan elektronik juga dengan Cecil lalu bilang kalau sebenarnya saya nggak Natalan, namun saya akan sangat senang sekali menerima pemberian kartu Natalnya. Ia juga tidak mempermasalahkan apakah saya Natalan atau tidak, sebab yang terpenting bukan "momen apa", tapi "untuk apa" kartu-kartu itu dikirim, sekaligus mencoba menggalakkan lagi tradisi berkirim kartu ucapan yang dulu populer sebelum era digital dan internet menjadi kawan keseharian kita.

Waktu saya kecil, saya pernah dikasih tahu oleh guru ngaji saya kalau kita (orang Islam) nggak boleh ngucapin selamat hari raya kepada pemeluk agama lain, dengan alasan hari raya termasuk ibadah. Dan, sebagai seorang pemeluk agama, maka tidak boleh menjalani ibadah yang bukan agamanya. Sepintas alasan itu masuk akal, setidaknya untuk saya yang saat itu belum juga lulus SD. Tapi lama-lama saya merasa janggal dengan larangan tersebut, dan kiranya perlu saya pikir lagi. Sebab saya selalu mengirimi SMS Natal kepada teman-teman yang merayakannya.

Kalau mengucapkan hari raya kepada umat agama lain itu dilarang, berarti dosa, dong? Lalu, apakah saya dosa karena cuma ngucapin Selamat Hari Natal? Toh, saya tidak melakukan tindak kejahatan ataupun merugikan terhadap orang yang saya ucapi. Saya tidak lantas mengkhianati ajaran-ajaran agama saya dan menjadi kafir. Lalu, bukankah di dalam agama diajari juga toleransi?

Saya mengucapkan Selamat Natal, Nyepi, atau Waisak, tak jauh bedanya dengan mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Karena esensi dari memberikan salam adalah menghargai sesama umat beragama. Menjalin persaudaraan dan mempererat hubungan sehingga satu sama lain bisa saling memahami. Dan kalau kita (misalnya) mengucapkan selamat hari raya lewat berkirim kartu, bukankah kita malah beribadah, karena kita telah menyisihkan seharga uang untuk jasa tukang pos, seharga amplop, seharga ongkos cetak kartu, seharga biaya transportasi ke toko, juga seharga ongkos parkir kendaraan. Selain ibadah yang sifatnya material, kita juga beribadah karena telah menyenangkan hati orang yang menerima kartu tersebut. Kalau begitu, di mana letak salahnya(dosa) mengucapkan selamat hari raya kepada pemeluk agama lain? Lebih banyak mana, manfaat atau kerugiannya? So, nggak masalah, dong, ngucapin selamat hari raya kepada umat agama lain?

Yang tadi itu opini saya, dan pastinya ada sekelompok orang yang tidak setuju di luaran sana. Saya "berani" menentang ajaran yang saya dapat waktu kecil bukan karena ingin melawan. Saya hanya mencoba menggunakan akal sehat dan logika, terlebih menjalani peranan sosial dalam bermasyarakat. Tidak semua ajaran mesti ditelan bulat-bulat, kan? Bukankah hidup ini logis, dan segala sesuatunya memiliki alasan dan logika? Lagi pula, kalau kita berbuat salah, biar Tuhan saja yang menghakimi.

Untuk semua teman yang merayakannya, Selamat Hari Natal. Semoga Kasih Tuhan dan damai Natal selalu menyertai. Amin. Halleluyah!

GBU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli