Apa Salah Manga dan Amerika?

Masih di Kamis yang sama, saya chatting dengan Jery Aritonang, teman saya yang ngasih tau iformasi lomba ngedesain kaos di salah satu blog lokal. Idenya simple. Cuma ngedesain kaos dengan gaya komik strip dua panel dan bagi yang kepilih, desain akan dicetak ke atas kaos. Saya sangat tertarik dan Jery langsung ngasih link blog tersebut.

Merasa gampang karena bikin komik strip itu hal biasa bagi saya, saya pun menjadi semangat tak keruan ngikutin lomba itu. Tapi, pas saya baca ketentuannya, semangat saya yang menggebu-begu perlahan redup dan hilang. Di salah satu ketentuannya, disebutkan bahwa tidak boleh ngirimin komik dengan gaya manga atau Amerika. Oh, Tuhanku!

Saya bener-bener nggak habis pikir dengan larangan itu. Ditambah, bahwa sangat disarankan mengirimkan karya dengan gaya yang sangat Indonesia. Jadi timbul pertanyaan di kepala saya. Apa yang salah dengan gaya manga dan Amerika? Lalu, seperti apa gaya yang sangat Indonesia? Pada peraturan itu saya ngerasa ada kedangkalan akan pemahaman gaya maupun konteks dalam berkomik.

Saya sendiri bukan orang yang suka ngegambar manga atau Amerika, tapi saya ngerasa sakit hati. Berapa banyak komikus-komikus kita yang nyaman dengan gaya manga? Apa salahnya ngegambar dengan karakter yang Amerika banget? Kalau tujuannya cuma untuk mendiskriminasikan, untuk apa membuat lomba? Saya rasa pembatasan yang dibuat nggak masuk akal dan menyudutkan beberapa pihak.

Terus, ngomongin gaya yang Indonesia banget, emangnya yang seperti apa, sih? Saya nggak yakin Indonesia punya gaya gambar yang Indonesia banget, orisinil lokal. Sebab gaya gambar komikus-komikus di Indonesia mendapatkan banyak pengaruh dari luar, baik luar. Bener-bener aneh, tuh aturan.

Gaya gambar, entah itu manga atau Amerika, pasti bukanlah gaya yang didapat dengan sekejap mata. Melainkan ada proses yang terjadi terus menerus dan mengalami perubahan karena adanya pengaruh-pengaruh sehingga terjadi semacam "kesepakatan" gaya yang menjadi ciri khas. Jepang dan Amerika memang telah melakukannya karena budaya komik mereka memang kuat dan punya sejarah yang cukup panjang. Jadi wajar saja kalau ada gaya gambar yang identik dengan Jepang atau Amerika, sebab proses identifikasi yang akhirnya menjadi produk budaya bukanlah hal yang mudah dan singkat untuk dilakukan.

Saya nggak tahu apa motivasi si pembuat lomba memasukan larangan itu. Mungkinkah dia sentimen dengan manga dan Amerika yang pengaruhnya begitu kuat di sini, atau dia sudah jenuh dan ingin melihat keanekaragaman gaya dalam berkomik? Kalau alasan kedua yang menjadi motivasinya, saya rasa itu pernyataan yang dibuat sangat tidak bijak. Boleh berkaca pada era 80-90, dimana komik-komik kita "lenyap" tertimbun komik-komik luar, yang mengakibatkan miskinnya referensi lokal generasi muda pada saat itu (yang notabene komikus jaman sekarang). Kalau toh yang dicari atau disukai adalah gaya yang tidak identik dengan manga atau Amerika, ya ndak usah dibuat larangan seperti itu. Pasti ada proses seleksi, kan, yang akhirnya akan terpiilih mana yang terbaik (atau disukai).

Kalau saya yang mengadakan lomba tersebut, saya tidak akan memberi larangan atau batasan dalam gaya gambar, lha wong yang dikonteskan, kan, "komik"? Dan menilai komik jangan hanya dari gaya gambarnya. Komik bukan semata karya visual, namun ada cerita dan story-telling, sekalipun komik yang dimaksud adalah komik strip minimal dua panel. Komik tidak selayaknya dinilai hanya dari konteksnya saja, tapi perlu menimbang segi kontennya juga. Kalau misalnya komik tersebut digambar dengan gaya manusia cantik berdagu lancip dan matanya besar berkaca-kaca (stereotip manga serial cantik) namun ceritanya sangat lokal, apakah tidak disebut "sangat Indonesia"? Lalu, kalau komiknya digambar dengan gaya Indonesia (please, deh, kasih tau gue, kaya apa?) namun ceritanya tentang negara Jepang atau Amerika, tidakkah disebut Jepang atau Amerika?

Setelah berpusing-pusing (kalau di Malaysia artinya "berputar-putar", hehehe...) dengan ketentuan yang melarang gaya manga dan Amerika pada lomba ngedesain kaos tersebut, saya cuma mau memberikan opini saya soal komik. Tidaklah perlu menjustifikasi nilai sebuah komik hanya dari visualnya saja. Usahlah menghakimi komik hanya karena tidak identik dengan kelokalan kita. Perlu disadari juga, meskipun kita sudah memiliki budaya bertutur cerita secara visual (relief pada candi) sejak ratusan tahun lalu, sesuatu yang disebut komik bukanlah berasal dari sini. Kehidupan komik di negeri ini sempat terputus yang mengakibatkan tidak adanya "kesepakatan" tak tertulis akan ciri khas dalam gaya gambar, dan mengakibatkan generasi-generasi berikutnya kehilangan "pegangan" dalam berkomik. Cukuplah sudah menaruh stigma negatif terhadap budaya luar, kan tidak ada yang salah dengan budaya luar. Kita lah yang seharusnya pandai menimbang-nimbang.

Kalau saja yang membuat lomba itu adalah orang yang belum memahami komik dari perspektif budaya dan lintas waktu, bisa dimaklumi adanya larangan itu. Tapi kalau saja yang membuat peraturan tersebut orang yang tahu betul apa itu komik, hm...cobalah bergaul dengan komikus-komikus yang, mungkin menurutnya menggunakan gaya manga dan Amerika.

Komentar

  1. Ya....mmang sebaiknya kita harus lebih selektif lagi apabila hendak mmbuat ssuatu,apalagi berkaitan dengan masa dapan anak bangsa...harus sangat berhati hati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli