GAYA BAHASA dan BRAND AWARRENESS



Ada hal menggelikan yang saya lihat ketika berada di Labrin Komik, salah satu rangkaian acara “Readalicious: When There's Not Just A Book for Us to Read”, acara tahunannya anak-anak FE Atma Jaya. Jadi begini ceritanya:

Di salah satu sudut labirin yang memajang Komik Ngeselin-nya Tomas Soejakto, ada seorang cewek (sama seorang cowok juga) ketawa-ketiwi gak keruan membaca salah satu dialog di Komik Ngeselin. Si cewek ketawa karena ngerasa bingung plus lucu dengan gaya bahasa pada komik tersebut. Perlu waktu beberapa saat bagi cewek itu untuk mencerna maksud dari dialog tersebut. Isi dialognya begini:

“Wah, sori, Jak! Nggak bisa! Ogut mau JALSKI SAMSKI NILAMSKI”, “Hei, Met! CABS yuk!”, “Ngomong-ngomong, Met...DOSKI UDSKI CABSKI, tuh!”

Coba, deh, perhatiin tulisan yang dicetak kapital. Entah itu bahasa apa? Terdengar aneh dan, jijay. Namun kata-kata itulah yang membuat si cewek ketawa cekikikan, bingung, hingga akhirnya ia paham maksudnya setelah dibaca beberapa kali.

Gaya bahasa seperti di atas mungkin dipakai oleh beberapa orang, dimengerti oleh sebagian orang dan tidak dimenegrti oleh sebagian lainnya. Tapi bukan itu yang ingin saya bahasa, melainkan bagaimana penggunaan bahasa dalam komik.

Secara pribadi, saya sendiri lebih menyukai bahasa sehari-hari, alias non-baku untuk dipakai ke dalam komik, terlebih komik tersebut komik untuk pembaca remaja dan dewasa. Selain terdengar tidak membosankan, fleksibel, juga lebih dekat dengan pembaca. Kembali ke Komik Ngeselin, kalau kamu-kamu salah satu pembaca setia Ngeselin, gaya bahasa yang dipakai oleh Tomas memang gaya bahasa sehari-hari, alias bahasa Indonesia yang tidak mengikuti EYD. Sesekali Tomas juga memakai kata-kata yang tanpa tedeng aling-aling dan dicuapkan begitu saja. Ada memang, beberapa dialog yang terdengar tidak enak, tapi kata-kata tersebut harus dimasukkan. Seperti kata “Somay Anjing”, “Ampas Cebok”, “Mampus”, dan sekian kata-kata yang saru' kalau diucapkan keras-keras di muka umum ^^. Tapi bagi saya, gaya bahasa yang jujur dan apa adanya itulah yang membuat orang-orang yang datang ke Labirin Komik (mahasiswa) suka dengan komik Ngeselin dan ngasih “jempol”.

Kembali ke masalah gaya bahasa dalam komik. Selain cerita, gambar, alur dan panelling, gaya bahasa adalah hal yang patut dijadikan perhatian. Karena selain berhubungan erat dengan segmentasi pembaca, ini juga dekat hubungannya dengan image! Image? Ya. Image atau pencitraan sangat penting dalam mem-branding komik. Dan lagi, selain membangun (dan memperkuat pencitraan), gaya bahasa juga membantu pembaca mengenal setting, baik tempat maupun waktu.

Image selain dibutuhkan oleh personal di dalam kehidupan nyata, juga dibutuhkan oleh personal di dalam kehidupan komik. Bicara soal image sama halnya dengan membicarakan soal persepsi pembaca akan sebuah komik. Bagaimana image sebuah karakter komik mampu diingat oleh pembaca bahkan menjadi top of mind pembaca sehingga karakter tersebut memiliki brand awarreness yang kuat di benak pembaca.

Bagaimana membangun image melalui gaya bahasa dalam komik? Kalau kita lihat lagi Komik Ngeselin dengan tokoh utama Jaka, ada satu hal yang fundamental yang dilakukan oleh Tomas dalam membangun image komiknya: character building. Di komik Ngeselin, tokoh Jaka diciptakan sebagai karakter yang skeptis, sok tahu, sok hebat dan kehadirannya selalu mendatangkan rasa kesal bagi orang-orang di sekitarnya (namanya juga “Ngeselin”). Kuatnya citra-citra negatif terhadap Si Jaka inilah yang membangun persepsi pembaca terhadap Jaka sebagai karakter yang benar-benar NGESELIN. Karakter yang ngeselin ini diperkuat dengan omongan Jaka yang ceplas-ceplos dan apa adanya namun kritis, sehingga karakter yang dibangun sudah cukup kuat.

Tapi jangan lupa, meskipun kuat dengan karakter pada tokoh utama, perhatikan juga tokoh-tokoh sekeliling, baik tokoh pembantu maupun figuran. Misalnya tokoh B konsisten dengan gaya bahasanya yang agak Betawi, atau tokoh C yang konsisten dengan gaya bahasa medok-nya. Intinya sih, walaupun sudah punya karakter kuat pada tokoh utama, karakter-karakter pembantu juga tidak boleh diabaikan. Karena hal-hal kecil itulah yang membuat semesta pada komik tetap terjaga.

Lalu, apa yang mesti dilakukan supaya bisa membangun karakter yang sudah dibuat? Cara termudahnya adalah “kenalilah karaktermu sebaik mungkin”. Caranya nggak susah, karena disadari atau tidak, dalam setiap karakter yang kita buat, sesedikit apapun selalu ada “diri kita” yang sudah kita kenal dengan baik. Karena kita tidak mungkin membangun sebuah karakter yang tidak pernah kita kenal. Nah, sifat-sifat itu dapat kita kembangkan lebih jauh. Misalnya dengan menggabungkan antara sifat utama sang tokoh dengan sifat-sifat yang dimiliki orang lain. Tak perlu susah-susah mencari role model. Ambil saja orang-orang di sekitar kita sebagai role model untuk pengayaan karakter. Konsekuensinya, kita harus mau atau belajar mengenal orang lain, dan percayalah, sangat menyenangkan mempelajari karakter orang!




25 Maret 2011

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli