Anak Markir Orang Tua Mangkir; Anak Adalah Cerminan Orang Tua

Kamis malam (27/8), hampir jam 12 malam, saya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Seperti biasanya, saya lewat jalan baru (Jl. Juanda) yang menghubungkan Jl. Raya Margonda (Depok) dengan Jl. Raya Jakarta-Bogor (Jakarta). Ketika memutar di putaran “resmi” di ujung jalan yang menanjak, saya melihat sekitar 3-4 anak laki-laki yang saya taksir masih SD. Keberadaan mereka di situ sebagai “Pak Ogah” (polisi cepe') yang biasa mengatur kendaraan-kendaraan yang hendak memutar sehingga lalu lintas tertib dan berjalan lancar. Namun yang terjadi sebaliknya. Salah satu anak yang sedang berdiri memarkirkan mobil tepat di sebelah depan saya, tampak diam mematung dan menghalangi jalannya sepeda motor saya. Kalau saya paksakan maju, keselamatan anak itu jadi taruhannya, tapi kalau saya tetap diam di tempat maka saya tidak akan dapat giliran jalan danmenghambat kendaraan di belakang saya. Akhirnya, setelah dengan sabar menunggu anak itu memarkirkan mobil di sebelah depan saya, saya pun langsung melaju (diiringi rasa kesal).

Sejurus kemudian saya membayangkan, dimana orang tua mereka? Seperti apa, dan bagaimana pola didik orang tua mereka di rumah? Sehingga membiarkan anak-anaknya berkeliaran di jalanan tengah malam, jadi polisi cepek, lagi! Melihat pakain mereka, yang salah satunya menyelempangkan sarung, saya mengira kalau mereka habis solat Tarawih di masjid dan tidak langsung pulang, tapi jadi polisi cepe'.

Bukan apa yang mereka lakukan yang jadi perhatian saya, tapi bagaimana bisa mereka berada di jalanan? Bukankah anak-anak seharusnya berada di rumah sudah tidur pada jam segitu? Kalau masih ada di jalanan, masalah ada pada orang tuanya. Apakah orang tuanya tidak peduli sedang berada di mana anak mereka? Apakah ada orang tua yang mengijinkan anaknya di jalanan tengah malam, untuk mencari uang? Atau, jangan-jangan keberadaan mereka di jalanan atas perintah orang tua mereka? Tidak ada yang tahu pasti.

Membiarkan anak-anakn di tengah jalan sangat membahayakan keselamatn mereka. Risiko mengalami kecelakaan lalu lintas bisa saja terjadi, terlebih situasi jalanan yang gelap gulita karena miskinnya penerangan. Dan seandainya kecelakaan terjadi, sekalipun karena kesalahan sang anak, siapa yang mau bertanggung jawab? “Hukum” yang berlaku di negeri ini adalah anak-anak bebas dari tuduhan atas kecelakaan yang terjadi sekalipun si anak bersalah. Seperti contoh kasus tabrakan bus Transjakarta yang menewaskan seorang anak yang menyeberang tiba-tiba tepat di bawah halte Busway Mampang Prapatan. Meski kenyataannya sang anak menyeberang bukan pada tempatnya (bukan di jembatan penyeberangan yang sudah disediakan, melainkan menyebeang tepat di bawahnya!), tetap saja supir Transjakarta yang disalahkan, bahkan warga sekitar memboikot jalur Busway tersebut.

Kalau orang tua saja tidak peduli dengan anaknya, bagaimana anaknya mau belajar peduli pada lingkungannya? Dan ketidakpedulian pada lingkungan bisa melahirkan sikap masa bodoh dan mau menang sendiri. Maka timbulah orang-orang yang tidak peduli pada sekitarnya, atau sekelompok orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya dan masa bodoh dengan orang lain. Jangan salahkan juga kalau lahir generasi-generasi apatis, karena mereka menerima perlakuan apatis juga dari orang tuanya.

Seperti kata pepatah, "Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga" . Seorang anak adalah cerminan orang tua. Dan orang tua adalah kunci karakter seorang anak, yang akhirnya akan menjadi karakter sebuah bangsa di hari depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli