Setan Adalah Manusia itu Sendiri

Sejak saya kecil, persisnya di pengajian, saya sering mendengar dari guru ngaji bahwa ketika bulan Ramadhan, alias bulan puasa, setan-setan dikurung di neraka agar tidak menggoda manusia. Dan hingga kini ajaran seperti itu juga masih sering tersiar, melalui ceramah-ceramah, misalnya. Saat itu, ajaran bahwa setan dikurung selama bulan Ramadhan tentu saja saya terima bulat-bulat, setidaknya kata “setan” sewaktu saya kecil merujuk pada makhluk ghaib yang sering muncul di televisi, nongkrongnya di pohon-pohon atau pun tempat gelap dan suka mengganggu manusia. Saya pun merasa tenang ketika bulan Ramadhan tiba dan tidak perlu takut ada “setan” saat melintasi tempat gelap. Tapi sekarang, setelah saya sudah cukup besar untuk memikirkan hal-hal ghaib, muncul satu pertanyaan besar: “Benarkah setan dikurung di neraka selama bulan Ramadhan? Kalau iya, mengapa banyak orang tetap berbuat maksiat atau kejahatan?”

Akhirnya, saya tidak setuju (sepenuhnya) dengan ajaran yang saya terima sejak kecil di pengajian. Tapi kalau saya tidak setuju sepenuhnya, nanti malah dibilang kafir. Oke, kalau begitu saya akan tetap percaya bahwa “setan dikurung selama bulan Ramadhan”, tapi saya akan menambahkan, “dan manusia lah yang memegang kunci nerakanya”.

Setan, di dalam Al-Quran diceritakan bahwa ia diciptakan oleh Tuhan dari api, dan sudah ada sebelum manusia diciptakan. Kemudian Adam diciptakan dan Tuhan memerintahkan Setan untuk sujud kepada Adam, namun Setan menolaknya dan dengan sombong bilang kalau ia lebih mulia derajatnya karena ia diciptkan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Lalu Setan memohon satu permintaan kepada Tuhan, agar ia diberi hak untuk menggoda anak Adam sepanjang hayatnya, dan Tuhan menyetujuinya. Jadilah, pekerjaan Setan untuk menggoda manusia.

Namun, terlepas dari pekerjaan setan menggoda manusia, saya sempat terpikir, seperti apa wujud setan itu? Lalu, ada berapa jumlah populasi setan di dunia ini? Dan bagaimana cara setan menampakkan dirinya saat menggoda manusia? Karena saya tidak pernah tahu jawabannya, saya tergoda untuk membuat pernyataan sendiri, bahwa “Setan itu sudah ada di dalam diri manusia sejak manusia lahir dan mengikutinya sepanjang hidup”, atau bahasa kurang ajarnya, “setan adalah manusia itu sendiri”.

Jadi kesimpulannya, setan ada di dalam tiap-tiap manusia, dan manusia tidak ada yang terlepas dari perbuatan salah. Memang benar, setan menggoda manusia untuk berbuat kesalahan, tapi yang mengijinkan setan itu menggoda adalah manusianya sendiri. Dan godaan setan, tidak melulu hadir dalam bentuk yang sifatnya birahi. Godaan setan bisa muncul ketika kita memaksakan kehendak diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain, misalnya mengklaksoni orang supaya minggir ketika kelompok sepeda motornya lewat, atau bermain petasan disaat orang-orang khusyuk beribadah. Bukan itu saja, godaan setan juga bisa muncul dalam bentuk kebaikan. Misalnya pamer kesalehan --istilah yang saya temukan di statusnya Aji Prasetyo di akun facebook-nya-- yang menyebabkan riya, menggelar pengajian yang “memakan” jalan raya sebagai majelisnya hingga menyebabkan kemacetan selama berjam-jam dalam radius 20 km, atau melakukan “syiar” melalui demo ke istana negara dengan melanggar peraturan lalu-lintas dan kenyamanan umum. Saya sendiri tak menampik kalau saya juga sering digoda setan, atau membiarkan setan di diri saya menggoda saya.

Apa yang saya tulis hanyalah opini saya tentang setan, manusia dan hawa nafsu. Sekaligus pengingat diri sendiri bahwa setan itu kita sendiri lah yang mengendalikan. Dan sekali lagi mengingatkan, setan, dengan berbagai godaannya, bisa muncul kapan saja, tergantung seberapa kuat kita menguncinya. Semoga kita bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan tetap menyadari bahwa segala perbuatan, baik maupun buruk, kita sendiri yang menentukan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli