SURGA DI TELAPAK KAKIMU

Ada satu lagu dari Gita Gutawa yang ketika mendengarnya saya selalu ingin menangis. Judul lagunya sama seperti judul tulisan ini; “surga ditelapak kakimu”. Sebuah lagu yang menggambarkan kemuliaan seorang ibu. Sosok yang selalu memaafkan, sabar dan tak pernah lelah menyayangi kita. Betapa mulia sosok ibu sampai-sampai di lagu itu disebutkan :
“hanya lewat restumu terbuka pintu ke surga”.

Ibu memang sosok yang layak mendapat berbagai kemuliaan, baik dari anak maupun suaminya. Ibu (perempuan), dengan keterbatasan fisiknya, ia malah dibebani kewajiban mengandung dan melahirkan. Dan dengan keterbatasan fisik jualah seorang ibu harus merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Mengapa demikian? Karena seorang ibu/perempuan dibekali kelembutan dan kepekaan melebihi laki-laki.

Perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang kemampuannya akan terus bertambah seiring berjalannya usia. Dijaman sekarang terutama di kota-kota besar dimana status “ibu pekerja” adalah hal yang sangat wajar. Selain mencari uang untuk keperluan rumah tangga, ia juga tak boleh lupa merawat anaknya, memberinya susu, serta mengajaknya bermain. Bayangkan seorang ibu yang bekerja di rumah ketika sedang chatting dengan mitra kerja tiba-tiba harus mematikan kompor karena air yang dipanasinya untuk menyeduh susu sudah mendidih, disaat yang bersamaan juga sang bayi terbangun dari tidurnya dan menangis, lalu seorang teman menelepon memberikan info terbaru mengenai tempat belanja kebutuhan sehari-hari yang sedang diskon gila-gilaan, disusul tukang kredit panci yang datang menagih. Sungguh ajaib seorang ibu!

Biarpun ibu memiliki kemampuan yang ajaib terkadang posisi ibu menjadi kambing hitam. Kalau ada seorang anak yang nakal, acap kali muncul gerutuan berbunyi, “Ih, bandel banget tuh anak. Siapa sih ibunya?”, dan lain sebagaianya yang intinya menimpakan tanggung jawab mendidik anak hanya kepada seorang ibu. Lain cerita kalau seorang anak memiliki prestasi, maka yang keluar adalah kalimat, “Wah, hebat banget anak ini. Siapa ya bapaknya?”.

Itulah mengapa menjadi seorang ibu adalah profesi yang sangat mulia dan tak tergantikan. Profesi dengan risiko pekerjaan paling tinggi tapi dengan gaji paling kecil, bahkan tidak dibayar. Merasakan sakit dan derita semasa mengandung, mempertaruhkan nyawa saat melahirkan, dan mengorbankan seganap jiwa raga, pikiran serta tenaga ketika membesarkan seorang anak. Namun seringkali pengorbanan tersebut dilupakan begitu saja ketika kita beranjak dewasa. Ketika kita mulai mengenal dunia dan memiliki tujuan hidup. Ingin rasanya membalas kebaikan sang ibu yang sebenarnya tak akan pernah impas kalau dibalas. Rasa hati hendak mengunjungi dan membagi kebahagiaan dan kesuksesan yang telah diraih. Tapi seringkali kita lupa dan kembali larut ke dalam pekerjaan dan kesibukan sehari-hari.

Mungkin seorang ibu tidak peduli berapa jumah uang yang pernah diberikan anaknya kepadanya, dan seorang ibu tidak peduli seberapa mahal dan mewah hadiah yang pernah diberikan anaknya. Yang pasti seorang ibu akan selalu mendukung keberhasilan untuk anaknya. Seorang ibu tak'kan pernah lelah mendoakan kebaikan untuk anaknya. Dan seorang ibu tak'kan pernah lupa menjadi donatur pertama ketika anaknya berada dalam kesulitan. Sangat layak bila seorang ibu menjadi sosok yang paling dikagumi. Sangat pantas bila surga itu ditempatkan di bawah telapak kaki ibu.

Begitu kagum dan takjub saya pada sosok ibu karena kesabaran, kelembutan, serta kekuatannya. Meski saya baru menyadarinya ketika beliau sudah tiada. Ketika beliau lebih dulu meninggalkan kami dengan cintanya yang tak tersisa. Dengan cinta yang ia berikan kepada semua orang. Dengan cinta yang ia tanamkan lewat sikap dan perbuatannya. Kelembutannya dapat kurasakan ketika ku beranjak dewasa. Dan ketulusannya dapat kupahami saat kucoba untuk berbagi. Saya tidak begitu mengenal sosok ibu saya, tapi kebaikannya dapat saya rasakan lewat cerita orang-orang sekitar. Bahkan saya sudah lupa suaranya karena saya masih kecil ketika beliau tiada. Makanya saya sedih banget kalau ada seorang ibu yang disakiti oleh anak maupun suaminya. Saya sangat sedih kalau seorang anak memarahi dan berante dengan ibunya.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Hanya doa yang bisa saya haturkan lewat Tuhan supaya ibu saya senang dan bahagia. Tak banyak yang saya inginkan. Saya hanya ingin minta maaf sama ibu saya di atas sana. Maafin saya kalau belum menjadi anak yang baik. Maafin saya kalau belum bisa membagi kebahagiaan. Dan maafin saya kalau saya belum pernah sekalipun bilang : “Ibu, aku sangat menyayangimu”.

Istirahat yang tenang, ibunda di surga. Tak ada seorangpun yang mampu menggantikan posisimu. Kasih sayangmu selalu menjadi inspirasiku. Terima kasih, ibuku.

* * *




(Ini dia, nih, lirik lagu Gita Gutawa yang bikin gue pengin nangis. Jangan pada ikutan nangis, yak)

SURGA DITELAPAK KAKIMU
Kunyanyikan sebuah lagu untukmu ibu
Sebagai wujud t'rima kasihku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang membesarkanku
Berikan yang terbaik untuku

Ijinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud di pangkuanmu
Temukan kedamaian di hangat pelukmu

Didalam hati kuyakin serta percaya
Ada kekuatan doa yang engkau titipkan
Lewat tuhan membuat semangat bila diri ini rapuh
Dan tiada berdaya

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lembut dan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya di hidupku
Tiada seorangpun yang dapat menggantimu


26042010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli