Teater Musikal Hansel and Gretel di Goethe Haus

Sabtu malam (9/10) sekitar jam tujuh selepas kelas penulisan di BauTanah, saya dan teman-teman (Salma, Ratna dan Wigi) tidak langsung pulang melainkan menonton teater musikal di Goethe Haus. Pertunjukan ini dibawakan oleh Komunitas Taman Seni Indonesia yang juga dikenal dengan sebutan Kotaseni. Pertunjukan yang berlangsung selama lebih dari sejam ini membawakan kisah klasik berjudul Hansel and Gretel. Selain teater musikal, ditampilkan juga sketsa dan lukisan hasil karya anak-anak Kotaseni yang dipamerkan di foyer yang masih satu bangunan dengan auditorium tempat pertunjukan dimainkan.

Sebelum pertunjukan dimulai saya menyempatkan diri melihat-lihat sketsa dan lukisan yang dominan dibuat denagn teknik arsiran dan aquarel. Belum habis kekaguman saya atas gambar-gambar tersebut, saya kebelet kencing dan buru-buru masuk ke auditorium karena pertunjukan akan dimulai.

Pertunjukan dimulai dengan membawakan lagu berjudul Sunday Morning yang dipopulerkan oleh grup musik Maroon 5. Lagu yang dibawakan dengan iringan orkestra musik klasik ini menghadirkan mood yang berbeda dibandingkan versi aslinya. Setelah itu dimulailah kisah Hansel and Gretel yang sesekali diselingi orkestra kemudian para pemusik memainkan komposisi sebagai jembatan untuk babak selanjutnya. Begitu seterusnya sampai pertunjukan selesai.

Selama pertunjukan berlangsung tak henti-hentinya tangan dan kaki saya mengayun mengikuti iringan musik yang memainkan komposisi dari Vivaldi, Bach, Engelbert dan Secret Garden. Sesekali saya juga tertawa karena akting para tokoh dan aktris yang lucu. Meskipun saya menikmati pertunjukan musikal ini, sebenarnya saya lebih menikamti musiknya. Bukan karena pertunjukannya kurang menghibur, melainkan karena saya belum bisa memahami betul apa itu seni teater karena masih jarang nonton teater. Atau kungkin karena memang beda ya, cara menikmati tetaer dan musik.

Jam setengah sepuluh malam lebih pertunjukan selesai. Kami beranjak ke Stasiun Cikini dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing diselingi obrolan-obrolan seputar tugas akhir kelas dan pertunjukan yang baru saja kami saksikan.

***

Pertunjukan malam itu adalah pertunjukan kelima yang pernah saya tonton. Ya, saya baru lima kali nonton teater! Jadi maklum kalo masih belum paham seluk beluk teater. Saya tertarik dengan teater karena dimainkan secara live dan tak ada adegan ulang seperti daam syuting film. Bukan hanya harus berdialog tanpa melihat naskah, tapi juga mendalami peran dan menghidupkannya dengan ekspresi dan gestur yang kadang dibuat berlebihan dan sesekali melakukan improvisasi. Yang repot kalau si pemain lupa dengan dialognya. Nah, disini kemampuan berakting sang aktor/aktris diuji supaya tetap mampu memainkan peran yang dilakoninya.

Bukan hanya seni peran, pertunjukan itu juga menampilkan koreografi. Diantara koreografi yang ditampilkan saya sangat suka koreaografi yang ditarikan oleh pemeran pohon anggur. Menari dengan gerakan mirip tari balet dan tidak bicara. Gerakan yang terlihat mengalir terlihat makin indah karena pemerannya tak pernah lepas dari senyuman.

Di luar seni peran dan tari, saya punya perhatian lebih dengan musiknya. Saya suka musik klasik karena musik ini mampu menghadirkan kesan megah, mewah dan dramatis. Selain nuansanya, saya sangat menyukai detil dan kompleksitasnya. Bagaimana memainkan banyak alat musik namun harus tetap harmonis dan tidak tumpang tindih sekalipun dimainkan dalam durasi yang cukup panjang bila dibandingkan dengan musik-musik populer dan mainstream.

Orkestrasi musik klasik mampu membuat saya terhanyut, dan itulah alasan utama kenapa tangan dan kaki saya tak bisa berhenti mengayun. Banyak dinamika, ragam nada yang variatif, dan mudah membangun mood. Menikmati musik orkestra seperti menikmati sebuah drama. Dimulai dengan alur yang lembut dan mengajak kita untuk menjadi bagian dari cerita, sampai akhirnya kita dibawa ke dalam konfilik, menemui klimaks dan berakhir dengan anti-klimaks. Ya, seperti itu musik klasik buat saya. Jenis musik yang umurnya ratusan tahun namun tetap abadi dan menjadi dasar dalam bermusik.

Ah, indah banget pokoknya. Terutama ketika menikmati string section. Disitulah letak kekuatan orkestrasi musik klasik. Para pemain yang duduk dibalik alat gesek dengan jumlah melebihi sepuluh orang membangun suasana berdasarkan komposisi yang dimainkannya. Saking indahnya saya pernah kepikiran untuk bisa bermain alat musik gesek, entah biola atau cello. Karena tiap getaran yang dihasilkannya mampu menusuk dalam sampai jantung sehingga suasana hati mudah terbawa dan menjadi lebih emosional ketika mendengarkannya. Dimainkan solo atau berkelompok, alat musik gesek tetap bisa dinikmati. Terdengar anggun dan eksotis namun bisa menjadi liar.

Teater dan musik. Hm, kayaknya menarik dipelajari. Meskipun tidak bercita-cita menjadi pemain teater atau musisi, saya melihat banyak hubungan antara teater dan musik dengan story telling dan komik. Sama-sama memiliki alur, konflik, klimaks dan anti klimaks, serta mampu menciptakan nuansa dan harus mampu membuat kesan. Dari teater dan musik juga saya belajar kalau sebuah karya seni tidak selamanya berdiri sendiri dan tegap kokoh dengan keegoannya. Berbagai macam seni bisa dikawinkan dan menghasilkan kaeya seni yang nggak kalah dahsyat dibandingkan seni induknya. Seperti teater dan musik yang menciptakan teater musikal, atau story telling dan gambar yang menghasilkan komik. Dan tidak menutup kemungkinan akan dihasilkan berbagai macam karya seni campuran yang akan menambah khasanah seni dunia dan memberikan ruang lebih banyak bagi siapa saja untuk bebas berkarya.

10 Oktober 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli