Menghidupkan Kembali Budaya Lama Lewat Teh Poci

Sudah dua malam saya ngeteh tubruk dengan teko porselen yang saya temukan di dalam lemari di dapur, dan saya menikmatinya. Ya, betul, sangat menikmati minum teh tubruk yang mengalir dari teko porselen ketimbang minum teh celup yang airnya langsung dari termos. Kenikmatan ngeteh gaya ini bisa dibilang cara kuno dan sudah ketinggalan jaman serta ribet bila dibandingkan dengan teh celup yang praktis.

Percaya atau tidak (ini hanya soal sugesti), ngeteh tubruk dari teko porselen memiliki cita rasa yang berbeda ketimbang teh celup. Teh tubruk masih menyimpan aroma teh yang lebih kuat dan pengalaman ngeteh-nya lebih terasa karena daun teh dan batangnya masih kasar daripada teh celup yang aromanya datar dan tidak ada potongan daun teh kering. Secara penyajian memang lebih repot, tapi secara pengalaman ngeteh jelas berebeda. Saya yang dulu lebih sering ngeteh celup, sekarang jadi lebih senang ngeteh tubruk karena memang menemukan perbedaannya. Teh tubruk emang kuno tapi klasik.

Saya pernah denger di radio asal muasalnya teh celup. Begini ceritanya. Pada jaman dahulu kala, orang Cina yang biasa mengekspor teh ke Inggris, suatu hari memasukan daun teh ke dalam kantung yang terbuat dari kain. Sesampainya di Inggris orang Inggris tidak membuka kantung pembungkus teh tersebut sebelum disajikan, melainkan mencelupkan kantung teh itu sebagai cara saji. Dari situlah orang-orang akhirnya terbiasa mengkonsumsi teh celup. Akurasi data tentang informasi ini memang tidak saya miliki, kalau ada yang mau bantu juga boleh ^^

Ngeteh, di beberapa negara mungkin sebatas minum air teh, tapi di beberapa negara ngeteh adalah tradisi, sebut saja Inggris, Jepang, Cina dan Indonesia. Di Inggris teh adalah minuman berkelas karena biasa dikonsumsi oleh para bangsawan. Di Jepang ada upacara minum teh yang dihiasai dengan prosesi yang lumayan ribet. Di Cina teh bisa dimafaatkan untuk terapi herbal. Di Indonesia sendiri ada istilah teh poci.

Poci, sebutan untuk teko yang terbuat dari tanah liat. Penyajian teh poci selain memakai teko yang terbuat dari tanah liat, supaya lebih afdol minumnya juga dari gelas yang terbuat dari tanah liat kalau perlu tatakannya dari tanah liat juga. Jangan lupa, gulanya gula batu!

Buat orang Jawa teh poci sering disajikan sebagai teman ngobrol dan nongkrong bersama kawan. Teh yang masih pahitnya masih terasapun akan selalu manis manakal tercipta kehangatan lewat kebersamaan yang ada. Sayangnya saya tinggal di kota dan jarang sekali menemui acara moci (kita singkat aja "Minum Teh Poci" jadi moci), dan saya juga kurang tahu apakah dulu ada tradisi moci di keluarga saya karena keluarga saya keturunan Jawa? Setahu saya, dulu waktu bapak-ibu saya masih ada, saya pernah lihat ada seperangkat poci. Ya, mungkin dulunya mereka sering moci juga, hanya saja anak-anaknya tidak menuruninya.

Terakhir kali saya moci di Bakmi Jogja, restoran yang ada di bilangan Darmawangasa, Jakarta Selatan waktu puasa kemarin. Airnya masih sangat panas dan mengeluarkan uap beraroma teh. Saya tuang ke gelas dan dicampur gula batu, nunggu agak adem baru minum --oh, ya, saya orang yang tidak suka makanan-minuman panas. Rasanya, sangat orisinil dan benar-benar asli teh. Nggak bisa dabandingin dengan teh celup. Dengan atau tanpa gula, aroma khas teh pada teh tubruk tetap terasa. Pokoknya ngeteh yang sebenarnya adalah moci, nggak tergantikan!

Dari pengalaman ngeteh tersebut, saya memandang nge-teh poci bukan sekadar pengalaman kuliner. Tapi ada budaya, sejarah, dan tradisi (meminjam istilahnya Sigit Susigit). Tradisi ngeteh yang sudah ada sejak lama, sampai akhirnya tergusur oleh modernisasi namun tetap bertahan dengan kekunoannya. Tradisi kuno yang sarat makna filosofis sekaligus menjadi identitas. Sangat disayangkan bila tradisi moci tidak dipertahankan. Dan sangat disayangkan sudah nggak ada poci lagi di rumah saya, yang ada dua set teko bergaya eropa. Padahal kalo pake poci, istilah teh poci dan cita rasa lokalnya akan lebih sempurna.

Yah, apapun itu, teh poci tetap yang paling asik.
10 Oktober 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli