Mata yang Mengikat

Sore mendung itu aku dan kawan-kawam berbincang pada sebuah meja bundar di kantin kampus yang ramai dan terkenal. Obrolan dengan bahasa yang kotor, jorok dan blak-balakn keluar dari mulut pria-pria diiringi tawa keras bagai tanpa aturan.

Sesosok manis melintas dan rupanya memaksaku mengalihkan perhatian padanya. "Aku mengenalnya", ucapku dalam hati. Tapi di mana, kapan, dalam kesempatan apa? Ia, yang saat itu mengenakan baju lengan panjang berwarna kuning kemudian pergi. Aku bertanya pada orang di sebelahku, "siapa perempuan itu?". Seakan tiada asing bagiku, tapi aku sama sekali tak pernah ingat pernah melihatnya di mana

Beberapa hari kemudian, aku melihat ia lagi dalam suatu kesempatan. Tampak pintar sebagai pemandu obrolan dan catatan di pangkuannya. Seusai itu aku langsung mendekatinya, berkenalan dan,... Rupanya orang sepertiku bukan 'orang asing' baginya. Tanpa kusadari kami sering berada pada satu keramaian namun tiada bertemu dan saling kenal.

Di tengah perkenalan dan basa-basi aku sempat kehilangan kata-kata dan tak mampu menyimak apa yang ia suarakan karena satu hal; saat kutatap matanya yang jernih, dengan bola hitam besar seperti Black Hole, dan aku lah objek melayang yang disedotnya...

Kata seorang teman, rasa 'akrab' yang ada padaku saat melihatnya adalah pertanda adanya sebuah ikatan. Ikatan yang sudah ada sejak kapan, mengambang di alam semesta hingga kemudian dipertemukan antara pemiliknya. Dan aku aku sendiri masih belum sepenuhnya paham, ikatan apa yang ada antara aku dengan si pemilik mata hitam-besar-indah itu?

Aku tak berusaha menangkap citra sepasang matanya lewat kamera, melukisnya dengan kuas atau pena, aku hanya mengabadikannya dalam ingatanku saja. Karena matanya begitu indah untuk digambarkan. Ya, begitu indah sampai-sampai aku tak berani untuk memandangnya lagi bila suatu saat kami bertemu kembali. Aku takut pusaran di bola matanya benar-benar menyedotku masuk ke alamnya dan tak sanggup keluar lagi.

Ah, harus kuakui ini perama kali aku melihat mata secemerlang itu. Tiada bercak merah atau guratan di atas permukaan putihnya, pupil yang begitu pekat yang membuatku tak bisa melihat apa-apa di dalamnya selain bayanganku sendiri.

Sepasang matanya telah mengikatku. Sepasang purnama hitam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli