DEKADENSI KARAKTER PARA MUSISI INDUSTRI di NEGERI INI

(Kenapa gw kasih judul seperti di atas karena yang mau gw bicarakan hanyalah musik dalam lingkup industri saat ini)

Setiap kali gw lihat TV dan muncul iklan-iklan atau preview video klip dari band-band baru,gw selalu ketawa dan pengin muntah (untungnya nggak muntah beneran). Sumpe, deh, beneran. Kebanyakan band-band sekarang mainin musik pop melayu, atau pop cengeng. Ada penyeragaman (entah disengaja atau tidak) warna musik, dan yang paling parah penyeragaman warna vokal. Tampaknya sekarang para vokalis masih berbondong-bondong "men-Charly-kan" dirinya setelah sebelumya ramai-ramai "meng-Ariel-kan" dirinya.

Sejenak gw membayangkan masa beberapa tahun lalu ketika industri musik Indonesia belum semeriah sekarang. Musisi dulu menggarap lagu benar-benar bagus dan berkarakter, dan yang paling penting, berisi. Dari segi musik mereka masih mudah untuk dibedakan dan dari segi lirik mereka menulisnya bisa sangat indah dan sarat makna. Sebut saja lagu seperti Semut Hitam, Panggung Sandiwara, Kolam Susunya Koes Plus (judulnya bener nggak?), atau lirik-lirik lagunya Ebit G. Ade. Bila dibandingkan dengan musik-musik sekarang, nggak jauh-jauh dari urusan biologis (kata si Radit) dan pemenuhan hasrat biologis (sama aja yah?)

Memang, tema cinta selalu menjadi daya tarik dalam hal apapun,hanya saja yang bikin gw nggak tertarik adalah penyampaian dan kontennya (lirik). Dalam lagu-lagu tersebut, para vokalis laki-laki itu berlomba menjual harga diri mereka demi kejelasan status dari pacarnya, entengnya melakukan perselingkuhan, bangganya menjadi seorang mantan, atau pun tema-tema yang bermakna "till death do us part". Kelatahan para musisi bukan hanya dalam konten lagu, tapi juga gaya bahasa. Kalo gw perhatikan, ada kecenderungan tren bahasa yang digunakan satu grup band/penyanyi yang kemudian ditiru oleh grup band dan penyanyi lain.

Tema-tema cinta, selain digemari oleh band-band pop bergaya rock, banyak juga grup-grup berkonteks rock dengan konten pop atau balada. Distorsi gitar yang dibuat tebal, dentuman drum yang terkesan hard, gaya panggung jaket kulit-ketat, dan berbagai imej musik rock yang ditampilkan. namun dibalik itu semua mereka memainkan musik-musik dengan konten (lirik) pop. Pitch vokal yang di-scream-scream-kan, strumming gitar layaknya memainkan musik punk, dan head baging para drumer supaya terlihat seperti John Bonham saat memainkan lagu "Rock 'n Roll", tapi ujung-ujungnya pop melayu.

Hoalah, sampai kapan wajah industri musik di Indonesia berdandan ala pop melayu? Gw bukannya sentimen sama pop melayu, cuma nggak habis pikir aja. Dengan banyaknya band pendatang baru tapi tidak membawa nafas baru. Yang ada hanya wajah baru saja, musiknya sih masih yang kemarin-kemarin aja. Tidakkah ada para band pendatang baru itu memiliki karakter? Adakah band pendatang baru itu berani membuat musik yang nggak sok nge-rock dan lirik-lirik nakal tapi nggak kampungan? Atau, sudah ditakdirkan beginikah industri musik Indonesia? Menjadi mesin pencetak uang secara instant lewat RBT dan juga penyeragaman karakter? Menjadi artist yang ngartis dengan dandanan yang lebih cocok menjadi pemain sinetron karena penampilan lebih penting daripada musikalitas? Adakah musisi-musisi pendatang baru punya karakter dan bermusik secara jujur, nggak hanya tuntutan produser? Mungkinkah bermunculan musisi-musisi yang musiknya lebih keren daripada tampangnya? Atau, seperti yang menjadi mimpi gw (mungkin juga mimpi teman-teman yang lain), kapan industri musik Indonesia memiliki peta pasar yang seimbang antara musik pop, Rock (bukan pop berkedok ), R'n B, blues & jazz, metal, dimana mereka bisa bersaing di dunia industri dan punya acara TV masing-masing dan menghiasi tangga lagu yang sama? Rasanya tidak perlu dijawab, karena masalahnya begitu kompleks. Ada kompleksitas secara vertikal (produser - musisi- pasar) dan juga secara horizontal di pasar. Dalam hal ini, tetap, pemilik modal yang paling berkuasa dan pasar (pendengar) terpaksa mendengarkan apa selera para pemilik modal, bukan pemilik modal yang mau mendengarkan kemauan pasar. Yah, setidaknya itu pendapat gw, nggak tau bagaimana pendapat teman-teman? Suka nggak suka, inilah industri musik di Indonesia.

(121209)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli