SUKA DAN BENCI POP DALAM WAKTU YANG BERSAMAAN

Pop. Mungkin itulah jenis musik pertama yang gw denger dan nikmati (setelah gw mengerti dan suka musik). Ketika gw kecil, selain kakak-kakak gw di rumah suka denger lagu pop,gw juga suka nonton TV dan sering menyaksikan video-video musik pop. Jadilah, lama-kelamaan gw menyukai musik pop. Musik yang ringan, mudah dicerna, dan bisa diterima siapa saja.

Waktu berjalan, dan referensi musik bertambah. Bukan hanya jenis musik pop, gw juga mulai mendengarkan rock, blues, jazz, punk, dan perbendaharaan musik gw terus bertambah hingga gw mendengarkan musik-musik instrumental dan world musik. Meski begitu, hingga saat ini gw tetep suka sama yang namanya musik pop meskipun tidak pernah secara khusus menyukai seorang penyanyi atau musisi pop.

Melihat perkembangan musik yang terus berkembang, entah kenapa gw yang awalnya suka musik pop perlahan mulai ilfill (kalo bahasa gaulnya, mah) dan makin males dengerin lagu pop, terlebih lagu-lagu baru yang sering diputar di acara tangga lagu. Temanya sama. Jenis musiknya sama. Gayanya sama. Fashionnya sama. Pokoknya serba sama, dan itu yang membuat gw jenuh akan pop. Meski begitu, ada juga lho beberapa lagu pop yg gw suka macem Demi Waktu (Ungu), Matahariku (Agnes Monica), Indah Pada Waktunya (Delon), ataupun lagu-lagunya Prisa. Gw suka karena lagunya, bukan penyanyinya.

Ditengah gempuran musisi-musisi pop yang menjamur itu, gw akhirnya kebingungan untuk menentukan pilihan, siapa musisi pop yang harus gw dengar. Tiap minggu selalu bermunculan band-band baru, yang sayangnya tidak menampilkan musik yang baru, bahkan cenderung ikut-ikutan. Kala tren pop alternatif, semua ikutan. Trennya pop bergaya rock, semua ikutan. Dan trennya melayu, semua ikut-ikutan. Sampai-sampai gw kebingungan sendiri, ada nggak sih musisi yang nggak ikut-ikutan? Memang diakui tidak ada hal yang bener-bener asli, tapi setidaknya para pekerja-pekerja seni itu mampu membuat ramuan yang nggak "ngikutin".

Sampailah pada puncak keruwetan memilih musik pop untuk dinikmati, dan gw melakukan otoseleksi dengan tidak mengikuti perkembangan musik pop, apalagi menjadi fans para musisi pop baru. Untuk apa gw ikuti, toh beberapa tahun lagi nama mereka juga bakal lenyap ditelan band-band baru yang lebih nge-pop (atau lebih melow dari pop melayu) dan harus mengikuti keinginan label.

Begitlah. Musisi pop saat ini tidak bertahan lama. Apalagi yang ikut-ikutan, dijamin cuma sebentar umurnya. Mereka hadir sesaat untuk memenuhi pasar dan memenuhi kantong perusahaan. Mereka hadir menjadi ladang uang para EO lewat panggung ke panggung, dan, yang pasti album-album mereka dibajak (Ini, dia, nih, yang pada akhirnya bikin mereka makin terkenal).

Huff, lelah sudah mencari alternatif musik pop. Jadinya gw nggak pernah update perkembangan musik pop, dan cenderung menikmati pop-pop lama saja atau musik pop rekomendasi teman. Musik pop, tetaplah populer di tengah dunia yang makin nge-pop.

(161209)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli