POLISI ; OPS SIMPATIK JAYA YANG (BUAT SAYA) SANGAT TIDAK SIMPATIK

Malam itu saya pulang larut, sekitar pukul satu dini hari. Dari Pakubuwono menuju Depok, seharusnya saya belok kiri setelah melewati lampu merah di kawasan Pondok Indah, tapi saya malah lurus terus ke arah Lebak Bulus. Saya memang sering nyasar, apalagi kalau sudah malam, karena memori saya akan lokasi dan jalanan kurang bagus. Saya pun langsung putar arah ke arah Kampung Rambutan dan ketika saya berputar di perempatan besar (lupa namanya) yang terusannya ke arah Jakarta Barat dan sepi itu, saya melihat gerombolan polisi sedang melaksanakan razia. Damn! Saya pasti kena karena saya belum memiliki SIM. Dan betul saja, saya kena tilang karena tidak memiliki SIM, dengan nomor surat tilang: 1752179 B, dan no. Reg :1436.

Kesal! Saya kesal. Tapi bukan kesal karena ditilang.Dengan lapang dada saya terima tilangan itu karena saya bersalah mengendarai sepeda motor tanpa memiliki SIM. Yang membuat saya kesal adalah sikap dan perlakuan dari para polisi tersebut. Setelah saya diminta meminggirkan motor, polisi tersebut menyuruh saya menghampirinya. Karena suasana ramai dan cukup berisik saya tidak sadar kalau dari tadi polisi itu terus meneriaki saya (dengan nada tidak sopan). Dengan gugupnya saya memundurkan motor sampai tas saya terjatuh. Ketika tas saya jatuh polisi tua yang meneriaki saya meledek saya dengan kalimat mengejek, "kenapa, bingung!", dan sambil terus memundurkan motor mendekati polisi itu, secara tak sengaja footstep belakang motor saya menyentuh (bukan menggores) badan mobil polisi. Kontan saja salah seorang dari mereka marah dan berteriak, "woi, nanti lecet!", sekaan saya telah menginjak-injak harga dirinya.
Saat diperikasa dan kadapatan tak memiliki SIM, polisi itu menilang saya sambil sebelumnya menawarkan jasa kemudahan, "mau dibantu nggak?". Awalnya saya tertarik dengan tawaran dari polosi tua itu supaya tidak usar repot ikut sidang, tapi saya tidak respek sama sekali dengan sikapnya sehingga saya cuek. Sambil menulis, datang seorang polisi lagi meminta surat tilang karena kehabisan, dan kebetulan si polisi tua itu juga hampir kehabisan surat tilang. Akhirnya saya dipaksa menandatangani. Ya, dipaksa! Saya berani bilang begitu karena cara polisi tua itu meminta tanda tangan saya dengan carab cukup kasar (kecuali kalau berkasar ria adalah salah satu sifat polisi ketika bertugas).

Setelah selesai, saya pun berterima kasih kepada polisi tua itu karena telah menegakan keadilan untuk saya. Saya melanjutkan perjalanan pulang dengan dongkol. Bukan dongkol karena kena tilang, melainkan dengan sikap polisi tersebut. Polisi yang sedang bertugas menjalankan OPS Simpatik Jaya (BTW, kepanjangan OPS apa, ya). Simpatik? Gak salah, lu, yang bener aje? Sikap mereka sama sekali tidak menimbulkan simpatik. Sikap mereka sama sekali tidak menunjukan sikap pelayanan (slogan polisi; melayani dan melindungi).

Tanpa bermaksud berpikir jelek, saya anggap saja sikap mereka yang menyebalkan itu (membentak, memaksa, mengejek) adalah salah satu prosuder penilangan, atau kalau mau lebih manusiawi lagi sikap-sikap tersebut adalah dampak pekerjaan pelayanan mereka yang sangat melelahkan karena menghadapi para pengendara "bermasalah" (termasuk saya) hingga mereka tak sanggup lagi mengendalikan emosi. Atau karena situasi yang ramai dan berisik memaksa mereka untuk bicara dengan volume keras? Nggak tau juga, yah, karena saya tidak tahu bagaimana rasanya menajadi polisi. Yang jelas saya berterima kasih karena polisi telah menghukum saya, dan ini adalah bentuk teguran dari Tuhan supaya saya segera membuat SIM. Saya sadar tugas polisi (maksudnya polisi yang nilang saya: POLANTAS) sangat berat. Bertugas siang-malam, di tengah terik matahari dan dinginnya angin malam, serta mesti berpatroli untuk memastikan situasi jalanan dan lalu lintas aman terkendali. Jadi tidal selayaknya saya marah karena saya memang salah, terlebih saya masih mampu mengendalikan emosi dan tidak perlu membentak sesorang untuk melakukan sesuatu. Selamat bertugas polisi (maaf tidak menyebut "Pak", karena polisi bukan nama orang), terima kasih telah bekerja dengan tulus dan sepenuh hati melayani masyarakat. Terima kasih karena selalu menegakan kedilan serta memberikan kemudahan dalam menjalani hukuman. Terima aksih juga atas jasa besar dan dedikasimu untuk negara.

06 Mei 2010

Komentar

  1. toyor aja met..

    Tapi itu yang dinamakan psikologi untuk orang-orang.. mereka sengaja untuk membuat semua orang oanik dan takut.

    Tanpa sadar mereka lupa akan tugas mereka;
    melindungi rakyat, bukan mencerca dan maki

    tapi disadari juga, untuk orang-orang yang tidak kasar kerap menjadi sasaran kemarahan polisi, karena banyak masyarakat juga yang bertindak kasar dan tidak patuh aturan..

    Mereka salah karena bertindak kasar, semestinya merka bertindak tegas... kalo tidak begitu, makin banyak orang yang badung (seperti dirimu, tdk punya SIM) untuk melangggar aturan..

    cherrss..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli