A Beautiful Boxer




Malam Minggu kemarin (23/01) saya menonton sebuah film yang sangat bagus di Metro TV pada pukul 21:30. Judulnya “Beautiful Boxer”. Film asal Thailand ini menceritakan kisah perjalanan Nong Toom Parinya, seorang petarung Muay Thai (Thai Boxing) yang mengubah jenis kelaminnya dari laki-laki menjadi seorang wanita.

Sejak kecil sebenarnya Toom sudah memiliki ketertarikan akan hal-hal berbau wanita, seperti tari-tarian dan menghias diri. Di film ini ketertarikan Toom akan dunia wanita dan hubungannya dengan dunia tarung disimbolkan lewat adegan ketika Toom melihat pertandingan Muay Thai dan tari-tarian dalam sebuah pasar malam. Sebuah adegan yang sangat kontras, sekontras dirinya, seorang petarung yang bergelut dengan kekerasan namun sebenarnya hatinya sangat lembut.

Keterlibatan Toom dengan dunia tarung bermula ketika ia secara tak sengaja memenangkan sebuah pertarungan di arena pasar malam dan mendapatkan sejumlah uang yang kemudian dibelanjakan untuk kebutuhan keluarganya (keluarga Toom sangat miskin, bahkan membangun rumah pun dari kayu ilegal). Keesokan harinya, adiknya yang berniat menjadi petarung mengajak Toom melihat anak-anak muda berlatih Muay Thai di sebuah sasana yang sangat sederhana dan terkesan ”miskin”. Bakat bertarung Toom terlihat ketika sang pelatih, Pi Chart melihat bagaimana Toom melemparkan tendangannya pada sebuah samsak.

Awalnya Toom tidak tertarik untuk mengikuti latihan hingga ia berniat untuk berlatih setelah ia tahu kalau menjadi seorang petarung bisa mendapatkan banyak uang. Di awal pelatihannyapun Toom masih malas-malasan dan kurang termotivasi untuk berlatih dengan kerasa, sampai suatu hari istri sang pelatih yang juga tikang masak di sasana mengajak Toom melihat para seniornya berlatih di luar jadwal latihannya. Toom melihat betapa indah gerakan Muay Thai, bagai indahnya gerakan tarian yang gemulai dan sangat ”perempuan”. Dari sinilah Toom mulai serius berlatih. Selain karena menemukan keindahan pada gerakan Muay Thai, juga karena uang Toom mulai giat berlatih.

Waktu terus berjalan. Nama Toom mulai terkenal dimana-mana dan sering memenangkan pertandingan. Namun, sisi ”kewanitaan” Toom makin tak tertahankan, dan keinginannya untuk menjadi seorang perempuan semakin jadi, hingga tak ada yang dapat menghentikan niatnya untuk melakukan operasi ganti kelamin. Toom pun mengakhiri karirnya sebagai petarung dan melanjutkan karirnya sebagai aktris dan model di Thailand.

Kenapa film ini saya bilang ”SANGAT BAGUS” karena tema cerita dan pesan moral yang terdapat pada film tersebut. Dari segi cerita, film ini mengangkat sebuah kontras, yaitu ”kekerasan” dan ”kelembutan” dalam satu badan (Toom). Selain itu, di film ini kita dipaksa membuka mata kembali, bawha kaum waria selalu menajdi kaum yang termarjinalkan dimanapun mereka berada. Mereka dianggap aneh, jijik, dan tak layak hidup. Padahal mereka juga manusia. Tapi kita juga tak bisa mengingkari, kalau manusia lahir mewariskan gen laki-laki dan gen perempuan dari orangtuanya, juga tak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia punya potensi menjadi seorang yang transeksual. Tidak ada laki-laki yang macho 100% dan tidak ada perempuan yang feminim 100%. Semua saling melengkapi dan menjadi sebuah harmoni, seperti jiwa Toom yang sudah cacat sejak lahir dan melakukan operasi ganti kelamin supaya jiwa dan tubuhnya lebih harmonis.

Pesan-pesan di film ini pun tak kalah bagus. Kita akan tersadarkan betapa setiap manusia berhak untuk melakukan yang mereka inginkan dengan penuh tanggung jawab. Siapapun bebas bermimpi menjadi apa dan siapa mereka kelak. Setiap manusia juga berhak menerima perlakuan yang layak dari sesamanya; laki-laki, perempuan, atau waria sekalipun. Sejak dilahirkan mereka sudah memiliki hak hidup untuk dicintai dan mencintai. Menjadi waria memang pilihan, tapi bukanlah pilihan yang sebenarnya diinginkan. Seperti yang Toom bilang, ”sulit menjadi laki-laki, dan berat menajdi perempuan”. Artinya kaum waria sendiri merasakan betapa sulitnya hidup ”menyimpang” dan berseberangan dari orang-orang kebanyakan. Sayangnya masih banyak orang-orang yang tidak menganggap keberadaan mereka. Waria tidak punya tempat, padahal waria juga manusia yang lahir dengan potensinya masing-masing.

Huff...Setelah nonton film ini saya sangat terinspirasi sekaligus tak habis pikir. Ya, Toom menjadi inspirasi, bahwa setiap manusia punya hak dan harus berjuang demi orang-orang yang mereka sayangi (keluarga), tak peduli apa dan siapa kita. Nggak habis pikirnya, di Thailand sana waria mendapatkan tempat dan diakui, nggak seperti di sini yang ngakunya beragama, demokrasi dan toleransi, tapi menganggap para waria tak lebih daripada makhluk yang ”aneh” dan menakutkan, dosa besar, bahkan banyak cowok-cowok yang pada ngibrit begitu ngeliat banci ngamen. Pokoknya nih film keren banget dah, sumpah. Menyadarkan ita betapa perbedaan dan menjadi ”berbeda” bukanlah hal yang menakutkan dan layak dihindari. Karena perbedaan itu sendiri yang membuat hidup ini harmonis dan nggak monoton.

(280110)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli