BELAJAR MENCINTAI

Sebagian orang bilang kalau cinta itu datang dengan sendirinya dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi sebagian lagi bilang kalau cinta itu datang pada pandangan pertama. Kalau memang begitu, berarti saya tidak termasuk yang sebagian orang bilang tersebut. Karena bagi saya, cinta itu datang, tumbuh dan mulai bersemi di dalam diri karena kita sendiri yang mencoba untuk ”belajar mencintai”.

Se-lama apapun hubungan yang dijalani, bila tidak ada pihak yang memulai untuk mencintai maka tidak akan ada cinta hadir di tengah mereka. Kemudian cinta bisa hadir dan seseorang belajar untuk menerimanya ketika cinta itu datang. Di saat kita membuka hati untuk orang lain, di saat itulah cinta mulai masuk. Bisa berupa rasa cinta yang bersifat orang tua-anak, persaudaraan, persahabatan, lawan-jenis, ataupun cinta karena tanggung jawab dan dedikasi.

Lalu muncul pertanyaan, siapakah yang layak kita cintai? Jawabannya adalah ;semuanya. Entah itu kawan, lawan, binatang atau tumbuhan pun layak dicintai. Cinta bisa merasuki jiwa siapa saja karena cinta itu tidak bersyarat, terkadang tidak beralasan dan tidak masuk akal. Kita tentu rela berkorban demi orang-orang yang kita cintai tanpa meminta syarat apapun dari mereka, dan kita bisa saja memberikan cinta yang kita miliki tanpa bisa memberikan alasannya kenapa.

Cinta juga sering dikait-kaitkan dengan orang-orang berpasangan (pacaran atau suami istri, atau kumpul kebo juga bisa). Misalnya kenapa kita bisa mencintai seseorang dengan perasaan lebih sedangkan biasa saja ke orang lain. Atau ketika kita memilih untuk mencintai seseorang yang (mungkin) tampak biasa-biasa saja dan kurang menarik menurut orang lain, tapi menurut kita istimewa. Tapi tidak selamanya cinta itu milik orang yang berpasangan, karena masih banyak orang yang mencintai bukan atas dasar lawan jenis (berpasangan) dan masih banyak juga orang yang mengobral cintanya hingga timbul yang namanya "perselingkuhan".

Belajar mencintai bisa menjadi mudah dan sulit. Belajar mencintai akan menjadi sulit bila kita masih menuntut sesuatu terhadap seseorang sekalipun tidak kita bicarakan. Terkadang kita tidak bisa menerima hal-hal kecil dan sepele yang dimiliki seseorang. Kita juga selalu berharap bahwa orang yang kita cintai menjadi seperti apa yang kita inginkan. Padahal setiap manusia dilahirkan unik dan memiliki pembeda masing-masing. Memang, tidak ada manusia sempurna yang sanggup memenuhi keinginan-keinginan kita secara penuh, tapi masih ada orang yang memiliki niat yang sempurna untuk memberikan cintanya. Dan kita juga bukan orang sempurna yang sanggup menerima segala kekurangan yang dimiliki orang lain, tapi setidaknya kita belajar menerima atau "pura-pura" menerima. Ya, "pura-pura" menerima saja. Karena orang yang terbiasa melakukan kepura-puraan, pada akhirnya kepura-puraan tersebut akan menjadi realita hidupnya.

Setelah melalui proses mencari, memilih dan mengevaluasi, tibalah saatnya untuk memutuskan, siapa orang yang akan kita cintai. Namun bila keputusan mencintai itu tidak sejalan dengan penerimaannya, biarkan saja. Tak perlu berharap apalagi berharap-harap. Diterima sukur, nggak diterima jangan sedih. Easy going aja, sebab berpasangan atau pun jomblo tidak mencerminkan apa-apa, karena orang yang berpasangan belum tentu bisa menjalin hubungan intimnya (bukan seks) secara baik, dan orang jomblo juga tidak selamanya orang yang sanggup berdiri sendiri.

Over all, siapapun, dimanapun, kapanpun, belajarlah untuk mencintai. Memberi tanpa harus menuntut balik. Mengantarkan tanpa harus diminta. Menemani tanpa harus dipanggil. Memang tidak semudah yang diucapkan. Tapi selama ada keinginan untuk belajar mencintai, cinta akan menjadi mudah untuk dilalui dan diterima.

* * *

Ini adalah artikel tentang CINTA kedua yang saya tulis di tahun 2010. Awalnya memang berat untuk kembali nulis tentang cinta, karena, selain sumber insiprasi saya sudah sudah tidak bisa dan (kurang) pantas (lagi) untuk saya jadikan inspirasi, saya juga orang yang dalam posisi senggang (maksudnya lagi kagak pacaran, gitu). Setelah ngabisin sebatang rokok yang asiknya rame-rame dan dua potong ikan tuna yang belum dimasak, lalu saya nyeduh kopi yang ada gambar kapalnya terus nyetel lagunya Alena, kemudian mulai mengetik! (diketik, bukan ditulis, hehehehehe).

05-Februari-2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli