ME-MANGA-KAN INDONESIA II (KARAKTER YANG INDONESIA BANGET)

Pada artikel sebelumnya (me-manga-kan Indonesia) saya bilang kalau di Indonesia memang tidak ada standar baku dalam membuat karakter. Karena selain tidak ada yang membakukan, juga tidak ada yang menyetujui baik secara langsung atau tidak karakter apa yang cocok dengan komik Indonesia. Dan di artikel ini masih membicarakan tentang citra juga.

Suatu hari, di tengah hari bolong ketika saya main ke Akademi Samali, saya ngobrol dengan mas Zarki. Beliau mengutip omongan seseorang (yang saya juga lupa siapa orang itu),katanya komik yang Indonesia banget adalah komiknya Tatang S. Yap! Komik-komik buatan Tatang S. tentu sudah sering kita lahap semasa SD dulu (tahun 90-an). Secara konteks (visual) dan konten (cerita) komiknya Tatang S. memang Indonesia banget. Karakternya adalah karakter wayang punakawan (Petruk, Semar, Gareng + Bagong) yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga. Dengan tarikan garis tebal dan karakter wajah yang Indonesia, serta cerita seputar hantu (mistis) yang Indonesia banget. Nah, untuk yang ini saya setuju. Di Indonesia memang banyak cerita-cerita dan mitos-mitos tantang hantu. Hantunya pun Indonesia; kuntilanak, tuyul kalong wewe, dan kawan-kawan. Dalam hal ini Tatang S. berhasil mengangkat tema yang Indonesia banget.

Selain Tatang S., kita bisa menemukan komik yang Indonesia banget pada komik strip di surat kabar-surat kabar. Selain visual karakternya yang cocok dengan Indonesia karena terlihat merakyat, ceritanya pun lebih merakyat. Ceritanya sangat dekat dengan kita semua karena membicarakan tentang keseharian dan isu-isu yang sedang terjadi di negeri kita. Ya, mereka tidak perlu pergi ke Perancis atau Amerika untuk membuat cerita, apalagi pergi ke luar angkasa untuk berbagi kisah dengan para alien. Mereka cukup menengok ke tetangga sebelah dari jendela rumah apa yang sedang terjadi, dan itu bisa menjadi bahan cerita. Sehingga para pembaca tidak merasa asing dengan cerita pada komik yang mereka baca karena secara naluriah manusia adalah makhluk yang takut dengan perubahan dan berubah, artinya mereka sudah terbiasa dengan rutinitas dan kegiatan/kejadian yang biasa mereka temui. Para pembaca akan lebih ”ngeh” bila ditawarkan sesuatu yang mereka kenal, dan akan menjadi ”sangat tidak ngeh” bila ditawarkan sesuatu yang benar-benar baru dan belum pernah mereka lihat sama sekali, sampai akhirnya mereka malah menyukainya.

Begitulah, selain menciptakan jenis karakter yang berbeda dari yang sudah sangat populer (untuk membangun citra komik Indonesia), proses pembangunan citra juga bisa dibangun dalam hal cerita. Ada sangat banyak sumber yang bisa kita gali di negeri kita ini. Dari kesenian, makanan, masyarakat mayoritas, bahkan makhluk halusnya yang sangat beragam. Saya yakin, kita tidak akan kehabisan ide karena sumber ide di negeri ini terlalu kaya untuk dieksplor dan diekspos. Datanglah ke pedalaman-pedalaman dan melihat kehidupan suku-suku pedalaman. Atau mampirlah ke rumah gubuk-rumah gubuk yang berdiri rentan di pinggir kali, atau, mampir dan ngobrollah dengan orang-orang percetakan dan para pemasang reklame di pinggir jalan. Disana akan ada banyak sekali sumber-sumber ide. Kalau sudah mentok, cari saja tempat lain. Misalnya main-main ke kampus-kampus yang mahasiswanya akan demo, ikut pengajian ibu-ibu, atau ngeliatin tukang nasi goreng numis bumbu. Pokoknya sumber ide nggak bakal habis deh!

Sumber-sumber ide di atas, selain populer (karena bukan hal asing) juga sangat populis, karena dekat dengan kehidupan yang sebenarnya. Jadi tak ada alasan untuk tidak mengangkat tema yang masih berbau Indonesia. Mari ngomik dan bikin cerita yang terasa Indonesianya ^.^


05 Februari 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli