ROCK GOES TO POP

Yeah, sekali lagi, ternyata istilah “rock and roll is dead” yang juga menjadi judul lagu penyanyi Lenny Kravitz benar adanya. Betapa tidak, musik rock (di Indonesia) yang awalnya bisa nangkring di tangga lagu-tangga lagu dan video klipnya sering diputar di acara-acar musik, kini bertransformasi menjadi lagu pop. Lagu pop di sini bukan dilihat dari segi konteks (lirik) tapi dilihat dari segi lirik.

Lihatlah betapa banyak band yang berpakain ala rocker dan memainkan distorsi, tapi lagunya lagu-lagu pop cinta-cintaan. Bahkan band yang vokalisnya memiliki warna suara rock tampaknya “malu-malu” untuk memainkan musik rock (musik + lirik). Tapi yang paling memalukan buat saya adalah band yang, setelah masuk industri dan namanya tenar, pelan-pelan menjadi nge-pop. Sekalipun dengan pakaian serba hitam dan atribut rock (bahkan metal!), lagu yang mereka bawakan tak jauh beda dengan musisi-musisi pop.

Sebagian grup rock yang telah masuk industri (major label), akan berubah mengikuti warna pasar. Dan lama-kelamaan karakter mereka tidak terasa lagi pada lagu-lagu baru mereka. Entah tuntutan pasar (kalau tidak mau dibilang dituntut oleh label), kehilangan jati diri, atau berubah menjadi band-band download-an? Band yang lagunya bisa di-download lewat operator telepon seluler dengan harapan cepat balik modal?

Kita tidak bisa naif memang, bahwa apa yang kita lakukan semuanya demi uang. Begitupun dengan band-band rock yang mentransformasi dirinya menjadi band pop, yang rela berubah demi uang. Rela mengubur idealisme mereka. Mereka mengubur idealismenya demi idealisme label, yaitu meraup untung sebanyak-banyaknya.

Itulah bedanya major label dengan indie label (independent/mandiri) dengan. Kalau major label bermusik berdasarkan idealisme label atau bisa dibilang pemilik modal, sedangkan band indie bermusik berdasarkan idealisme mereka masing-masing. Band-band indie itu beran mempertahankan idealisme karena mereka indie (mandiri).

Akhirnya, kembali ke awal pembicaraan. ”Rock and roll is dead!”. Rock & roll telah mati. Rock and roll telah kehilangan spiritnya. Spirit kemandirian dan kebebasannya. Mandiri dalam berkarya. Dan mandiri dalam menentukan nasibnya. Dan sebagai penutup, mari kita simak penggalan lirik lagu Superman Is Dead dan pikirkan saja sendiri kenapa mereka membuat lirik seperti ini.

”MTV hari ini. Rock & roll telah mati. Nyanyikan lagu orang lain, dan kau akan terkenal.
Coba tuk tak curiga, tak kuasa kumenahan. Penuh tatto juga piercing, nyanyikan lagu cengeng.”
(Superman Is Dead/Punk Hari Ini)

08-Februari-2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli