Aku dan Anak Kecil

Kamis sore kemarin (1/9), saya berkunjung ke rumah pak'lik saya di Citayam. Silaturahmi, sudah lama tidak bertemu dengan pak'lik dan keluarga. Asing. Itu salah satu perasaan yang kudapatkan. Bukan mereka asing dengan saya, melainkan saya merasa asing karena saya baru sadar, ada dua anggota keluarga baru disana. Seorang bayi, anak pertamanya sepupu saya yang perempuan, dan bocah perempuan berumur 3-4 tahun yang ternyata anak terakhirnya Pak'lik.

Sambil ngobrol dengan sepupu saya lainnya, (anak kedunya Pak'lik) kami ngobrol seru. Seputar literatur, sosial, hingga dunia kampus. Saya tidak menyangka bisa membuat obrolan yang menyenangkan dengannya, karena seingat saya sewaktu kami kecil, kami berdua lebih sering main berantem-beranteman dan saya selalu berada di pihak yang tertindas. 

Tak terasa sore makin padam dan adik terkecil sepupu saya, yang berumur 3 tahun itu dan dipangigl Fida, dari tadi mondar-mandir dan "mengganggu" percakapan kami. Sesekali ia keluar-masuk rumah dan mengintipku dari balik pintu. Momen seperti ini mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan lalu, dimana ada gadis kecil yang lebih kecil dari Fida menggodai saya ketika saya dan teman teman perempuan saya sedang makan di foodcourt.

"Kenakalan" Fida yang sesekali ditegur ibunya, membuat saya merasa nyaman dan dekat dengannya walau pada kenyatannya ini kali pertama aku dan Fida bertemu. Sore itu, Fida pecicilan di depanku dan aku menanggapinya. Sehingga, aku yang awalnya tak mangacuhkan Fida, malah asyik bermain dengannya. Dan Fida bukan satu-satunya anak kecil (terutama perempuan) yang menggodaiku dan mengajak bermain

Dulu pernah ada anak perempuan tetangga saya yang masih belajar merangkak dan sedang diemong tantenya, tahu-tahu minta kugendong. Kontan saja tanpa penolakan kuterima permintaan bocah itu. Aku mengajaknya keliling gang sambil melihat-lihat tanaman, aku titah dia berjalan dan dengan semangatnya ia melangkah. Kini anak itu sudah sekolah, mungkin kelas 3 atau 4 SD.

Lalu pernah suatu malam, ketika saya main ke rumah teman SD, ada anak kecil perempuan tetangga teman saya yang rumahnya persis menempel dengan rumah teman saya, sedang marah-marah kepada bapaknya. Hingga akhirnya gadis tersebut enggan disuruh pulang oleh bapaknya untuk tidur. Saya pun merayunya supaya mau pulang dan rayuan saya berhasil. Si anak dengan sukarela dan damai pulang ke rumah, walau akhirnya si bapaknya mengomel lagi, entah apa.

Bukan hanya dengan "anak orang" saja, kedekatanku dengan keponakan juga lumayan. Di rumah ada dua keponakan, yang satu kelas 4 SD, yang satu lagi masih TK B. Aku lebih sering bermain sama yang si TK B bernama Nadhif. Sama seperti kakanya, dia sangat senang menggambar dan gambarnya bagus (mencontek kakaknya), atraktif, kritis dan kalau becanda kadang-kadang "main fisik" dan kelewat jujur kalau ngomong. Komunikasi anatara aku dan Nadhif berjalan sangat lancar. Maksudnya, interaksi kami baik. Kami saling menanggapi kalau memang ada yang perlu ditanggapi. Tak jarang Nadhif memarahiku ketika berbuat salah dan ia tak pernah lupa akan sesuatu yang telah dijanjikan kepadanya.

Kedekatanku dengan anak-anak memang sudah lama kusadari. Bagiku, tidak sulit membuat anak-anak kecil untuk mau dekat deganku hingga mereka merasa nyaman. Tapi tidak semua anak bisa dengan mudah dan mau dekat denganku, tergantung situasi juga, hehehe. Ada banyak hal yang kurasakan ketika dekat dengan anak kecil. Aku bisa merasa nyaman, bebas, lupa umur, namun di sisi lain aku merasa memiliki tanggung jawab moral sebagai orang dewasa.Bagaimana tidak, sebebas-bebasnya bermain bersama anak-anak hingga saya merasa bagian dari anak-anak, saya tidak bisa bicara jorok, kasar maupun vulgar, hal yang biasa saja kalau diucapkan di depan teman sebaya atau teman dekay. Kemudian saya tidak boleh memaksakan kehendak, memarahi atau mengintimidasinya. Disatu sisi saya larut bersama kesenangan mereka, disisi lain saya patut menjadi panutan mereka.

Begitulah. Bermain bersama anak kecil merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Dan dari perasaan-perasaan senang itu muncul memunculkan sebuah pertanyaan yang jadi pe-er ke depannya. Apakah  rasa senang ini hanya sebatas senang-senang ini tetap sama ketika saya memiliki anak? Karena jujur saja, ada rasa "ke-bapak-an" ketika bermain bersama anak-anak, terlebih ketika menggendongnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli