Si Mata Bulan Sabit

Sudah hampir jam 3 pagi, dan mataku masih terjaga. Kubuka surat elektronik dan kucari namanya, nama yang sembilan bulan lalu sering memenuhi kotak masuk pesan ponselku. Aku masih ingat, ia pernah mengirimkan sebuah cerita pendek padaku yang menceritakan tentang pasangan suami istri yang mengalami 'perang dingin'. Keegoisan salah satu pihak yang berujung penyesalan ketika salah satu dari mereka pergi untuk selamanya. Pergi untuk selamanya? Bukankah setiap manusia akan begitu. Namun yang tak kalah menyakitkan adalah kepergian seseorang untuk waktu yang sangat lama.

Kembali aku teringat ketika aku masih dekat dengannya, wanita sang pengirim cerpen. Bukan, aku bukan ingin membicarakan cerpen buatannya, tapi bagaimana dulu kami menjalin kedekatan yang setelah kupikir-pikir ternyata semu.

Pertama kulihat ia adalah di sebuah acara bazar komunitas yang diadakan di sebuah mal di kawasan Sudirman. Dari kejauhan aku melihatnya, dan adalah hal sepele yang membuat pikiranku tak beranjak saat itu; melihat kenyataan bahwa ia memiliki selera berpakain yang cukup baik dan sadar fesyen. Ia berbalutkan baju polos berwarna hitam yang longgar dan panjang hingga paha, celana ketat hitam (mungkin legging) dan boots coklat dan kalung salib berwarna hitam melingkari leher mungilnya. Sedikit mengagumi pesonanya, wajahnya tampak seperti anak kecil dengan mata sipit yang tak bisa menyembunyikan kecantikannya.

Dengan iseng dan sedikit nakal, aku menyapanya di Facebook dan sejak saat itu kamu "resmi" berteman. Dilanjutkan dengan Yahoo Messenger kami pun beranjak hingga pesan singkat pada layar ponsel. Komunikasi antara kami berdua berjalan dengan sangat intens, hingga akhirnya kelewat intens dan aku merasa telah melakukan kesalahan dengan membuatnya tidak nyaman dan kami putus hubungan.

7 bulan setelahnya berlalu dan aku kembali menyapanya. Tak kusangka, ia menerimaku dengan tangan terbuka. Kujalin kembali apa yang pernah ada dengan lebih baik, berharap kami bisa saling bersentuhan nantinya. Dan benar, hubungan (pertemana) ini berjalan sedikit lebih lama dari tahun sebelumnya. Lebih lama tentu lebih dekat, hingga aku tak mau jauh darinya. Tak mau jauh? Berani benar, pikirku. Bahkan kami bertemu tak lebih dari lima kali.

Kali ini emosiku padanya membuncah. Nafsu yang muncul dari hormon testosteronku mengendalikan jiwa, pikiran dan perasaan. Sedikit berbalas, kusangka ia menanggapi "rasa lelaki"-ku itu. Ia pun meminta maaf atas kedekatan selama ini, yang sebenarnya menyakiti. Menyakiti siapa, tentu saja aku. Ia tak mungkin membagi hatinya karena itu sudah ia berikan lebih dulu sebelum aku dan dia saling sapa.

Dengan kerelaan diiringi segores di relung hati, sadar diriku menjauhinya. Kata-kata indah dan kesan bermakna itu sudah tidak ada lagi. Bahkan kata-kata "sayang" yang pernah telontar rasanya hanya sebagai guyonan orang yang tak mengerti apa arti kasih dan sayang. Boro-boro cinta! Yang tersisa darinya hanyalah SMS sebanyak 2 unit berbahasa Inggris yang sarat makna dan kata-kata puitis sederhana. Isi pesan yan menyiratkan penyesalannya terhadapku. Isi pesan yang ironik, namun indah terdengar, bagai rangkaian bunga mawar yang menyelimuti dengan dedurinya.

Hampir 7 bulan sejak aku tersadar bahwa ia hanyalah sekuntum bunga di taman milik orang lain. Dan aku tak mau lagi berharap dua kedekatan yang dulu datang lagi. Aku tak berharap bertemu ia lagi tak lama lagi. Tapi kalau "jodoh", ya mau diapakan lagi? Toh aku sudah punya persiapan kalau-kalau goyah dan hampir terjatuh.

Satu yang pasti, pancaran sinar di wajahnya --walau kadang menyakitkan melihatnya-- mampu membuatku tersenyum. Senyum manisnya yang itu-itu saja membuatku bersyukur bahwa aku tidak mendendam padanya. Memang salahku, terlalu berbaik hati membukakan pintu dan membiarkan ia masuk tanpa menutup terlebih dahulu pintu yang sebelumnya ia masuki. Aku hanya bisa bilang, kalau kecantikannya tak'kan pernah bisa ditampik dan ditolak. Matanya yang melengkung bagai sepasang bulan sabit, dan bibirnya yang menyerupai gelombang di laut tenang.

Ia hanya sebatas kenangan. Seperti sebuah nama yang diukir di pepasir sisi pantai. Segera terhapus begitu ombak kecil datang menyapunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILUSTRATOR, KARTUNIS, STORIBORDIS, DAN KOMIKUS ADALAH PROFESI YANG BERBEDA; TINJAUAN KOMIK DI DALAM MEDIA (part 1 of 2)

Komik Juki&Friends: Persahabatan di Negeri Cermin

Aku diam, bukan tak peduli